<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612</id><updated>2012-02-16T01:02:03.609-08:00</updated><category term='Romansa'/><category term='Bilikpena'/><category term='Kamaresai'/><category term='Rumahkisah'/><category term='Tapakjejak'/><category term='Jendeladunia'/><category term='Terasartikel'/><category term='Berandawarta'/><category term='Ruanghalimun'/><title type='text'>enigma</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>174</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-4146889430987364605</id><published>2012-01-04T22:43:00.001-08:00</published><updated>2012-01-04T22:55:58.128-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terasartikel'/><title type='text'>Bahasa Indonesia Potensial Mendunia</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;BAHASA Indonesia kini sedang terangkat ke dalam diskursus (politik) internasional. Wacana menjadikan bahasa Indonesia sebagai "Bahasa ASEAN" mendapat tanggapan positif dari banyak kalangan. Muncul ekspektasi lebih tinggi, bahasa Indonesia potensial mendunia, bahkan menjadi bahasa internasional.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pemerintah Indonesia tampak mulai mengampanyekan bahasa Indonesia di forum-forum internasional. Pada pertemuan puncak para pemimpin Asia Tenggara di forum KTT ASEAN Ke-19 di Nusa Dua Bali (17/11/2011), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato dalam bahasa Indonesia. Sebelumnya, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Purnomo, juga berpidato dalam bahasa Indonesia di forum pertemuan badan pemeriksa keuangan se-ASEAN (16/11/2011). Purnomo menyatakan, tahun 2015 mendatang ASEAN akan menjadi komunitas bersama, yakni Komunitas ASEAN (antaranews.com).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Penanda Kultural&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penegasan tentang Komunitas ASEAN tersebut patut digarisbawahi. Dalam diskursus politik multilateral, Komunitas ASEAN merupakan gagasan "komunitas politik" yang dicitakan mengatasi kepentingan bangsa-bangsa di Asia Tenggara.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bennedict Anderson (2001) menyebut komunitas politik sebagai sekelompok masyarakat yang hidup bersama berdasarkan sistem nilai tertentu di bawah pimpinan suatu pemerintahan. Sistem nilai di dalam komunitas politik berperan membentuk identitas kolektif, serta menciptakan solidaritas antaranggotanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memang, gagasan komunitas politik ala Anderson tersebut adalah landasan pemikirannya dalam mendefinisikan bangsa. Tetapi, pemahaman komunitas politik semacam itu cukup memungkinkan dilebarkan untuk mendefinisikan hubungan antarbangsa yang telah mengalami keintiman dan solidaritas kolektif.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di dalam komunitas politik, bahasa merupakan salah satu elemen sistem nilai, yakni simbol yang memaknakan kolektivitas. Bahasa maujud sebagai unsur simbolik yang merekam keragaman di dalam keseragaman. Bahasa sekaligus membentuk identitas kolektif yang khas, sekurang-kurangnya di arena komunikasi. Lebih dari itu, dalam konteks hubungan antarbangsa, bahasa bukan sekadar agen politik untuk menegosiasikan kepentingan, tetapi sekaligus menjadi penanda kultural.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mekarnya diskursus ini menjadi momentum tepat bagi bangsa Indonesia untuk "mengoreksi" Bahasa Indonesia. Sebab, eksistensi Bahasa Indonesia di arena komunikasi keseharian diliputi pelbagai masalah dan belum tertuntaskan hingga hari ini. Mulai dari penyerapan bahasa asing yang seolah tanpa kontrol dan jor-joran, "penyelewengan" --pemakaian standar yang berbeda-- bahasa di dunia jurnalisme, hingga kontaminasi bahasa alay yang memendarkan sinyal bahaya bagi konvensi bahasa Indonesia di masa datang, dan sebagainya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tepat saatnya untuk menginsafkan masyarakat mengenai pentingnya mencintai bahasa Indonesia. Di tengah demam bahasa asing--yang dianggap lebih bermartabat dan beradab, sementara bahasa milik sendiri dianggap lugu sehingga dikesampingkan--, propaganda bahasa Indonesia di kalangan anak bangsa sangat mendesak dilakukan. Kepercayaan diri anak bangsa perlu dibangun bahwa bahasa Melayu-Indonesia saat ini sudah akrab di negara-negara lain, bahkan digunakan di banyak negara, seperti Timor Leste, Singapura, Malaysia, Thailad, dan Brunei Darussalam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Peran Sastra&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berthold Damshauser, Kepala Program Studi Bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, menulis esai menarik bertajuk Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Dunia (Majalah Tempo edisi 37/40, 14/11/2011). Damshauser melaporkan sebuah diskusi di dalam perkuliahan bahasa Indonesia yang diampunya, tentang potensi besar bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia. Respons pesimistis mencuat di kalangan mahasiswa ketika ia melontarkan wacana tersebut. Salah satu pesimisme yang memandang sempitnya peluang bahasa Indonesia adalah latar belakang sejarah bangsa Indonesia yang tidak pernah menjadi negara imperialis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak bisa dimungkiri, banyak kalangan menilai kolonialisme-imperialisme menjadi faktor penting suatu bahasa mendunia dan menjadi bahasa internasional. Pandangan tersebut didasarkan fakta sejarah bahwa negara-negara adikuasa seperti Jerman, Jepang, Prancis, dan Inggris, melakukan penyerangan ke berbagai negara hingga kurun Perang Dunia II berakhir. Kekuatan politik (perang) menjamin terjadinya penyebaran bahasa-bahasa asing ke pelbagai negara jajahan sehingga digunakan sebagai lingua franca atau bahasa keseharian.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Faktor kolonialisme-imperialisme bukan alasan mutlak bagaimana suatu bahasa bisa mendunia. Kita bisa menilik kasus Inggris yang mulai menempati posisi minor di dalam hubungan politik internasional. Seperti dicatat buku Menelanjangi Kuasa Bahasa: Teori dan Praktik Sastra Poskolonial (Bill Ashcroft, dkk, 2003), saat itu Inggris dan kekuatan imperial Eropa lainnya telah digantikan oleh Amerika dan Uni Soviet. Tetapi Inggris tetap bisa mempertahankan dominasi kulturalnya, termasuk bahasa, melalui norma-norma kesusasteraan yang menempatkan teks-teks Ingris sebagai standar citarasa dan nilai.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bukan mustahil bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional dan mendunia sejauh penggunaannya di kancah global semakin intens, misal di dalam proses diplomasi politik atau komunikasi perdagangan. Di luar kerja politik-ekonomi itu, peran sastra tidak bisa dipandang sebelah mata bagi proses penetrasi sekaligus pemekaran daya kultural suatu bangsa di kancah global, di samping kemajuan sains di mana temuan-temuan baru anak bangsa dirilis dengan bahasa Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karya-karya sastra yang lahir dalam bahasa Indonesia sangat potensial mengajukan keunggulan bahasa Indonesia. Tentu karya sastra yang bermutu tinggi dengan pencapaian estetika yang dapat mengisap ketertarikan masyarakat luar negeri. Walhasil, mimpi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional bukan sekadar gagasan politik, melainkan juga proyek kebudayaan menuju Indonesia yang lebih berdikari dan bermartabat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*&lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;, peneliti di Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LeKAS), Semarang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-4146889430987364605?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/4146889430987364605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=4146889430987364605' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4146889430987364605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4146889430987364605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2012/01/bahasa-indonesia-potensial-mendunia.html' title='Bahasa Indonesia Potensial Mendunia'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-4046583945862260792</id><published>2011-10-20T01:22:00.000-07:00</published><updated>2011-10-20T01:22:59.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terasartikel'/><title type='text'>"Sindrom Midas" Gerogoti Indonesia</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white;"&gt;Oleh &lt;b&gt;Musyafak&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white;"&gt;&lt;div&gt;(Harian Analisa, 20 Oktober 2011)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Alkisah, Raja Midas bertahta di suatu wilayah pedalaman Anatolia, Asia Kecil. Ia dikenal sebagai penguasa rakus yang doyan menumpuk harta untuk kekayaan pribadi dan keluarganya. Watak serakah mendorongnya datang kepada Dewa Dionysus, meminta mantra bertuah agar setiap barang yang disentuh tangannya berubah jadi emas. Berhasillah ia memiliki tangan ajaib, saban tangannya menyentuh pepohonan di taman, air sungai, pagar, segala benda tersebut berubah wujud jadi emas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bangunan dan perabotan istana pun disulapnya menjadi emas hanya dengan sentuhan, rabaan dan pelukan. Setelah puas melihat istana dan segala benda kepunyaannya yang emas itu, ia lapar dan haus. Tiba baginya waktu makan siang, tapi ia tak bisa makan dan minum karena segala benda membeku oleh sentuhan tangannya. Saat itulah ia mulai mendapat kutukan lantaran keajaiban tangannya sendiri. Bahkan ketika ia memeluk istri dan anak-anaknya, mereka semuanya berubah menjadi patung emas. Akhirnya ia gila, tak seorang pun mau mendekatinya sebab takut terkena sentuhan tangannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Legenda Raja Midas yang berakhir tragis itu saya sitir dari buku Tragedi Raja Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme (Komaruddin Hidayat, 1998). Dongeng itu merupakan legenda Yunani Kuno yang kini masih akrab diceritakan oleh orang tua kepada anak-anak masyarakat Anatolia, daerah Ankara, Turki.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dongeng, baik legenda maupun mitos, mengamanatkan sebuah pesan dan nilai tertentu. Dalam perspektif strukturalisme Claude Lévi-Strauss (1908-2009), dongeng atau mitos bukan sekedar cerita, melainkan cerminan pola pikir masyarakat dimana dongeng dan mitos itu berkembang. Dongeng atau mitos dipandang sebagai kisah atau cerita yang terbentuk dari imajinasi manusia, meski unsur-unsur imajinasi itu bertolak dari kenyataan hidup sehari-hari (Heddy Shri Ahimsa Putra: 2006).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Bahaya Kerakusan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white;"&gt;Dalam konteks antropologis, legenda Raja Midas diciptakan oleh masyarakat untuk mengelola imajinasi kolektif, mengarahkan moralitas kolektif pada nilai-nilai atau keutamaan yang dipesankannya. Legenda itu merupakan wacana simbolis yang memperingatkan bahaya sifat rakus manusia. Simbolisme yang mengacungkan tanda seru bagi manusia tentang larangan bertamak-serakah pada harta. Lebih spesifik, kisah ini adalah kritik bagi pemimpin atau penguasa yang rakus pada harta dan kekayaan. Seperti Midas, kekayaan itu hanya akan membuat pemimpin menjauh dan terasing dengan rakyatnya.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun, jamak manusia kini justru mengidap "sindrom Midas", dalam arti kompleks hasrat diri yang rakus pada harta kekayaan. Manusia terperangkap dalam obsesi berkepanjangan pada materi duniawi. Payahnya, ihwal menuruti ambisi kekayaan tak jarang dilakukan dengan cara tidak benar. Mengambil yang bukan hak, merampas hak orang lain dan menyalahgunakan amanat orang jamak, seolah menjadi tren manusia untuk menguasai kekayaan. Puja harta atau kelimpahan material itu adalah bagian sikap diri yang memutlakkan tujuan duniawi, sekaligus menunggalkan kekayaan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ragam keinginan telah mengolah tubuh manusia menjadi mesin hasrat yang selalu menuntut untuk dipenuhi. Tegangan hasrat yang mengolah diri menjadi rakus menandakan kepatuhan manusia pada ego fisikal-meminjam istilah Hazrat Inayat Khan dalam The Heart of Sufism (2002). Secara primitif ego fisikal yang dihidupi oleh kepuasan selera badani sangat mendominasi kesadaran manusia. Hajat makan-minum dan tidur, misalnya, adalah pemuasan selera sementara yang sangat bergantung pada tubuh. Pencapaian suatu pemuasan selera akan menciptakan selera lebih lanjut, dan saban pengalaman pada kepuasan selera pun selalu melahirkan hasrat untuk lebih memuaskannya. Kerakusan sebagai bentuk kepatuhan pada ego fisikal sangat sulit dihentikan. Kerakusan ibarat meminum air laut yang justru menjadikan seseorang lebih haus.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada kerakusan, kebakhilan pun menemukan tempatnya. Kebakhilan dirayakan dengan cara melebarkan akses bagi diri sendiri untuk mencapai kekayaan, seraya menyempitkan bahkan menutup jalan bagi orang lain. Karenanya bahaya keduanya akan menyasar pada kepicikan. Akankah kita biarkan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Menyelamatkan Bangsa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white;"&gt;Di ranah kekuasaan, kerakusan itu berkelindan menjelma laku korupsi. Makna kekuasaan tereduksi sekadar jalan untuk menubuhkan kehendak pribadi. Padahal, sesungguhnya kekuasaan memangku masa depan jamak orang, selibat dengan pemenuhan cita-cita publik. Korupsi mengelokkan amanat kekuasaan menjadi peluang untuk memenangkan kehendak pribadi di atas kepentingan khalayak, membengkokkan sistem kekuasaan (pemerintahan) yang seharusnya mewujudkan kedaulatan dan kesejahteraan rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Indonesia kini terkepung di dalam labirin korupsi yang seolah tanpa ujung. Jamak elite-penguasa mengidap "Sindrom Midas", memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri. Tangan Midas adalah simbolisme kekuasaan yang di setiap kesempatan hendak mengubah segala benda menjadi emas. Elite-penguasa kini memang tidak memiliki tangan ajaib seperti Midas, tetapi kekuasaan yang digenggamnya jamak dijadikan cara untuk menumpuk uang dengan jalan tidak bersih. Kepungan "Sindrom Midas" telah menggerogoti bangsa Indonesia sekaligus mengancam masa depannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pelbagai kasus korupsi dan dugaan penyelewengan uang negara memberi bukti kongkret. Dugaan korupsi di awak Kemenakertrans, korupsi pembangunan Wisma Atlet Sea Games Palembang, serta kasus-kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah yang belakangan hari menyesaki media. Belum lagi aliran kasus suap pemilihan gubernur BI dan kasus Century yang belum jelas hasil pengusutannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Rakyat masih senantiasa merajut harapan, serta membayangkan masa depan bangsa. Karena itu ikhtiar penyelamatan Indonesia dari kepungan korupsi perlu dilakukan secara sungguh-sungguh. Pemberantasan korupsi bukan semata-mata karena ia bertentangan dengan prinsip negara hukum. Terlebih karena korupsi, yang merupakan kepanjangan dari kerakusan dan kebakhilan, adalah perilaku menyimpang dari keutamaan: tidak baik dan keliru. Begitu, manusia Indonesia perlu diselamatkan!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Musyafak, peneliti di Lembagai Kajian Agama dan Sosial (LeKAS) Semarang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-4046583945862260792?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/4046583945862260792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=4046583945862260792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4046583945862260792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4046583945862260792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/10/sindrom-midas-gerogoti-indonesia.html' title='&quot;Sindrom Midas&quot; Gerogoti Indonesia'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-4546061710032980564</id><published>2011-10-15T16:00:00.000-07:00</published><updated>2011-10-15T16:00:57.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Narasi Peradaban dalam Sejarah Minuman</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-LQTYoqDNPtY/TpoQT1gTicI/AAAAAAAAAfA/e0Sx9qkl0Oo/s1600/The+Art+of+Drinking.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-LQTYoqDNPtY/TpoQT1gTicI/AAAAAAAAAfA/e0Sx9qkl0Oo/s320/The+Art+of+Drinking.jpg" width="199" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6pt; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;(Suara Merdeka, 16 Oktober 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6pt; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6pt; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: The Art of Drinking: Sejarah Minuman dan Keberminuman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: Sumirat Lohjati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: Immortal Publisher, Yogyakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Cetak&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: I, 2011&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: 144 hlm&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: 978-602-98493-3-2&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tubuh manusia ibarat gurun yang menghimpun sejarah panjang tentang kekeringan. Sebagiannya adalah rasa haus yang selalu menuntut untuk dibasuh. Tuhan pun mencipta air untuk mengatasi obsesi manusia atas kondisi yang basah itu. Demikian lakon minum bermula sebagai pekerjaan rutin manusia dalam melawan dahaga, panas dan kelesuan. Minum menjadi kerja yang rasional untuk melawan kematian, bahkan kepunahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mulanya minum memang semata aktifitas ketubuhan biasa. Seiring pengalaman dan perkembangan hidup manusia, minum pun menjadi perkara pelik. Evolusi peradaban manusia, dalam konteks terbatas, sejak zaman bahuela hingga modern, dapat ditilik dalam lakon minum. Apa yang diminum dan bagaimana cara minum seseorang menetukan keadabannya. Pun, di dalam suatu komunitas, budaya minum mengisbatkan suatu identitas kolektif sekaligus peradabannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sejarah Minuman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Minum merupakan pekerjaan tubuh yang sangat tua, setua eksistensi manusia di bumi. Menelusuri sejarah minuman atau keberminuman manusia seolah upaya sia-sia. Apa dipasal, jejak keberminuman manusia sejak zaman purba tak ternarasikan dalam detail sejarah. Namun, dengan segala keterbatasan berikut kemungkinannya, buku &lt;i&gt;The Art of Drinking&lt;/i&gt; ini cukup menarik dalam mendedahkan perkara minuman dan keberminuman manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mulanya manusia tidak meminum apapun kecuali air mineral yang didapatkannya dari alam. Mata air dan sungai menjadi sumber minuman yang tidak bisa dilepaskan dalam sejarah kehidupan manusia purba. Penemuan api oleh manusia menjadi momentum revolusioner yang mengubah tata keadaban manusia. Apa yang diminum dan cara minum manusia pun berubah. Penciptaan perabotan dari zaman batu ke zaman logam juga memengaruhi evolusi cara minum manusia. Penciptaan gelas menjadi penanda evolusi budaya minum manusia yang tak terus bergerak dan berubah. Selera minuman manusia pun terbentuk seiring eksperimentasinya terhadap bahan-bahan alam yang dijadikannya minuman. Manusia saat itu mulai menyadari potensi hewan sebagai sumber minuman, atau daun-daunan dan buah-buahan sebagai bahan ramuan minuman. Sehingga ditemukannya teh, kopi, anggur, susu, dan sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Penemuan minuman serta cara minum baru lantas menggeser pandangan manusia terhadap minuman. Minum tidak lagi sekadar memenuhi hajat tubuh untuk sekadar memadamkan rasa haus. Tetapi minum telah menjadi lakon mengejar kenikmatan. Kerja minum semakin bergairah dengan penemuan ragam bentuk dan rasa minuman-minuman baru. Penemuan-penemuan baru juga berperan dalam mengolah hasrat manusia atas minum. Seperti kita lihat kini, masyarakat kota, misalnya, rela menggelontorkan banyak uang untuk sekadar minum kopi di bar, pub, atau kafe. Manusia acap terjebak pada sikap fanatik terhadap minuman yang sesuai cita seleranya. Sehingga minuman tak jarang menjadi sarana memakemkan citra atau identitas diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Potret Sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dalam bingkai sosiologis, minuman menjadi piranti&lt;i&gt; &lt;/i&gt;vital dalam interaksi di semua belahan masyarakat. Realitas minuman diurus secara serius hingga menjadi simbol keakraban, keluwesan, dan keharmonisan. Orang Jawa mengenal &lt;i&gt;wedang, &lt;/i&gt;yaitu minuman hangat sejenis teh, jahe atau kopi. Ketika orang Jawa kedatangan tamu, yang pertama-tama disuguhkan adalah &lt;i&gt;wedang&lt;/i&gt;. Konon, istilah &lt;i&gt;wedang&lt;/i&gt; merupakan akronim dari &lt;i&gt;ngawe kadhang&lt;/i&gt; (memanggil saudara) atau &lt;i&gt;nggawe kadhang&lt;/i&gt; (membuat persaudaraan). &lt;i&gt;Wedang&lt;/i&gt; yang disuguhkan beserta cara menghaturkannya, seperti ujaran menyilakan atau acungan jempol tangan kanan, merupakan faal memartabatkan tamu sekaligus menunjukkan keadaban si tuan rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Di Eropa, minuman beralkohol ibarat pelumas sosial. Anggur serta ragam jenisnya dipandang sebagai minuman bergengsi dan beradab. Anggur atau alkohol tidak dapat luput dari perayaan semacam pesta maupun pertemuan-pertemuan sosialitas yang penting maupun perkumpulan biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sementara di Cina atau Jepang, terdapat beberapa upacara minum yang khas, unik, dan bahkan memuat narasi hidup yang kaya makna. Upacara minum teh ala &lt;i&gt;Wu Wo&lt;/i&gt; khas Cina, misalnya, digelar setelah upacara pernikahan. Di sini saling menyuguhkan dan menikmati minuman. Tempat duduk disusun acak sehingga tak seorangpun tahu siapa yang akan memberi dan menerima persembahan minuman. Upacara ini mengajarkan pesan-pesan kehidupan, di antaranya, menihilkan jarak tingkatan sosial, tidak membedakan sekte atau wilayah, tidak berpamrih imbalan apapun, membuka pikiran, dan mempererat kerja sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Walhasil minuman menjadi potret sosial yang menghadirkan representasi masyarakat tertentu berdasarkan adat dan budayanya. Minuman menjadi penanda identitas kolektif. Namun, adab minum juga menuai tragis yang tidak sedikit. Di masyarakat Indonesia acapkali orang tewas “tertelan” arak atau minuman oplosan. Tak beda tragis kecelakaan lalu lintas di Amerika 40% didominasi oleh dorongan alkohol. Begitu, minuman hadir dalam kehidupan kita sebagai kebutuhan sekaligus rayuan. Kerja minum menyangkut narasi kearifan diri: bagaimana manusia melakukan kontrol diri untuk mengimbangkan kebutuhan dan hasratnya. (&lt;b&gt;Musyafak)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-4546061710032980564?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/4546061710032980564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=4546061710032980564' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4546061710032980564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4546061710032980564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/10/narasi-peradaban-dalam-sejarah-minuman.html' title='Narasi Peradaban dalam Sejarah Minuman'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LQTYoqDNPtY/TpoQT1gTicI/AAAAAAAAAfA/e0Sx9qkl0Oo/s72-c/The+Art+of+Drinking.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-5325413514294070506</id><published>2011-10-14T02:28:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T02:35:37.891-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Kesalehan Haji dan Komitmen Sosial</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Oleh&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #555555; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;(Jurnal Nasional, 14 Oktober 2011)&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #555555;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #555555;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #555555; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;HAJI adalah gerak rohani muslim dalam rangka mengukuhkan iman dan meneguhkannya. Haji menjadi obsesi religius yang mencitakan kepenuhan spiritualitas. Niat berhaji bertolak dari keinginan menyempurnakan ketundukan diri di hadapan Tuhan. Ritual haji tak lain gerak diri memenuhi seruan Ilahi: panggilan yang menyediakan arah mendekati-Nya seintim mungkin.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #555555;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Kajian teologis atas ritual-ritual dan simbol-simbol haji dipapar Ali Syariati dalam buku&amp;nbsp;&lt;em&gt;Makna Haji&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(2010). Syariati menegaskan perlunya mempelajari tujuan dan makna haji dalam konteks individu maupun kolektif--kesadaran untuk memerikan nasib umat muslim dan pentingnya persatuan. Seorang yang usai melakukan haji dari Tanah Suci diharap mampu mengajar kaumnya ketika kembali, juga menjadi suluh apabila masyarakatnya diliputi kegelapan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;strong&gt;Simbolisasi Haji&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Pernik ritual dalam haji merupakan rangkaian simbolik yang mengisahkan perjalanan diri manusia.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ihram&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;&lt;em&gt;wukuf&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;&lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;&lt;em&gt;sa'i&lt;/em&gt;, misalnya, bukan sekadar kerja tubuh atau perayaan fisik, tetapi menyelubungkan makna-makna eksistensial yang mesti ditemuhayati oleh sang pelaku haji.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;em&gt;Ihram&lt;/em&gt;&amp;nbsp;dengan pakaian warna polos adalah simbolisasi manusia yang mengalami kelahiran baru. Kelahiran mendamparkan manusia pada situasi asing. Ketika inilah ikhtiar mengidentifikasi dan membangun identitas diri bermula. Sebagaimana fenomena biologis, kelahiran adalah ketelanjangan, dalam arti pengakuan akan segala dosa yang membuat manusia malu pada Tuhan hingga menggerakkan diri untuk memohon ampun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;em&gt;Wukuf&lt;/em&gt;&amp;nbsp;atau berdiam di Arafah adalah fase “jeda". Tinggal sementara di Arafah pada 9 Zulhijjah bisa dimaknakan sebagai fragmen “penundaan", jeda untuk merefleksikan ke mana arah perjalanan selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Arafah menyediakan limpahan jejak historisitas manusia yang berada dalam tegangan dosa, penyesalan dan harapan yang perlu diziarahi sebagai bahan pengingatan. Arafah menandai gerak kesadaran sekaligus pengetahuan manusia rasional pertama, Adam AS, dalam menghayati diri-alam-Tuhan. Kejatuhan Adam dari surga ke bumi akibat memakan “buah terlarang" adalah fase penghukuman yang justru mengantarkan manusia pada kemerdekaan dan tanggung jawab. Status Adam sebagai “manusia yang jatuh" (dari surga ke bumi) pada akhirnya mengalami reposisi radikal hingga Adam justru mengemban kedudukan sebagai “khalifah" di bumi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;em&gt;Thawaf&lt;/em&gt;&amp;nbsp;adalah gerak diri mendekati Yang Pusat, Yang Ilahi. Gerakan itu bukannya lurus atau linier, tetapi gerak melingkar yang tidak membataskan perjalanan pada suatu ujung, apalagi titik akhir. Karena itulah Syariati (2010: 95) memandang haji sebagai gerakan ke arah suatu sasaran yang mutlak. Gerakan ini tidak berpamrih “ke dalam", melainkan gerakan “ke arah". Gerak ini tidak memosisikan Allah sebagai “tujuan", tetapi “arah". “Arah" mengatasi sesuatu yang bersifat temporer, berubah, musnah dan mati. Karena haji adalah gerak abadi yang arahnya senantiasa kepada Ilahi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;em&gt;Thawaf&lt;/em&gt;&amp;nbsp;sekaligus gerak subyek “aku" dalam proses peleburan diri dengan kelimunan manusia ramai nan plural. Masing-masing “aku" meruntuhkan totalitas subyektifnya, meniadakan sekaligus menindak pada dirinya sendiri. Peleburan ini sekaligus menjadi titik tolak keinsyafan bahwa manusia tidak memiliki totalitas eksistensial yang mutlak ketika berhadapan dengan Tuhan, karena totalitas mutlak hanyalah Tuhan itu sendiri. Peleburan dalam&amp;nbsp;&lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt;&amp;nbsp;adalah laku menegaskan kehadiran “yang lain"&amp;nbsp;&lt;em&gt;(the others)&lt;/em&gt;&amp;nbsp;sehingga mewujud entitas tunggal bernama umat manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Di pusaran Ka'bah itulah umat manusia&amp;nbsp;&lt;em&gt;(kawula)&lt;/em&gt;&amp;nbsp;bergerak manunggal ke arah Tuhan (Gusti). Terjadilah&amp;nbsp;&lt;em&gt;itihad&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(persatuan) yang mulanya bertolak dari sisi teologis, lantas bergerak ke sisi antropologis yang menginsyafkan antarsubyek dan antarindividu agar peduli pada nasib keseluruhan umat manusia. Simbolisasi haji yang maknanya melimpah juga dapat ditemui dalam&amp;nbsp;&lt;em&gt;sa'i&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;&lt;em&gt;tahallul&lt;/em&gt;, lempar jumrah, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;strong&gt;Komitmen Sosial&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Haji mabrur menjadi obsesi menggairahkan di kalangan orang-orang yang melakoni haji. Tema tersebut umum dimafhumi sebagai haji yang diterima Allah, atau haji yang dijanjikan balasan surga. Pemahaman ini sebatas mengambangkan makna haji pada ranah kesalehan individual, mengidamkan haji sebagai perjalanan penyerahan diri kepada Tuhan, sehingga kelak niscaya mendapat balasan kebaikan dari-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Karenanya, perlu pelacakan semantis untuk memahami konsepsi haji mabrur di ranah sosial. Kata mabrur berakar dari kata (Arab)&amp;nbsp;&lt;em&gt;barra&lt;/em&gt;, yang artinya baik atau patuh. Sedangkan mabrur berarti mendapatkan kebaikan atau menjadi baik. Sehingga, mabrur adalah haji yang menggerakkan orang yang setelah menjalani haji kemudian menjadi baik. Menjadi baik, di tataran aksiologis, terejawantah dengan melakukan kebaikan-kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Kaitannya dengan nilai-nilai humanitas, haji mabrur bisa ditakar sejauh mana peningkatan komitmen sosial seseorang sepulang berhaji (Nurcholis Madjid, 2000: 61-64). Haji mabrur terindikasi dari menguatnya rasa tanggap diri terhadap pelbagai realitas di masyarakat, di mana ketimpangan sosial mesti diluruskan dengan jalan kedermawanan, baik melalui pikiran, tubuh, maupun harta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Peran sosial para haji di Indonesia dapat ditilik ketika masa kolonial Belanda bercokol di Nusantara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Misal pada abad ke-19, Haji Abdul Karim, Haji Marjuki, Kiai Haji Tubagus Ismail dan Haji Wasid menjadi otak dari Pemberontakan Cilegon (1888). Mereka merencanakan, mematangkan dan memimpin pemberontakan kepada Belanda yang dinilai kafir sehingga tidak sah memerintah masyarakat pribumi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Pada tahun 1932, tercatat perlawanan para haji yang dipelopori Haji Karim Amrullah atau Haji Rasul terhadap kebijakan ordonansi sekolah liar yang dicetuskan Belanda, yakni peraturan pengawasan terhadap sekolah swasta yang secara implisit bertujuan mengawasi guru agama, termasuk guru mengaji dan mubalig.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;Peran haji saat ini perlu disasarkan pada problematika masyarakat terkini. Spirit haji laiknya menguatkan komitmen kebangsaan yang berikhtiar melawan kebatilan, seperti korupsi dan banalitas kekuasaan di kalangan elite politik. Kian banyaknya orang haji di Indonesia sedianya memantik transformasi sosial guna mengawal zaman yang benderang. Kurang faedah jika haji sebatas mengejar pahala atau surga, apalagi sarana pencitraan semata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;Peneliti di Lembaga Kajian Agama dan Sosial (Lekas), Semarang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-5325413514294070506?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/5325413514294070506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=5325413514294070506' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/5325413514294070506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/5325413514294070506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/10/kesalehan-haji-dan-komitmen-sosial.html' title='Kesalehan Haji dan Komitmen Sosial'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-7356697783025191375</id><published>2011-10-13T11:13:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T02:37:34.363-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Melongok Obsesi Religius “Pertobatan Parmin”</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;(Disajikan dalam Launching Buku &lt;i&gt;Pertobatan Parmin&lt;/i&gt; karya Rifan Fajrin, 13 Oktober 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-OzwpkfOBqV4/Tpcp-DM2uII/AAAAAAAAAe4/_cJTYk_EE8c/s1600/pertobatan+parmin.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="155" src="http://3.bp.blogspot.com/-OzwpkfOBqV4/Tpcp-DM2uII/AAAAAAAAAe4/_cJTYk_EE8c/s400/pertobatan+parmin.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Saban kelahiran adalah ketelanjangan. Pada ketelanjangan, ada rasa malu yang minta ditutupi. Namun, ketelanjangan yang sekonyong-konyong hadir ketika &amp;nbsp;sesuatu lahir, adalah sekaligus membeberkan bentuk diri yang asali dan primitif. Ketelanjangan semacam itu bisa kita mafhumi sebagai modus pertama untuk menunjukkan eksistensi diri: kepolosan dan kesahajaan. Lantas, pada tiap kelahiran, masing-masing kita menaruh pelbagai harapan, misal pertumbuhkembangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pun begitu, suatu karya sastra lahir memamerkan bentuk dan isinya di hadirat publik. Setengah telanjang atau sepenuhnya—yang meminta ditelanjangi berulang. Sebab, pada karya sastra, selalu ada hal-ihwal yang terselubung, baik makna maupun “kemungkinan lain” dari narasi yang barangkali terus berkembang ketika kita berpayah membaca dan memikirkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Karenanya, kelahiran karya sastra bukan sesuatu yang sederhana. Ia berada dalam jalinan struktur yang kompleks, sejak proses penciptaan hingga karya itu bermuka-muka dengan pembaca. Sebagaimana dinyatakan H M Abrams, pada dasarnya karya sastra menampilkan empat sisi: pengarang, masyarakat, teks dan pembaca. Selain itu, seperti pandangan Kuntowijoyo, karya sastra merupakan produk dari strukturisasi pengalaman, imajinasi dan nilai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kehadiran buku kumpulan cerpen &lt;i&gt;Pertobatan Parmin&lt;/i&gt; anggitan M Rifan Fajrin patut dirayakan. Jika pengarang sudah merayakan karya itu pada tataran penciptaan,&amp;nbsp; kita sebagai pembaca laik merayakannya dengan kerja membaca maupun “menyikapi” teks. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;i&gt;Pertobatan Parmin&lt;/i&gt;, sejak dari judulnya, mewartakan aspek religiusitas. “Pertobatan” menjadi lema yang merujuk pada gerak spiritualitas, gerak jiwa dari kegelapan menuju kebenderangan. Dan “Parmin” membetikkan kabar tentang subyek yang eksis di sebuah latar-ruang nonurban, dunia desa, yang bersahaja dengan segala kompleksitas problematiknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tentunya, rajutan kisah di dalamnya adalah hasil dari kerja strukturisasi pengalaman, imajinasi, dan nilai. Meski, telisik lebih jauh ke cerpen-cerpen di dalamnya, nuansanya cukup kentara sebagai model strukturisasi pengalaman dan nilai yang diolah secara imajinatif. Pengalaman, di sini, tidak melulu laku hidup penulis sendiri, tetapi juga hal-ihwal yang dialami atau ditemui orang lain, yang lantas dicerap dan dihayati sang pengarang dengan kepenuhan kesadaran serta pandangan dunia (&lt;i&gt;world view&lt;/i&gt;). Sementara, imajinasi itu sendiri seolah tergeming di tengah gairah kecerewetan menyajikan pengalaman dan nilai sebagai realitas fiksional yang diusung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Religiusitas, berikut nilai-nilai moral yang berabstraksi di dalam interaksi sosial masyarakat, jika itu pantas disebut sebagai obsesi sadar sang pengarang, dapat ditilik di dalam cerpen “Kakek Ali”, “Ikatan Hati”, “Selembar Uang Seribu Rupiah”, “Menyadarkan Pencuri”, dan “Pertobatan Parmin”. “Pertobatan Parmin”, misalnya, mengisahkan sosok Parmin yang berikhtiar &lt;i&gt;mentas&lt;/i&gt; dari dunia kelam sebagai tukang palak, preman, hobi mabuk dan main perempuan. Kisah ini lebih memusatkan narasi di aras ketegangan sosial setelah Parmin menjalani pertobatan, ketimbang menyuarakan kegentingan spiritualnya. Di sana, terpapar suatu pradoks pertobatan manusia yang ternyata menuai olok-olok dari sesamanya. Begitulah pada akhirnya Parmin kembali pada jalan kegelapan sebab agama tak bisa menjamin kehidupan yang menenteramkan. Bahkan, ironisnya, orang-orang beragama di sekitar Parmin malah bersikap skeptis-pesimistis terhadap perubahan radikal yang dilakukannya. Di balik penyajian struktur narasi yang sederhana, yakni strategi pengaluran maju nan linier, paling kurang, cerpen tersebut melakukan kritik terhadap laku beragama manusia yang senantiasa gentar memandang perubahan ataupun pencapaian orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Cerpen “Selembar Uang Seribu Rupiah” juga membeberkan suatu ironi. Kemiskinan, sebagai problem sosial, dilarung ke dalam narasi yang menghadap-hadapkan antara manusia dengan Tuhannya. Alkisah, tokoh Saya adalah seorang mahasiswa &lt;i&gt;kere&lt;/i&gt;. &amp;nbsp;Di kontrakannya, ia hanya memiliki selembar uang seribu rupiah, yang mustahil bisa menebus laparnya. Situasi kian dilematis, bahkan kontradiktif, ketika si tokoh didatangi seorang pengemis perempuan yang menggendong bocah, menghiba padanya. Ibarat lilin yang menerangi sekeliling namun membakar diri sendiri, si tokoh memberikan selembar uang miliknya, dan satu-satunya itu. Cerpen ini diakhiri dengan logika interogatif si tokoh terhadap kuasa Tuhan, &lt;i&gt;“Ya Allah, bagaimana engkau memberi balasan terhadap seseorang yang telah mengorbankan dirinya sendiri untuk menyenangkan hati seorang Ibu dan anaknya yang kelaparan?”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Diusut lebih dalam, cerpen tersebut mencerminkan suatu laku kedermawanan manusia yang ambigu. Sedekah seolah musti “digemborkan” pada Tuhan agar berbalas imbalan. Kuasa Tuhan, di sini, dijatuhkan pada logika kausalitas yang matematis: kalau saya memberi maka Ia membalas. Begitu, memang, nalar keberagamaan yang menyekap kesadaran manusia yang secara tak sadar memosisikan Tuhan dalam relasi ekonomistik-materialistik. Pun, ketika mencermati ujaran si tokoh, yakni pengorbanan diri demi menyenangkan orang lain, menandakan perbuatan kedermawanan itu merupakan ejawantahan dari logika utilitarianisme yang mendasarkan segala perbuatan baik pada prinsip-prinsip fungsional atau keberfaedahan. Kedermawanan, juga kebaikan secara lebih luas, seyogyanya dipandang sebagai bentuk keutamaan moral. Ketika seseorang mendermakan uang kepada pengemis, misalnya, mustinya tindakan kedermawanan itu diinsyafi sebagai laku keutamaan moral itu sendiri. Bukan dikarenakan dorongan-dorongan emotif seperti rasa kasihan dan sentimen, apalagi paksaan dari luar. Kebaikan mustinya dilaksanakan karena ia semata-mata kebaikan atau keutamaan. Sebab, absennya pamrih dalam suatu tindakan, meniscayakan suatu kebebasan, di mana tindakan murni berawal dari dalam diri, dan semata-mata disadari sebagai wujud tanggungjawab moral itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;i&gt;Pertobatan Parmin &lt;/i&gt;menjadi himpunan cerita yang kuyup dengan realitas sosial. Faktualitas kehidupan dinarasikan panjang lebar untuk memotret sisi kehidupan dengan detail cerita serta pelbagai konflik coba dibangun di dalamnya. Itu bisa ditelisik dalam cerpen “Suatu Hari di Pasar Tradisional”, “Romli dan Juleha”, “Cerita dari Sandera”, “Tahulah Kamu Membalas Budi”, dan sebagainya. Ada beberapa cerpen yang tampaknya bertolak dari kerja mengelaborasi imajinasi, seperti “Gadis Pelangi”, “Pelajaran Pertama tentang Cinta buat Kosim”, “Lagu Cinta untuk Lara” dan “Ayam Titisan”. Beberapa cerpen itu seolah membocorkan kegundahan imajinasi pengarang, semacam penggalian imajinasi yang terus menuntut diparipurnakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Di buku kumpulan cerpen ini, tokoh bernama Parmin hadir berulang. Empat cerpen memerikan Parmin, yaitu “Suatu Hari di Pasar Tradisional”, “Pertobatan Parmin”, “Penjelasan Parmin” dan “Tamu Si Parmin”. Namun, di masing-masing cerpen, Parmin hadir sebagai sosok yang berlainan. Saban Parmin berada dan bergulat di dalam latar dan kepelikan hidup yang berbeda. Parmin tidak terangkat menjadi simbol yang menghadirkan subyek secara khas. Penghadiran tokoh Parmin mengesankan tidak munculnya gagasan yang koheren dan konsisten untuk memerankan karakter tertentu yang bisa ditahbis sebagai model subyek di dalam dunia rekaan. Terkesan, pengarang menokohkan Parmin di beberapa cerpen tersebut dengan tujuan sebatas mengantarkan pembaca pada cerita dan pesannya. Lain kata, tak tampak ada gagasan yang kuat mengapa tokoh-tokoh yang kerap digarap itu bernama Parmin. Keutuhan karakter Parmin&amp;nbsp; &amp;nbsp;di beberapa cerpen tersebut nihil, sebab perkembangan karakternya tidak tergarap sebagai kepaduan. Sehingga, barangkali, nama tokoh mudah saja diganti, misal Pardi atau Parto—mungkin juga semua tokoh laki-laki namanya diseragamkan menjadi Parmin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Karya sastra tak lahir di ruang kedap nan hampa. Begitu pula &lt;i&gt;Pertobatan Parmin,&lt;/i&gt; tentunya bertolak dari gagasan sang pengarang di mana ia hidup-berada di dalam tegangan antara diri dan kenyataan di sekelilingnya. Keberdirian pengarang sebagai subyek dan kenyataan yang bergerak dinamis di sekelilingnya memolakan suatu fakta kemanusiaan yang khas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sebagaimana pandangan strukturalisme genetik ala Lucien Goldmann, karya sastra merupakan sebuah struktur yang memerikan fakta kemanusiaan. Struktur tersebut bersifat dinamis dan merupakan produk dari proses sejarah yang senantiasa bergerak, sekaligus proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati suatu masyarakat. Pengarang mengambil bagian dengan cara merespon situasi di dalam diri maupun sekitarnya, dengan tujuan merekonstruksi situasi agar selaras bagi aspirasi-aspirasi subjek di dalam masyarakat maupun aspirasi pengarang itu sendiri. Di sinilah kepentingan pengarang, sebagai bagian dari subyek kolektif, berikhtiar membangun keseimbangan yang lebih baik dalam relasinya dengan dunia sekitar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pandangan dunia (&lt;i&gt;world view&lt;/i&gt;) sang pengarang menjadi penentu bagi upaya merekonstruksi situasi secara imajinatif di dalam karya sastra. Pandangan dunia sang pengarang itulah yang berhubungan langsung dengan struktur atau realitas masyarakat. Sehingga, karya sastra yang tercipta sejatinya bukan sekadar refleksi atau cerminan struktur sosial yang ada. Melainkan, karya sastra dan realitas masyarakat memiliki kesejajaran struktural. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Di dalam &lt;i&gt;Pertobatan Parmin&lt;/i&gt;, kepentingan membangun keseimbangan antara diri pengarang dengan dunia di luarnya dilakukan dengan cara “propaganda” pesan-pesan yang membentuk suatu nilai. Pengarang seolah mendaku diri sebagai pewarta nilai, yakni hal-ihwal dianggap atau dimafhumi sebagai piranti untuk menyempurnakan manusia sesuai hakikatnya. Kecurigaan yang muncul atas cerpen-cepen di dalam adalah kecenderungan pengejaran yang seolah mati-matian terarah pada pesan dan nilai. Orientasi macam ini yang barangkali membuat pengarang tampak “kedodoran” dalam mengatasi ritme cerita dan membangun konflik. Pengaluran di setiap cerita terbaca cukup seragam: bergerak linier, maju dan teramat runtut. Namun, begitulah &lt;i&gt;Pertobatan Parmin&lt;/i&gt; hadir dengan kesahajaan, mulai tema, ide cerita dan penggarapan struktur narasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pada akhirnya, masing-masing kita berhak membaca sekaligus menilainya. Dan, pengarang tak sepenuhnya mati, bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;essais, pegiat di Open Mind Community Semarang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sumber pustaka:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;1. M Rifan Fajrin, &lt;i&gt;Pertobatan Parmin&lt;/i&gt;, Semarang: Cipta Prima Nusantara Semarang, 2011.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;2. Wan Anwar, &lt;i&gt;Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya&lt;/i&gt;, Jakarta: Grasindo, 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;3. Faruk, &lt;i&gt;Pengantar Sosiologi Sastra&lt;/i&gt;, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-7356697783025191375?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/7356697783025191375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=7356697783025191375' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/7356697783025191375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/7356697783025191375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/10/melongok-obsesi-religius-pertobatan.html' title='Melongok Obsesi Religius “Pertobatan Parmin”'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-OzwpkfOBqV4/Tpcp-DM2uII/AAAAAAAAAe4/_cJTYk_EE8c/s72-c/pertobatan+parmin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-1105291172484148513</id><published>2011-10-07T03:55:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T03:57:00.107-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Cerpen Mbuh, Adin Acak Melompat-lompat</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 12px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 20px; word-wrap: break-word; zoom: 1;"&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Dunia kini bergerak acak, kacau, bahkan kontradiktif. Struktur dunia yang menjelmakan realitas penuh ketidakpastian dan ketidakmenentuan itu bergerak pula ke dunia fiksi. Ranah imajiner mencerapnya sebagai ikhtiar mengkoherensikan pandangan dunia yang selaras dengan zamannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Puisi, cerpen maupun novel mutakhir, kentara kian “tergoda” memainkan sekaligus mengelaborasi bentuk dan strukturnya. Hingga, dalam cerpen, misalnya, kita tak mutlak lagi berharap akan adanya jalinan struktur narasi yang linier dan runtut. Bahkan, pengarang maupun pembaca, diam-diam maupun terang-terangan, mengakui kegembiraan atas pengaluran yang acak dan melompat-lompat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Paling kurang, begitulah tangkapan awal atas cerpen&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dunia yang Melesak Manamana&lt;/em&gt;&amp;nbsp;anggitan Adin Hysteria yang dibincangkan dalam Diskusi Sastra Podjok Pendopo (DSPP) #24, Minggu 02 Oktober, di TBRS Semarang. Upaya membaca dan memahami cerpen tersebut tak gampang. Penanda begitu ruah, berjejalan terkesan tak berhubungan, berakibat pada peliknya menghubungkan pelbagai&amp;nbsp;&lt;em&gt;reference&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(rujukan) yang terpacak di kepala. Laju bahasa dan struktur cerita berjalan dalam tegangan penandaan yang zig-zag.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;“Membaca cerpen ini seperti membaca mimpi,” kata Latree Manohara. Dalihnya, rangkai kisah di dalamnya seolah potongan-potongan cerita yang tak berpautan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Janoary M Wibowo menilai cerpen tersebut sebagai semacam kolase. Yakni bangunan cerita yang disusun atas pelbagai bahan yang terkesan tidak berhubungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Bagaimana tidak? Mulanya, kisah bertolak dari epik, memuat tokoh Rama dan Lesmana, menampilkan Adam, juga ular yang menjadi karakter simbolik seperti diciptakan pengarang. Cerita pun melaju hingga mengarak tokoh-tokoh yang hidup di dunia modern nan nyata, seperti Adolf Hitler, Himler, sampai Munir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Atau, kata Musyafak, justru teks tersebut lebih menampakkan dirinya sebagai montase—dalam khazanah seni rupa frasa ini dirujukkan pada komposisi gambar yang dihasilkan dari pencampuran unsur beberapa sumber. Barangkali istilah ini kurang tepat. Namun, pada montase, laiknya pada cerpen&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dunia yang Melesak Manamana&lt;/em&gt;, ragam anasir yang tak berkesinambungan dijalinkan di sana. Pada Adin, tampaknya, montase telah menjadi ekspresi yang meruntuhkan “bentuk” dan “isi”. Dikotomi antara keduanya ambruk—seperti kata Goenawan Mohamad, “montase adalah tata yang tumbang dan tak selesai dalam ruang modernitas.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Purwono Nugroho Adhi menganatomi teks tersebut bertolak dari pandangan antropologis. Menurutnya, cerpen tersebut merupakan fenomena indigenisasi dalam sastra. Bertolak dari kisah asli, pengarang mengeksplorasinya dan melakukan&amp;nbsp;&lt;em&gt;relecture&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(pembacaan ulang) &amp;nbsp;hingga menjadi kisah baru. Indigenisasi dalam karya sastra lazimnya mengorak kisah-kisah epik yang populer di masyarakat, yang pada akhirnya dibaca sesuai latar budaya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Boleh saja dikatakan indogenisasi. Namun, Randy curiga, Adin sebagai pengarang cerpen tersebut, tidak menginsyafi soal ini. Konsepsi indigenisasi berada di luar kesadaran Adin. Barangkali, itu hanya kritikus yang bicara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Randy, menilai karya Adin ini sebagai cerpen posmodern yang mengusung semangat dekonstruktif. Di sini, Adin sangat berani menggabungkan tokoh-tokoh besar ke dalam satu cerita. Membaca cerpen ini, Randy mengaku teringat&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ular di Mangkuk Nabi&lt;/em&gt;&amp;nbsp;karya Triyanto Triwikromo (TT).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Sebagai pengarang, Adin punya alasan tersendiri dalam penggarapan cerpen tersebut. Cerpen yang dibuatnya pada tahun 2007 ini, menurutnya, adalah hasil eksplorasi bahasa dan struktur narasi. Memang, sedikitnya ada keterpengaruhan dengan TT. Karena saat itu ia kuliah dengan TT, yang membuatnya menjajal beberapa strategi naratologi yang dipahaminya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Adin mengaku membaca&amp;nbsp;&lt;em&gt;Cala Ibi&lt;/em&gt;&amp;nbsp;karya Nukila Amal. Novel tersebut menyajikan limpahan penanda dan petanda yang goyah.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Reference&lt;/em&gt;-nya tidak pasti dan kabur. Ini bisa dibaca melalui petunjuk yang ada di dalam teks itu sendiri. Dengan cara menafikan seluruh&amp;nbsp;&lt;em&gt;reference&lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Saya, kata Adin, tidak bekerja ke arah indigenisasi. Semata-mata lebih mengolah pada tataran kebahasaan: bagaimana bahasa mengeksplorasi bahasa itu sendiri. Di samping itu bereksperimen pada penggunanaan sudut pandang orang kedua (-mu) yang masih jarang dipakai. Sekaligus mengorak posisi narator dan vokalisator.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;“Itu konsep saya. Tapi, secara teknis entah ini berhasil atau tidak, itu lain hal,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Janoary mengelakkan konsep yang diusung Adin tentang bahasa sebagai tujuan dalam penciptaan karya sastra. Bagaimanapun, bahasa adalah alat untuk menyampaikan pesan kepada pembaca. Bahasa dan ragam ujarannya di dalam karya sastra dipandang secara fungsional sebagai perangkat komunikasi. Mengancangkan bahasa sebagai tujuan kian merentankan karya sastra pada pemaparan kata-kata yang akrobatik. Celaka jika justru karya sastra terkungkung di dalam &amp;nbsp;bahasa itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Selain itu, katanya, kegoyahan antara penanda dan petanda juga perlu diatasi. Tak lain musababnya, bagaimana pesan yang ingin disampaikan suatu karya bisa sampai kepada pembacanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Memang, seperti dikatakan Musyafak, menentukan posisi bahasa di dalam sastra cukup rumit, selain dilematis. Mulanya bahasa memang menjadi alat untuk menyampaikan pesan. Faktanya bahasa adalah alat sekaligus lahan garapan itu sendiri. Karena obsesi pada estetika di dalam sastra adalah pengejaran bahasa itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Adin percaya, suatu karya tetap akan bisa dipahami, meski membutuhkan rentang waktu yang panjang. Penuh keterjebakan, memang. Ada teks-teks yang belum bisa dipahami sekian lama, sehingga ia luput dari pembicaraan. Tapi setelah kemunculan resepsi sastra, barulah teks-teks itu bisa dipahami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Namun, Vivi Andriani, tak mengamini Adin begitu saja. Ia pikir, eksperimentasi Adin masih perlu diasah. Karena, katanya, sebagai pembaca saya masih belum bisa memahami cerpen ini. Meski dengan naratologi macam apapun, cerita perlu ada. Apapun narasi itu, paling kurang ia punya cerita.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dunia yang Melesak Namanama&lt;/em&gt;&amp;nbsp;ibarat sebuah lensa yang mencoba merekam banyak foto. Sementara struktur narasi belum cukup mampu mengkoherensikan semua unsur di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;Tentunya masing-masing masih saling ingin membuktikan. Sejauh mana “keberhasilan” Adin dengan eksperimen ekploratifnya, tak cukup ditakar dengan satu cerpen tersebut. Seperti dikatakan Kurniawan Yunianto, kita perlu membaca cerpen-cerpen Adin yang lain, yang tercipta setelah cerpen tersebut, untuk menilik perkembangan dari eksperimennya. Nah!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;--&lt;strong&gt;Musyafak&lt;/strong&gt;,&amp;nbsp;&lt;em&gt;pegiat Open Mind Community Semarang&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; line-height: 12px;"&gt;*Notulensi DSPP #24. Lihat cerpen&amp;nbsp;&lt;em&gt;Dunia yang Melesak Namanama&lt;/em&gt;:&amp;nbsp;http://www.facebook.com/event.php?eid=203819006351561&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-1105291172484148513?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/1105291172484148513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=1105291172484148513' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1105291172484148513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1105291172484148513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/10/cerpen-mbuh-adin-acak-melompat-lompat.html' title='Cerpen Mbuh, Adin Acak Melompat-lompat'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-4167137952240587635</id><published>2011-10-04T11:00:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T11:00:34.227-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Berkah dan Ironi Buku</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Oleh&lt;strong&gt; Musyafak&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;(Kompas, 04 Oktober 2011)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 13px;"&gt;Buku adalah sebuah berkah. Ia menghadiahi kita pengetahuan yang melimpah, janji akan pemahaman tentang hidup dan alam yang tidak bisa dimiliki oleh makhluk lain. Ia menjadi satu alat kebudayaan terbaik bagi jiwa, akal, dan tubuh manusia agar berkembang secara optimal. Pendek kata, buku turut membentuk adab dan manusia yang berbudaya. Ia adalah modus pembebasan manusia dari fatalitas dan pasivitas kodrat naturalnya.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 13px;"&gt;&lt;div class="entry" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 10px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Proklamator RI, Soekarno, memiliki hubungan intim dengan buku dan merasa dibesarkan olehnya. Buku mengenalkannya kepada orang-orang besar dan ide-ide besar. Di sebuah pameran buku di Jakarta pada 1950, seperti dikutip Djoko Pitono (2011), Soekarno membocorkan rahasianya lewat tulisan di buku tamu: ”Buku-buku adalah temanku. Di sana aku bertemu orang-orang besar. Pikiran-pikiran mereka menjadi pikiranku. Cita-cita mereka menjadi pendirian dasarku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Bahkan Jorge Luis Borges (1899-1986), sastrawan ternama Argentina, pernah membayangkan surga sebagai sejenis perpustakaan. Kegilaan Borges membaca buku membuat matanya hampir buta. Nafsu buku juga dirasakan oleh pengarang kesohor Ajip Rosidi. Ajip (2004) mengakui buku telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kesehariannya. Tampaknya, buku terus memompa semangatnya menulis puluhan buku sastra dan budaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b&gt;Selubung dan Ironi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Di sisi lain, buku ternyata juga menyimpan ironi ketika pembaca atau penikmat sebuah buku justru terpenjara, terdikte oleh buku. Beberapa buku yang bernada diktatik bisa menjadi diktator bagi pembacanya, menenggelamkan pembaca dalam kefanatikan, juga kegelapan diskursif dari pengetahuan. Dalam perhitungan lain, data yang tersaji dalam buku juga dapat menciptakan labirin yang justru menyesatkan pikiran.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ironi buku semacam itu dapat terbaca dalam kisah Don Quixote, tokoh dalam novel Don Quixote de La Mancha karya Miguel de Cervantes (1547- 1616). Buku ini mengisahkan bagaimana tokoh Quixada memutuskan diri menjadi seorang ksatria, mengubah namanya menjadi Don Quixote, karena terilhami oleh tokoh dari sebuah buku bernama Amadis. Secara fanatik dan membabi buta ia menganggap Amadis sebagai super hero yang patut ditiru. Don Quixote pun menjadi pribadi yang terdikte, terperangkap dalam dunia artifisial yang obsesif buku.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Di bagian lain, posisi kultural dan sosial buku juga dapat menggiring seseorang untuk sekadar menunjukkan gaya hidup yang modis dan eksibisionis. Buku diburu dan dikumpulkan hanya untuk etalase yang menunjukkan kelas dan gengsi. Akan tetapi, di rak-rak tersebut, buku membeku atau hanya menjadi sarang debu. Produk kebudayaan tersebut justru menjadi selubung politis untuk menutupi kedangkalan dan perilaku kurang beradab pemiliknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Begitu pun dalam lingkungan akademis. Banyak ilmuwan atau akademisi yang menggunakan buku sekadar untuk memainkan matematika kata. Bahkan belakangan kita mendengar beberapa kasus dari akademisi yang memakai buku hanya sebagai sumber plagiasi, kedustaan, dan kemunafikan intelektual.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b&gt;Menjiwai Buku&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tan Malaka (1897-1949) memiliki hubungan intim dengan buku meskipun bukan hubungan menyenangkan. Seperti dikisahkan dalam Madilog. Ketika pembuangan pertamanya di Belanda pada 22 Maret 1922, Tan Malaka masih membawa cukup buku agama, politik, ekonomi, juga buku-buku komunisme yang menjadi perhatian utamanya. Sayang, pustaka itu harus ditinggalkan ketika ia pergi ke Moskwa, Rusia, karena ia harus lewat Polandia yang memusuhi komunisme. Di Tiongkok, Tan Malaka kembali memburu buku. Ia mengaku, nafsu membeli buku, hingga membikin kantongnya kedodoran.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Perang Jepang pada tahun 1931 memaksa Tan Malaka meninggalkan koleksi bukunya di kediamannya, di belakang Jalan Nort Su Chuan Road, Sanghai. Ketika ditengok kembali sebulan setelahnya, buku-bukunya sudah raib disikat laliong (tukang copet). Bolak-balik mendirikan pustaka pribadi, toh nasibnya selalu bercerai dengan bukunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Buku dan pejuang yang pertama menggagas kemerdekaan Indonesia ini memang terbalut dalam cerita yang getir. Buku utamanya, Madilog, disusun tanpa buku-buku referensi utamanya. Semua diacunya berdasarkan ingatan. Sebuah kerja yang membuktikan buku adalah sebuah kerja yang ditransmisi ke dalam dirinya, selebihnya tertinggal kertas belaka.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Buku adalah makna yang harus menjelma dalam hidup yang sebenarnya. Selaras pandangan Al-Ghazali yang mengatakan al-‘ilmu fi al-shuduri la fi al-suthuri, yakni letak ilmu itu di dada (jiwa), bukan di tulisan.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Eli (Denzel Washington) dalam film The Book of Eli besutan Albert Hughes dan Allen Hughes (2010) pun melakukan kritik-diri terhadap laku memuja buku. ”Bertahun-tahun aku telah membawanya dan membacanya setiap hari. Aku terlampau menginginkan agar buku itu selamat, sampai aku lupa bagaimana harus hidup dengan apa yang kupelajari dari buku itu,” kata Eli.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Begitulah buku membuat manusia terbentuk, atau justru membuatnya terkutuk. Ia adalah sebuah dunia, yang kadang begitu luar biasa. Akan tetapi, ia menjadi sia-sia ketika ia tak mampu menjelmakan makna-makna luhurnya di kehidupan nyata.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 19px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;--&lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;pengkaji Budaya di Open Mind Community; Pengelola Majalah Sastra Soeket Teki, Semarang&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-4167137952240587635?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/4167137952240587635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=4167137952240587635' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4167137952240587635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4167137952240587635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/10/berkah-dan-ironi-buku.html' title='Berkah dan Ironi Buku'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-2612090424875104837</id><published>2011-10-02T10:49:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T10:49:52.017-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Agama dalam Selubung Budaya Pop</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;(Jurnal Nasional, 02 Oktober 2011)&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;div style="color: #555555;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #555555; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-M2cPxrdaSvc/Toij9jqU2oI/AAAAAAAAAe0/pal4pXtp_Gg/s1600/Bayang-bayang+Tuhan%252C+Imajinasi+dan+Agama%25232.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-M2cPxrdaSvc/Toij9jqU2oI/AAAAAAAAAe0/pal4pXtp_Gg/s640/Bayang-bayang+Tuhan%252C+Imajinasi+dan+Agama%25232.JPG" width="305" /&gt;&lt;/a&gt;Judul&amp;nbsp;:&amp;nbsp;&lt;em&gt;Bayang-bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;:&amp;nbsp;Yasraf Amir Piliang&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;:&amp;nbsp;Mizan, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun&amp;nbsp;: I, Mei 2011&lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;: liii+371 halaman&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 14px; line-height: 20px;"&gt;&lt;div style="color: #555555;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #555555;"&gt;Ramalan matinya agama memang belum terbukti, bahkan jamak orang memuhalkannya. Namun, pelbagai fakta kebangkrutan agama tampak semakin kentara.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #555555;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #555555;"&gt;Ritual-ritual agama yang mulanya menjadi ajang perayaan untuk memperbarui sekaligus menguatkan hubungan manusia dengan Tuhan, telah bergeser menjadi selebrasi yang mementingkan keramaian dan kesenangan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya populer ditengarai punya andil besar dalam proses pendangkalan iman manusia modern. Budaya populer mengolah simbol-simbol agama ke dalam citraan artifisial yang menggiring manusia pada kesadaran palsu. Yakni nalar yang memuja bentuk daripada isi, logika fetistik yang mengagungkan citra daripada makna. Agama kini telah asyik-masyuk dalam skema imajinasi populer sehingga ia memihaki realitas yang dangkal dan bersifat permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku&amp;nbsp;&lt;em&gt;Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi&lt;/em&gt;, karya Yasraf Amir Piliang, hadir menggumuli realitas keberagamaan modern dengan pendekatan&amp;nbsp;&lt;em&gt;cultural studies&lt;/em&gt;. Menawarkan "jalan baru" dalam menafsirkan realitas agama dengan mengambil jarak dari wilayah teologis. Mengajak pembaca masuk ke labirin posmodernisme yang penuh lika-liku teoretis, mulai simulasi, hiper-realitas, semiotika, pos-strukturalisme dan dekonstruksi. Menjadi semaian ideologi kritis untuk memaknai ritus keberagamaan manusia modern. Sekaligus membaca masa depan agama dan peluangnya untuk direkonstruksi di tengah ancaman pendangakalan iman dan vulgaritas ritual yang banal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini ideologi popularisme berpengaruh dalam mengubah derajat religiusitas. Membiaknya imajinasi-imajinasi populer telah mengaburkan batas antara imanensi dengan transendensi, melenyapkan jarak antara yang profan dengan yang sakral. Modernisasi yang diusungkan oleh teknologi informasi menggiring umat beragama pada alam skizofrenia. Semacam kesadaran yang labil, tidak konsisten, dan terus berubah sesuai produksi simbol-simbol yang mengelabui ritual-ritual suci agama menjadi kerja pembebasan hasrat (&lt;em&gt;liberation of desire&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saban agama memuat simbol-simbol yang sensitif, yaitu simbol yang terpatri di ruang asali nan mendalam di dalam diri manusia. Simbol agama bisa meniscayakan kegembiraaan sekaligus kemurungan, mendorong euforia sekaligus kebrutalan yang nyinyir. Medan simbol inilah inilah yang dimainkan oleh ideologi popularisme yang berselingkuh dengan kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Budaya populer juga berkaitan dengan relasi ekonomi-politik, yaitu kebudayaan yang dibentuk berdasarkan pola-pola produksi industri dan komoditas," tulis Yasraf (hlm 177).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun motif utama penciptaan produk-produk budaya populer adalah keuntungan kapitalistik. Simbol diproduksi sesuai selera massa, lantas ditarungkan guna meraih dominasi dan iman publik. Akhirnya, perayaan simbol-simbol tersebut setali tiga uang menjebak umat beragama pada nalar konsumerisme: memanjakan hasrat dengan euforia belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tamsil bisa dinukil, taruhlah Ramadan yang kini sesak oleh pernak-pernik simbol lahiriah seperti demam jilbab atau "baju muslim". Imajinasi tentang kesalehan religius terdikte oleh sinetron, ceramah ustaz gaul, dan iklan televisi yang lebih membeberkan citra daripada pesan. Jadilah puasa justru ajang merayakan kesenangan, seperti busana-busana baru atau menu-menu berbuka yang istimewa. Puasa bukan lagi menjadi&amp;nbsp;&lt;em&gt;riyadlah&lt;/em&gt;-meminjam istilah Nurcholis Madjid (2000: 6)-yakni momentum pelatihan ruhaniah untuk menunda kesenangan, menahan diri dari gejolak konsumsi, serta menumbuhkan empati sosial terhadap sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menguliti nalar popularisme beragama yang kian menggurita, buku ini juga mengorak problem penafsiran agama. Imajinasi kreatif-kritis perlu diberi peluang untuk menafsirulang teologi dan praktik-praktik agama melalui pendekatan kultural atau&amp;nbsp;&lt;em&gt;cultural studies&lt;/em&gt;. Tentunya, hal ini memungkinkan terjadinya multiplisitas atau keragaman penafsiran agama yang semakin menambah ketagangan umat. Namun tidak menutup kemungkinan munculnya tafsir-tafsir yang prospektif, berguna bagi rekonstruksi agama ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motodologi yang ditawarkan di antaranya pembacaan poststrukturalisme, semiotika, dan dekonstruksi. Metode dekonstruksi, misalnya, merupakan telaah yang memberi kebebasan untuk merayakan imajinasi produktif dan tidak terbatas. Dekonstruksi menyilakan upaya menyingkap, mendedah, mencairkan bahkan meruntuhkan teks dengan meleburkan batas-batasnya. Namun, untuk mencegah timbulnya imajinasi anarkis, perlu ada pembatasan relatif atas imajinasi dalam menafsirkan teks, bahasa, dan simbol-simbol agama. Karenanya, kebebasan berimajinasi menuntut satu prasarat lain, yaitu kebebasan bertanggung jawab yang peka terhadap ideologi dan sistem keyakinan golongan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;,&lt;em&gt;&amp;nbsp;essais, bergiat di Open Mind Community Semarang&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-2612090424875104837?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/2612090424875104837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=2612090424875104837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/2612090424875104837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/2612090424875104837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/10/agama-dalam-selubung-budaya-pop.html' title='Agama dalam Selubung Budaya Pop'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-M2cPxrdaSvc/Toij9jqU2oI/AAAAAAAAAe0/pal4pXtp_Gg/s72-c/Bayang-bayang+Tuhan%252C+Imajinasi+dan+Agama%25232.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-8881833322932281478</id><published>2011-09-30T08:10:00.000-07:00</published><updated>2011-09-30T08:10:25.334-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumahkisah'/><title type='text'>Tatapan Mata Boneka</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-IYHEJQ794D8/ToXbusM32II/AAAAAAAAAew/Yh8Z8bLzArI/s1600/tatapan+mata+boneka.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-IYHEJQ794D8/ToXbusM32II/AAAAAAAAAew/Yh8Z8bLzArI/s400/tatapan+mata+boneka.jpg" width="282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; font-size: 16px;"&gt;(Tatapan Mata Boneka, TBJT 2011)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;  &lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;n&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;Cerpen &lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; font-size: 16px;"&gt;Sarah mengira Morat telah mati ketika menemukannya tergeletak bersimbah darah di bengkel. Tapi lelaki itu kini tersenyum-senyum di hadapannya. Tampak seperti menertawakan dan mengejek sesuatu. Morat mengamat-amati jari-jari tangannya yang dibalut perban. Ia sempat tertawa dalam tempo yang sangat cepat. Sementara Sarah miris membayangkan Morat tanpa kuku-kuku di jari-jari tangannya—lebih miris membayangkan bagaimana Morat mencabuti kuku-kukunya sendiri dengan tang. Sepuluhnya sudah terpindah ke jari-jari boneka yang tengah dibuat Morat. Boneka berambut ikal dan panjang yang mulanya dipindahkan dari kepala Morat pula.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Syukurlah kau masih hidup!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Kenapa kau bilang begitu, Sarah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Kukira, kemarin kau telah mencoba bunuh diri?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Bunuh diri?” Morat tertawa, tapi suaranya masih lemah. “Tidak! Aku bukan nihilis. Sama sekali aku tidak pernah berpikir konyol dan sia-sia macam itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sarah tersenyum melihat Morat. Tapi dalam hatinya masih bersisa resah tentang keganjilan yang dilakukan Morat. Ia berspekulasi dengan kemungkinan buruk, bahwa Morat tengah mengalami gangguan psikis. Barangkali pedalaman dirinya sedang gentar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Ini hanya langkah awal dari gagasan kreatifku, Sarah. Kelak bonekaku menjadi &lt;i&gt;masterpiece&lt;/i&gt; dan tercatat sebagai sejarah langka di jagat kesenian,” Morat tersenyum, serta merasa menang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sarah mengangkat alisnya, beriring keningnya yang kemerut. Tiba-tiba ia ingin meludah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Hah, Morat, Morat! Ingat, ini Indonesia! Orang-orang tidak akan tertarik dengan karya-karyamu yang absurd itu. Selera masyarakat kita lain dengan standar estetikamu yang sukar dipahami itu. Malah mereka akan takut melihat tampakan-tampakan bonekamu yang seram dan gelap.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Morat menggeleng-gelengkan kepala seraya meringkik kecil. “Ini karya seni tingkat dunia, Sayang. Lihatlah, kelak itu akan menjadi karya yang orisinalitasnya melampaui karya-karya yang pernah ada.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Ya! Ya! Tapi dunia ini lebih nyata ketimbang imajinasimu. Lebih baik kau cari kerja saja!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Senja telah lolos dari sebalik kaca jendela di sisi barat kamar klinik. Sarah pamit pergi bekerja. Hari ini jatahnya &lt;i&gt;shift&lt;/i&gt; malam. Sepanjang perjalanan, tempurung kepala Sarah disesaki bayangan Morat. Masih saja berayun-ayun kekhawatiran di pikirannya. Ia waswas, sekali-kali obsesi Morat pada penciptaan boneka akan menimbulkan gangguan psikisnya lebih kacau. Ia khawatir Morat tidak bisa lagi membedakan antara obsesi dan kenyataannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Coba ditepis-tepiskan bayangan Morat dari kepalanya. Kini Sarah bersiap di meja bartender. Bar besar tempatnya bekerja itulah yang memberinya upah lumayan besar. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan Morat. Sebenarnya gajinya bisa ditabung untuk masa depannya. Tapi Morat yang tidak bekerja dan waktunya dihabiskan di bengkel untuk membuat patung dan boneka justru menjadi tanggungannya. Sebab lelaki itu jarang tidur, maka jatah gula dan kopi, dan yang paling banyak adalah rokok, makin menelan uang belanja hingga begitu bengkak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sarah berharap Morat bisa menginsyafi keadaan. Ia sangat ingin lelaki itu bekerja. Apa sajalah, yang penting bisa menambah penghasilan agar rencana memiliki anak lekas terselenggara. Morat telah berkali-kali menolak, bahkan membatalkan, rencana punya anak dengan alasan ia belum berpenghasilan. Patung-patung dan boneka buatannya belum dilirik penikmat seni rupa hingga hanya memenuhi bengkelnya. Morat berdalih pula, belum saatnya punya anak sebab keberadaan dirinya belum patut dibanggakan sebagai seorang ayah. Barangkali ia ingin terkenal dulu melalui karya-karyanya yang bernilai jual tinggi hingga merasa patut untuk dibanggakan, baik sebagai seorang seniman, suami, maupun ayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ah, Morat!—Sarah menggelengkan kepala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sarah mendatangkan seorang psikiater cukup ternama dari sebuah panti rehabilitasi. Psikiater itu mengatakan jiwa Morat terganggu oleh obsesinya yang berlebihan. Tak ada cara menghentikan obsesi Morat, kecuali menghentikan imajinasinya pula. Morat perlu dijauhkan dari patung-patung dan boneka-boneka buatannya. Dipingit dari bengkelnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sarah menurut saran psikiater itu. Hari berikutnya ia mengisolasi Morat di dalam kamar. Segala hidup Morat dikendalikan, waktu makannya diatur, dijadwal juga kapan Morat keluar rumah untuk menghirup udara segar. Putusan itu dibayar Sarah cukup mahal dengan cuti selama berhari-hari guna mengontrol keadaan Morat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Seminggu sudah bengkel boneka itu mati. Pintunya terkunci gembok besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sekarang Morat pendiam. Tampak sekali ia tidak memiliki gairah. Belakangan Sarah insyaf perbuatannya justru membuat Morat depresi. Ia menyadari hidup Morat tidak bisa dipisahkan dari kesenangannya, boneka dan boneka. Itu sama halnya menceraikan Morat dari dirinya—diri yang seniman, diri yang merdeka, diri yang lepas dari kekangan. Maka Sarah mengajaknya kembali ke bengkel. Morat berseri-seri ketika merasakan udara kebebasan, udara yang melengkapkan keberadaannya, udara yang tidak membatasi kehendaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Sayang… Kau boleh di sini lagi. Tapi kau hanya boleh membuat patung atau boneka. Bukan berbuat konyol menyakiti tubuhmu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Morat mengangguk. Namun ia tidak begitu sadar atas anggukannya. Sarah agak heran mendapati Morat begitu penurut. Perempuan itu tersenyum bahagia ketika Morat menyambut uluran jari kelingkingnya sehingga kedua jari mungil saling bertaut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Janji, Sayang…” kata Morat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Morat kembali merasakan hidup yang sebenarnya di bengkel. Namun Sarah masih hendak mengawasinya dengan rutin meneleponnya saat bekerja. Karenanya Morat musti banyak mengendalikan diri, dan membatasi imajinasinya sendiri. Suatu tuntutan yang menyakiti dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mungkin bukan kesalahan Sarah tidak menyingkirkan satu boneka yang pernah merenggut kuku-kuku dan rambut Morat. Suatu pagi, ketika Morat memasuki bengkelnya, ia terkejut ada suara menyeru-nyeru namanya. Diturut-turutkannya suara itu, hingga didapatinya suara itu berasal dari sebuah boneka. Boneka yang di jari-jari tangannya tertempel kuku Morat. Sekian waktu Morat masih tidak percaya boneka itu bisa berbicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Morat, ayo selesaikan aku! Aku sangat tersiksa karena kau hanya membuatku separuh jadi seperti ini. Ayo, Morat…! Aku adalah obsesi besarmu yang harus kau wujudkan sempurna. Aku karya besarmu! Mengapa kau diam saja, Morat?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Morat bergegas menyentuh boneka itu. Seolah ada getaran nyata pada boneka itu. Morat masih saja menimbang-nimbang kesadarannya, barangkali ia tertipu oleh halusinasi. Sementara boneka itu terus merajuk pada Morat. Hingga boneka itu memenangkan kesadaran Morat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Baiknya kau memberiku sebuah nama!” pinta boneka itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Morat mengernyitkan kening. “Kau kan cuma boneka, mengapa menginginkan nama?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Boneka itu tertawa&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;ringan. Morat menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Nama adalah sebuah penandaan yang mendukung eksistensi. Tentunya kau hanya akan menjadi obyek umum dan kabur jika tanpa nama. Nama ‘Morat’ yang kau sandang telah mereposisi keberadaanmu menjadi subyek yang otentik. Barangkali demikian pencapaian eksistensial paling rendah,” kata boneka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sejenak Morat berpikir. Seraya ia menyepakati alasan boneka itu, pikiran Morat mencari-cari nama untuk boneka itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Bagaimana jika kunamai kau ‘Marit’?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Morat… Marit… Ya ya ya, nama yang berpasangan. Dan sejak saat ini eksistensi kita saling bergantungan. Kau ada aku ada, aku nihil kau nihil. Bukan begitu?” kata boneka itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Morat mencerna kata-kata Marit: kau ada aku ada, aku nihil kau nihil. Diraba-rabanya pikirannya sehingga ia mengelak. Bukankah aku individu yang mandiri? Bukankah aku telah Ada sejak awal? Bukankah aku yang meng-Ada-kan kehadiran Marit? Bukankah Morat akan tetap Ada andaipun Marit nihil?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Mengapa pertanyaanku tak kau jawab, Morat? Baiklah, boleh saja saat ini kau menampiknya. Tapi, kujamin kelak kau mengakuinya!” Marit tertawa mengolok-oloknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Harusnya malam ini Sarah berada di rumah. Tapi ia mendapat jatah lembur dadakan. Teman kerja yang &lt;i&gt;shift &lt;/i&gt;setelahnya terserang migran dan demam sehingga tidak bisa datang. Baginya, malam ini adalah waktu yang kurang tepat untuk lembur. Tidak lain karena ia tidak bisa mengawasi Morat sejak pagi hingga larut malam nanti. Sebab itulah perasaannya waswas. Apalagi dua hari terakhir ia mendapati Morat menampakkan keanehan. Keanehan yang didengarnya melalui igauan. Morat menyebut-nyebut nama yang nyaris persis dengan namanya sendiri. Nama yang dikata-katakan Morat sebagai monumen terbesar abad ini. Sarah mengira Morat sebenarnya menyebut namanya sendiri. Kiranya gangguan dalam dirinya membuatnya salah melafalkan namanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Morat belum bergeser sedikitpun dari bengkel sejak pagi tadi. Ia telah masuk begitu ceruk ke dalam kekacauan pikirannya. Sebuah dorongan ambisius yang sulit dikendalikannya datang berangsur-angsur dan bertubi-tubi. Marit tidak henti-henti membisikinya sesuatu yang harus diwujudkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Cepatlah, Morat! Waktumu tidak panjang. Sementara dunia di luar sana terus berkembang. Jika aku tidak lekas kau selesaikan, kau hanya akan terberkati penyesalan tak kepalang. Barangkali banyak orang akan mendahuluimu menciptakan karya besar sepertiku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Morat masih saja menabrak kebuntuan pikirannya. Serupa dinding tebal lagi kebal hingga sulit tertembus. Ia mengalami keputusasaan yang seolah tidak tertolong ketika lorong kesadarannya tak lagi bisa diperhitungkan. Sejenis keinginan yang begitu entah masih menguasainya. Hasrat yang mengombangambingkannya di pendulum kebimbangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Bagaimana aku memulainya, Marit?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Bukan saatnya lagi untuk memulai, Morat. Tapi melanjutkan!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Selanjutnya adalah momentum pertaruhan, ketika Morat lelah bercakap dengan Marit. Lantaran kesadaran kecil berupa keengganan didikte Marit lebih banyak, Morat memutuskan melalui pertimbangannya yang cukup kabur. Baginya, masalahnya kini bukan lagi soal mengawali atau melanjutkan. Melainkan mengakhiri! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Morat menghitung-hitung bagian apa dari dirinya yang bisa menyempurnakan Marit. Ia meneruskan kesadaran idenya menjadi kesadaran tubuh. Menurutnya yang musti ditampakkan oleh patung bagi orang-orang yang kelak memandangnya adalah realitas visual. Tentu, seperti dirancang Morat, visualisasi Marit harus benar-benar beda dari kebanyakan produksi kesenian yang klise dan &lt;i&gt;kisthc&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Lalu waktu menjelma sebagai kecepatan yang tidak bisa ditahan dan dihitung ulang. Kerumitan menjadi sebuah lintasan sederhana nan cepat seperti kilat yang melesat. Ketika Morat tidak bisa mejelaskan apa yang baru saja dilakukannya sehingga perih membuatnya mengeram menahan teriakannya sendiri. Saat itulah ia menghadapi bola matanya tergeletak di telapak tangannya. Kepalanya sebelah kiri terasa sangat berat oleh tumbukan rasa nyeri yang bertubi-tubi. Kini mata sebelah kanannya tidak bisa terbuka dengan leluasa. Dari pandangannya yang menciut Morat melihat senyum Marit mengembang. Berkali-kali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;“Benar sekali apa yang kau lakukan, Morat!” kata Marit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Malam begitu larut hingga menyusut. Kepulangan Sarah menjadi kecolongan yang begitu telak!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Morat menggelepar dengan tubuh yang sesekali mengejang. Terasa ada eraman berat di dalam tubuh itu. Sementara darah melumuri sebagian wajah, leher, juga baju Morat. Sarah mencari-cari sumber lelehan darah itu dengan penuh rasa gugup. Degup di dadanya seolah mau meledak ketika didapatinya darah itu berujung pada kelopak mata kiri Morat yang terkatup rapat. Katupan yang dirasanya ganjil tanpa bukit kecil yang lazimnya mencuat. Kebingungan Sarah mencapai puncak sehingga ia tidak lagi terpusat pada Morat. Ia menggerakkan pandangannya mengelilingi ruangan bengkel itu. Tiba-tiba gerakan kerongkongannya begitu pejal ketika dilihatnya sebuah mata mendelik di suatu bagian kepala boneka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sarah tidak kuat bertatapan dengan mata boneka itu!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="font-size: 33px; margin-bottom: 12pt; text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Agustus-September 2010&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-8881833322932281478?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/8881833322932281478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=8881833322932281478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8881833322932281478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8881833322932281478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/09/tatapan-mata-boneka.html' title='Tatapan Mata Boneka'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-IYHEJQ794D8/ToXbusM32II/AAAAAAAAAew/Yh8Z8bLzArI/s72-c/tatapan+mata+boneka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-6474670436573100455</id><published>2011-09-30T07:56:00.000-07:00</published><updated>2011-09-30T07:58:49.414-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumahkisah'/><title type='text'>Cerita-cerita dari Kampung Seberang</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;(Lelaki yang Dibeli, Obsesipress 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12pt;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;Cerpen &lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-4xIBijxNlqg/ToXYcwFClxI/AAAAAAAAAeo/uWWo-nDDS3Y/s1600/lelaki+yang+dibeli.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-4xIBijxNlqg/ToXYcwFClxI/AAAAAAAAAeo/uWWo-nDDS3Y/s400/lelaki+yang+dibeli.jpg" width="273" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;IMING&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;-iming itu memang menggoda dan memanjakan angan. Jalan cadas nan terjal akan dilapis aspal. Takkan lagi lobang-lobang jalan beranakpinak dan didiami tahi sapi hingga membusuk. Orang-orang Kampung Sendang takkan malas pelesiran sebab jalan jadi mulus dan tidak becek. Sebagian mereka mengimpikan pekerjaan tetap yang menjanjikan upah rutin perbulan jika bisa menjadi buruh di pabrik itu. Upah yang dikira lebih menjamin penghidupan ketimbang bercocoktanam yang mulai kurang menguntungkan. Sebagian lainnya berangan membuka kios di Pasar Wedanan bermodal uang ganti untung dari pembebasan lahannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mulanya, mereka pikir mustahil gunung kehabisan air. Mata air bakal terus mencuarkan air dari dalam bumi. Ketika pabrik semen itu meluas dan penambangan makin menerobos ke ceruk tanah, pohon-pohon ditumbangkan lebih banyak. Ketika gunung mulai botak-botak, bahkan hingga plontos, mereka mulai butuh mesin pendingin udara, hingga mereka sibuk memilih mesin baling-baling di toko-toko elektronik di pusat kota. Air berangsur-angsur menyusut. Di musim kemarau, saluran air sendang biasa mampat beberapa jam saja di siang hari. Keperluan mandi, mencuci, dan memasak masih bisa diatasi. Perlahan, dari tahun ke tahun, saluran air lumrah mampat selama setengah hari hingga mereka kelabakan ketika mau mandi. Air hanya cukup untuk istri-istrinya mengurus dapur. Lalu pipa-pipa besi dijulurkan dari pusat kota, menembus ke jantung-jantung rumah. Mereka harus ajeg perbulan membayar air kepada parusahaan negara yang menyalurkan air itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kini mereka insyaf. Mereka telah banyak kehilangan. Kehilangan cerita-cerita yang menurun dan memanjang dari silsilah nenek moyang. Kehilangan cerita-cerita masa depan yang sempat tersusun di angan-angan, cerita-cerita yang mengelok menjadi simpangan yang menyesatkan.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Bidadari Sendang Widodaren&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Telinga kita kerap diselusupi dongeng tentang bidadari yang tiap malam mandi di Sendang Widodaren. Sendang di sudut dusun yang tepinya adalah susunan batu yang bertebing-tebing. Kita selalu menunggu sepi ketika mau mandi agar bisa berenang seenaknya hingga sendang jadi keruh tak keruan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Konon ayah yang paling sering menjumpai bidadari itu. Sebab ayah memang sengaja mengintip bidadari itu. Lantas ayah menceritakan pada banyak orang ketika selesai salat jamaah di surau kalau semalam ia melihat bidadari itu mandi telanjang di sendang. Jika ayah mengatakan wajah bidadari itu sangat cantik, pastilah ia bohong. Ia tak pernah melihat muka bidadari itu karena selalu mengintipnya dari belakang. Matanya hanya mampu menampak tengkuk bidadari itu landai dan bersih. Tubuhnya yang kuning langsat itu gemulai dan sintal. Aduhai pinggul bidadari itu, kata ayah, cukup lebar. Serasi dengan bentuk pinggangnya yang membentuk kelokan tajam ke bagian atas tubuhnya. Ayah paling suka ketika bidadari itu duduk di tubir sendang, saat bidadari itu memeras rambutnya hingga bercuruan air dari ujung rambutnya yang dipelintir. Lalu dikibas-kibaskannya rambutnya yang basah. Gerakannya seperti belarak kelapa dibelai angin selepas hujan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Berulangkali ibumu, ibuku pula, tak segan-segan menyergah ayah ketika mendengar cerita itu. “Ah! Dasar tukang ngibul!” katanya, serta bersungut-sungut. Sementara ibuku, ibumu pula, hanya tersenyum-senyum seraya mengguncang-guncangkan kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Bukit Londo &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Dor! Dor! Dor! Bum! Bum! Drudududududududuududud! Druuuuud! Debum! Mampus kau! Mampus! Pergi dari tanah kami! Belanda, pergi kau!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Masih bisakah kau teriakkan kata-kata itu? Ah, pun bibirku sendiri sudah kaku. Telah lama kita tak main tembak-tembakan di Bukit Londo. Bukit yang berjeda 2000-an kaki dari rumah kita. Bukit yang dulu menjadi tempat kakekmoyang kita bertempur habis-habisan untuk mempertahankan dusun dari perebutan paksa tentara Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kita musti menyisir dari sisi kiri Sendang Widodaren, menelusuri jalan setapak dan menanjak. Pokok-pokok besar yang rindang melindungi kita dari sengat matahari. Kita terus berjalan dengan pundak menyongsong senapan mainan dari pelepah pisang. Terselip juga bedil kecil dari kayu di ikat pinggang kita. Anak-anak sepantaran kita mengiring dari belakang. Sesampai di bukit kita terbagi menjadi dua kelompok. Selalu, aku dan kau mengepalai kelompok. Karenanya kita musti berhadapan untuk suit jari. Jika kau kalah, kelompokmu jadi tentara Belanda dan kusebut kompeni, yang berperan sebagai penjahat karena berusaha menjajah orang pribumi. Aku yang menang serta-merta menyulap kelompokku sebagai orang pribumi yang harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan tanahnya, negerinya. Kau lebih kerap menjadi kompeni hingga menggerutu, sebab rasanya lebih bangga menjadi tentara pribumi yang ketika mati akan dikatakan syahid atau pahlawan yang konon berhak masuk surga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sedikit banyak kita telah memanipulasi cara peperangan. Mustinya orang pribumi memakai bambu runcing, tombak, atau gobang, tapi kita sepakat dua belah pihak tetap memakai tembak, senapan, dan bedil. Kita menyusun strategi sendiri-sendiri untuk memenangkan perang. Lalu kita mengacungkan senapan seraya mulut-mulut kita tidak henti mencuarkan suara-suara yang kita reka persis desing dan deru senapan, bedil, atau tembak. Sesekali kulemparkan bulatan tanah merah: &lt;i&gt;Bum&lt;/i&gt;! Anak buahmu menggelepar, kejang-kejang, lalu mati—tapi beberapa saat hidup lagi dan ikut perang kembali. Begitu juga anak buahku ketika terkena peluru atau granatmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Setelah memenangkan perang aku berserta kelompokku dengan lantang menyanyikan lagu &lt;i&gt;Indonesia Raya&lt;/i&gt;, beriringan dengan lagu &lt;i&gt;Maju Tak Gentar,&lt;/i&gt; seraya membusungkan dada tinggi-tinggi. Setelahnya kita kembali menjadi anak-anak dusun yang rukun. Meninggalkan Bukit Londo, menuruni jalan setapak seraya menyanyikan lagu-lagu patriotik itu. Aku, kau, juga teman-teman lain merasakan kesenangan, kepuasan, dan kebanggaan yang tak terkira-kira di sela-sela hari sekolah itu.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Satu Lelaki Dua Perempuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Barangkali, kau masih benci cerita yang satu ini. Tentang rumah yang pernah kau bilang sebagai neraka. Ada satu lelaki baya dan dua perempuan yang usianya berselisih beberapa tahun. Awalnya, lelaki itu hanyalah suami ibumu. Sejak seorang perempuan muda yang lima tahunan lebih muda dari ibumu dibawa pulang ke rumah, lelaki itu menjadi suami ibuku pula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kita lahir dalam tempo yang cukup dekat. Kau mendahuluiku satu bulan, dan sejak mula kupanggil kau kakak, pun kau menganggapku adik. Sejak bocah, di mataku kau adalah seorang pemberani. Kau yang membuatku merasa aman. Kau selalu membelaku, bahkan menuntut balas ketika ada seseorang menjahiliku. Tapi kadang pembelaanmu tidak jernih dan emosional, kau tidak peduli bahwa sesekali aku yang salah telah lebih dulu mericuhi bocah lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Beranjak remaja, kau mulai tidak menyenangi rumah. Ya, ketika itulah kau mulai memaknai hidup, memaknai nasib yang kau bilang sebagai kegetiran, selain kebohongan manusia-manusia dewasa yang cabul. Seorang lelaki baya yang mulanya kau panggil ayah, tapi lantas kau anggap ia lelaki cabul belaka. Kau pikir, mustinya, ayah tidak pernah mengawini ibuku, apalagi mengajaknya tinggal serumah dengan ibumu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sebagai istri muda, kau kira ibuku lebih banyak menerima perhatian dan kasih sayang ayah. Sementara ibumu tersiakan. Beberapa kali kau memergoki ibumu menagis di kamar, lantas kau sangka ayah tidak pernah membahagiakan ibumu. Itulah alasanmu membenci ayah dan tak pernah lagi memanggilnya dengan kata ayah, melainkan hanya menyeru namanya: Darna. Pun ibuku juga kau panggil namanya belaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Bagaimana bisa aku memiliki dua ibu? Mustahil!” katamu membentak ayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tapi aku tak berubah, tetap memanggil Ibu pada ibumu. Anehnya, kau tetap berlaku baik padaku, sebagaimana mulanya seorang kakak yang tak kurang kasih sayang dan penjagaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Aku selalu mencoba memahamimu. Hingga aku sering menurutkanmu menggelandang pergi dari rumah. Pada akhirnya kita putuskan pergi ke luar kota yang jauh dari rumah. Merantau sekaligus merancang cita-cita melanjutkan sekolah. Dengan ijazah SMA kita nekat kuliah di sebuah perguruan tinggi. Pada akhirnya kita terlampau rutin hidup di jalanan hingga terbiasa oleh asuhah sentimentalia-sentimentalia yang agresif.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Gadis Sendang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Masa dewasa yang matang adalah masa kita termakan sumpah. Pernah kita ucapkan takkan kawin dengan gadis dusun. Kita bertahan hidup di kota saja, katamu. Kujawab, Ya! Dusun akan membuat akal kita terkurung. Tapi kita pulang sementara waktu, paling tidak untuk menunjukkan ijazah sarjana pada ibu. Kau tak membagi sedikitpun kebahagiaan itu pada ayah, juga pada ibuku. Meski begitu ayah dan ibuku bilang sangat bahagia memiliki dua putra yang gigih dan bisa berdiri di kaki sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Aku kangen sekali sama sendang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Baiklah kita ke sana.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kita agak kecewa sebab sendang tak seindah dulu. Air sendang tak lagi penuh. Kita sangat terkejut ketika di Bukit Landa telah berdiri pabrik besar. Pabrik semen yang mengeruk tanah sampai ke kecuramannya. Eksplorasi industri itu membuat kawasan hutan tidak lagi begitu rindang. Konon, binatang buas beberapa kali turun ke pemukiman dan memangsa hewan ternak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Hari berikutnya kita memaksakan diri untuk menikmati sendang. Mata kita menaut seorang gadis tengah mandi dengan berpinjung jarik. Kita yang mengerti malu lantas sepakat menunggu gadis itu di jalan masuk sendang saja. Lalu kita temu gadis periang dengan pipi cembung seolah belahan apel itu. Matanya lebar, tapi amat beningnya. Hidungnya sedang, dan menjorok agak runcing ke depan. Kau memaksanya berkenalan hingga kita tahu namanya: Rosida.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sejak itu kita mulai memiliki rahasia. Diam-diam kau bergerilya untuk mendekati gadis itu. Kau mulai merayunya. Kau main surat. Belakangan, kau tahu aku melakukan hal serupa padanya. Ketika berhadapan, kita saling diam. Tapi di belakang layar, kita mencoba saling mengalahkan untuk mendapatkan gadis itu. Hingga kita benar-benar berseteru. Akhirnya kau anggap dirimu kalah ketika Rosida secara terang-terangan memilihku. Aku tahu kau begitu sakit hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Jangan pernah berlaku cabul seperti ayah! Kau musti hanya memiliki Rosida dan membahagiakannya!” katamu suatu malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kurasa itu pernyataan yang sangat jantan dan membuatku menaruh hormat lebih tinggi padamu. Tapi pagi harinya tak kutemukan kau. Kau pergi tanpa pamit dan tak kembali sampai kini. Mungkinkah aku adalah saudara muda yang terlalu tak tahu diri, sementara kau sengaja mengalah hingga mengasingkan diri begitu jauh. Sejauh jarak yang tak pernah bisa kutemui.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;AKU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; yakin, kau tak pernah melupakannya. Meski enggan mengingat-ingatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tahukah kau? Dua perempuan yang ketika kau kecil semuanya kau anggap ibu kini telah baya. Rambutnya putih abu-abu. Gadis sendang yang membuatmu pergi dari rumah tanpa pesan kini telah mengkurniakan padaku seorang putri cantik. Ia sudah bisa berjalan, bahkan berlari. Kuceritakan padanya bahwa ia memiliki seorang paman yang baik hati. Sedang ayah menjadi makin perkasa. Aku yakin, suatu saat kau akan membanggakannya—daripada mengata-ngatainya sebagai lelaki cabul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ialah lelaki tua yang kini mati-matian berkehendak menutup pabrik semen itu. Ia selalu berada di belakangku, tepatnya bersamaku, bersama oang-orang dusun yang hidupnya terancam, melakukan protes di depan pabrik dan pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Udara di kampung sudah kelewat gerah. Pohon-pohon nyaris habis oleh eksplorasi lahan industri, sebagiannya meranggas dan mati kering di tempatnya berdiri. Air gunung habis. Tinggal setetes-setetes yang kiranya hanya cukup untuk cebok anak-anak kecil. Tanah dusun telah lebih banyak menjadi lahan eksplorasi pabrik. Malah rencananya warga direlokasi ke lain pemukiman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Barangkali cerita-cerita tentang sendang akan benar-benar hilang. Kini, kisah bidadari mandi telanjang di Sendang Widodaren tak lagi menelusup ke telinga anak-anak. Mereka tak mengenal sendang, kecuali cerukan tanah berisi rongsokan bebatuan. Tak ada lagi area jembar di tepi hutan yang bisa digunakan anak-anak main perang-perangan atau bola tendang. Anak-anak sekarang kerap lari ke kota untuk memesrai permainan mesin. Permainan yang menjebak mereka untuk menguras kantong orangtuanya, lantas direcehkan menjadi pecahan koin untuk dimasukkan ke mulut-mulut mesin yang rakus itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kudengar cerita dari orang dusun sebelah yang pulang dari merantau di pulau seberang, bahwa kau telah menjadi orang besar di kota itu. Kukira kini kau punya kuasa untuk membuat sesuatu menjadi lebih mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kuceritakan beberapa kisah itu sebagai pengingat untukmu. Barangkali cerita-cerita itu bisa menemukanmu, dan membisikimu tentang harapanku agar kau kembali ke Kampung Sendang, meski hanya sementara waktu. Barangkali kau bisa membuat barisanku tambah rapat dan kuat. Demi Kampung Sendang tetap ada. Demi semua cerita-cerita masa lalu, juga kisah-kisah manis masa depan, tak dilintang-pukang zaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 12.0pt; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Oktober 2010&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-6474670436573100455?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/6474670436573100455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=6474670436573100455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/6474670436573100455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/6474670436573100455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/09/cerita-cerita-dari-kampung-sendang.html' title='Cerita-cerita dari Kampung Seberang'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-4xIBijxNlqg/ToXYcwFClxI/AAAAAAAAAeo/uWWo-nDDS3Y/s72-c/lelaki+yang+dibeli.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-4796176227390113496</id><published>2011-09-30T07:46:00.000-07:00</published><updated>2011-09-30T07:48:07.094-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumahkisah'/><title type='text'>Tamu Agung</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;(Kedaulatan Rakyat 25 September 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;u&gt;&amp;nbsp;&lt;/u&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Cerpen &lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;MBAH &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Warsa baru saja selesai senam ringan di pelataran rumah. Hanya sedikit keringat membuat lembab singlet putih yang menutupi tubuh kendurnya. Edaran spektrum sinar keemasan dari arah timur laut makin menghangatkan pagi. Begitu aktivitas rutinnya itu selesai, ia kembali duduk di beranda, menghabiskan sisa kopi yang sudah mendingin di cangkir. Matanya menerawang langit yang mulai mengilat cerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"&lt;i&gt;Eee&lt;/i&gt; Bapak, bukannya cepat-cepat mandi malah &lt;i&gt;ngelamun&lt;/i&gt;!" Sapa Rodiya, putri bungsunya, yang hendak menyapu teras rumah itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"Aku mandi nanti siang saja, Ro! Selepas lohor sekalian." Mbah Warsa menyunggingkan bibir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kening Rodiya naik hingga kemerut. Rodiya tambah heran ketika ayahnya memintanya cepat memasak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"&lt;i&gt;Ealah&lt;/i&gt;... Bapak ini! Itu nasinya sudah siap disantap.” Telunjuk Rodiya menuding ke dalam rumah, ke arah dapur. ”Lengkap sambal terasi dan semur lele!"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;”Masakanmu itu hanya cukup untuk orang serumah saja kan? O ya, kemarin aku tak sempat pesan padamu untuk masak yang banyak hari ini. Bikin nasi tiga atau empat dandang. Beli daging yang banyak dari pasar, masak dengan kuah yang banyak pula."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Rodiya belum mengerti maksud ayahnya. Pikirannya agak terang ketika ayahnya mengatakan hari ini akan ada tamu agung. Sanak famili dan para kerabat juga akan datang, setelah lohor nanti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;”Aku ingat betul, harinya Minggu Legi. Hari ini, bukan?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Rodiya tak habis pikir mengapa soal ini tak dikabarkan jauh-jauh hari. Memangnya tamu agung siapa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;”Cepatlah kau, Rodiya! Tak usah banyak berpikir. Kabari kakak-kakakmu, minta bantuan mereka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Rodiya bergegas. Ia tahu waktunya tak banyak. Dipanggilnya kakak-kakaknya. Ada yang pergi belanja ke pasar. Ada yang lekas bekerja di dapur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;”&lt;b&gt;APA&lt;/b&gt; benar kita akan kedatangan tamu agung?” tanya Salim kepada Rodiya yang sibuk mencincang bumbu-bumbu dapur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;”Bapak yang bilang begitu!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;”Aneh! Tapi tak sekali-kali ayah bermain-main ucapan, bukan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lelaki paro baya itu bergegas ke tukang sewa tratak di sebelah desa. Oleh pemilik tratak ia dibilang kurang waras. Mustinya kau memesan beberapa hari sebelumnya, katanya. Menjelang siang, berpasang-pasang tratak sudah mulai didirikan di halaman rumah Mbah Warsa. Para tetangga keheranan melihat kesibukan itu. Orang-orang pun mulai mengancar-ancara hajat apa yang&amp;nbsp; hendak digelar. &lt;/span&gt;K&lt;span lang="SV"&gt;asak-kusuk yang berembus ke telinga orang-orang cukup beragam. Ada yang bilang, Mbah Warsa hendak mengadakan pesta syukuran. Yang lain lagi mengatakan, Mbah Warsa akan kedatangan banyak tamu. Yang lain lagi menebak, Mbah Warsa akan menggelar pertunjukan wayang nanti malam. Pertunjukan yang akan didalanginya sendiri. Siapa tau&amp;nbsp; lelaki tua itu kangen mendalang lagi. Ya, siapa tau! &lt;/span&gt;Sebab dulu Mbah &lt;span lang="SV"&gt;Warsa seorang dalang terkenal. Paling kurang, orang di bilangan propinsi ini mendengar kebekenan namanya sebagai dalang. Namun ia berhenti mendalang setelah istrinya meninggal. Kini kebanyakan waktunya dihabiskan semadi di kamar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"Lim, memangnya akan ada hajat apa sampai pasang tratak segala?" tanya lelaki berkaus longgar warna hitam, yang sejak mula membantu mendirikan tenda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Salim tersenyum. "Kami akan kedatangan tamu agung, lohor nanti."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"Memangnya tamu agung dari mana saja hingga trataknya sejembar ini?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"Pokoknya!" Salim seolah tahu pasti siapa yang hendak bertamu. Padahal hatinya masih ganjal, sekaligus penasaran, pada tamu agung yang bakal datang. Penjelasan mertuanya pagi tadi tidak begitu gamblang. Malah terkesan mencegahnya bertanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mbah Warsa sendiri ikut membaur dengan orang-orang yang tengah memasang tratak. Ia memberi beberapa pengarahan. Seperti tempat duduk yang tidak diperkenankannya menggunakan kursi. Cari karpet saja, katanya, biar muat banyak banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Halaman rumah sudah beres. Empat tangkup tratak terpasang berlekatan dengan gelaran karpet merah. Rodiya dan beberapa perempuan masih sibuk mengurus dapur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mbah Warsa memandangi satu per satu wajah anaknya, juga menantunya, dengan tatapan dalam dan sendu. Mereka yang tidak biasa dipandangi Warsa dengan cara demikian menjadi agak kikuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Semua pekerjaan selesai menjelang lohor. Salim beserta saudara dan iparnya rehat sejenak. Mereka duduk menyelonjorkan kaki di beranda rumah. Salim bersiul-siul kecil. Bayu yang sejuk mengekas perlahan. Mbah Warsa menduduki kursi di teras, tak jauh dari &lt;/span&gt;anak-anak dan &lt;span lang="SV"&gt;menantunya. Roman mukanya berseringai. Juga sorot matanya yang berpinar-pinar. Tampak sekali lelaki itu tengah bersuka menyambut kedatangan tamu agung yang takkan lama lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;"Anak-anakku, aku mau rehat sebentar di kamar. Kalian teruskan pekerjaan jika ada yang belum rampung."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Rodiya melemparkan senyum ke muka ayahnya yang hari ini tampak rewel dengan banyak permintaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;”Memangnya tamu agung siapa sih, Pak?” Salim memberanikan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mbah Warsa hanya tersenyum. ”Nanti kalian tau sendiri.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mbah Warsa merapatkan gorden jendela kamarnya. Tak lagi cahaya matahari menerabas ke biliknya. Kamar itu terasa hening ketika ia menebarinya dengan wewangian yang cukup menyengat. Wangi itu sangat disukainya. Wangi bunga-bunga yang selalu mengingatkannya pada istrinya, juga mengingatkannya pada Gusti Kang Murbeng Dumadi. Sebelum merebah dengan kepala di ujung utara, ia menatap arah barat. Selembar kain polos berwarna putih diselimutkan di tubuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Ia memusatkan pikiran, sekaligus mengosongkannya. Perlahan-lahan tubuhnya terasa tak memerikan apa-apa. Ia rasakan pula jiwanya tenggelam begitu dalam, tak terselam. Rasanya, seolah ia tengah berjalan jauh. Jauh sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Lohor telah lewat. Rodiya sedang bersolek. Dikenakannya pakaian yang dikiranya paling pantas agar ia terlihat menawan ketika menyambut tamu agung dan sanak famili serta kerabat nanti. Begitu juga saudara-saudara dan iparnya, mereka memacak diri sepatut mungkin. Salim mengingatkan Rodiya untuk membangunkan ayahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Begitu Rodiya menguak pintu kamar Mbah Warsa, hidungnya menyesap bau yang aneh. Tapi ia merasa pernah mencium wangi macam itu. Perhatiannya segera beralih pada sebujur tubuh yang tertampak di hadapannya. &lt;/span&gt;Sebuah pembaringan yang tampak sunyi menampung seorang tua yang tengah lelap begitu antap. Rodiya menyadari cara tidur ayahnya lain dari biasanya.&lt;span lang="SV"&gt; Tak pernah dijumpainya Warsa tidur berselimut di siang hari. Ia juga tak pernah melihat ayahnya memiliki selimut berwarna putih polos.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Berangsur-angsur Rodiya mendekat. Ditamatinya wajah ayahnya yang amat lengang. Sayang jika tidur yang sedemikian lelap itu dibangunkan, pikirnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;”Bapak, bangun, Bapak...” Rodiya menggoncangkan tubuh itu, ”Lohor sudah lewat!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tapi Mbah Warsa tak bergerak sedikitpun, meski berulang kali digoncang-goncang tangan Rodiya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Anak-anak dan para menantu berkelimun di kamar Mbah Warsa. Diamatinya wajah lelaki tua yang tampak seolah tak berhenti tersenyum itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;”Subhanallah...” seru Salim, ”Ayah tidur dengan cantik.” Selebihnya ia mengucapkan kalimat tarjik berulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: left; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Rodiya menerbitkan butir-butir bening dari kedua sudut matanya. Rasanya bukan tangis kesedihan ketika itu. Kecuali rasa haru yang berlebihan. Barangkali di antara mereka terkesima pada hadirnya kematian yang begitu istimewa. Kematian yang dijemput dan dipersiapkan dengan indah. Kematian yang datang dengan kelembutan dan keanggunan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kini mereka bersiap menerima kedatangan para sanak famili, kerabat maupun tetangga yang sebentar lagi berduyun-duyun melayat.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Semarang, 2009&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-4796176227390113496?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/4796176227390113496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=4796176227390113496' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4796176227390113496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4796176227390113496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/09/tamu-agung.html' title='Tamu Agung'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-3890362453830039126</id><published>2011-09-30T07:39:00.000-07:00</published><updated>2011-09-30T07:39:52.178-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumahkisah'/><title type='text'>Rumah</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 16px;"&gt;(Solopos &amp;nbsp;4 September 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: left;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14.0pt; mso-bidi-font-family: Wingdings;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt; Cerpen &lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;SUNGSANG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;. Perasaan tunggang-langgang. Harapan dan kepupusan bertukar tangkap. Menjelma perulangan kecamuk yang terbit-terbenam, menjauh-mendekat, dan maju-mundur di rongga dada yang penuh tegangan. Selebihnya adalah kecemasan-kecemasan yang terus menuntut untuk diacuhkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Lalu-lalang bus, orang-orang naik-turun, dengkuran mesin-mesin, teriakan klakson, suara pedagang asongan, nyanyian pengamen, seruan pegawai retribusi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Pulogadung–Cempaka Putih–Tol–Lenteng Agung–Margonda Raya–Depok…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Yanti mengabaikan seruan kernet. Setibanya di Pulogadung rasanya ia enggan meneruskan perjalanan. Matanya menerawang pada hiruk-pikuk manusia yang bergas mencapai masing-masing tujuan. Keramaian manusia bertukar pandang dengan cepat. Tidak ada sesuatu yang menahan mereka untuk bertatapan lebih lama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Sesekali ia mendenguskan napas. Tampak ia berupaya memenangkan diri atas pelbagai kecamuk di dadanya. Ada satu tautan perasaan yang begitu menali dirinya. Seolah tali yang kian terulur panjang, tapi kian erat pula menambatnya. Secarik kertas bertuliskan alamat rumah kerajinan kue di Depok masih digenggamnya. Makin dibacanya berulang alamat itu, justru ia kian ragu. Bahwa yang tertera di kertas itu bukanlah sebenar tujuannya. Lalu ia menginsyafi perjalanannya tidak lebih daripada sebuah pelarian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Disadari pula pelarian yang tengah dijalankannya adalah pesakitan untuk dirinya sendiri. Terasa kepergiannya seolah memisah raga dari jiwanya. Yanti merasa jauh dari dirinya sendiri. Ia merasa kosong. Cuma tubuh yang melompong. Ia&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mendapati raganya telah pergi begitu jauh, tapi hatinya tetap saja tersalib di pintu rumahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Senyum dua anak kecil yang lucu dan ranum. Wajah sangar seorang lelaki bercambang lebat. Sepasang orang baya yang kini mengasuh dua cucu yang terkadang sangat nakal dan manja. Rumah mungil nan cantik yang tak berpenghuni…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Nanang, Nining, ibu ingin kembali ke rumah. Ibu ingin memelukmu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Tanpa disadarinya muncul garis bening di kedua pipinya. Beberapa orang sempat melihatnya tapi enggan memperhatikannya lebih lama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-QOkeTZBcQFQ/ToXUjOEFAiI/AAAAAAAAAek/msY4jLBfa1M/s1600/Rumah.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="393" src="http://3.bp.blogspot.com/-QOkeTZBcQFQ/ToXUjOEFAiI/AAAAAAAAAek/msY4jLBfa1M/s400/Rumah.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 16px;"&gt;“Aku nambah satu tahun lagi. Sekalian kelak aku pulang membawa cukup uang untuk modal usaha. Mumpung, Dik!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Nambah kok terus-terusan! Apa tidak kasihan sama anak-anak? Mereka selalu menanyakanmu, Kang!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Yang enak nanti juga kamu dan anak-anak, bukan?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Aku dan anak-anak lebih senang kamu di rumah, Kang! Daripada uang berapapun jumlahnya, tapi kita tidak bersama.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Tunggu saja setahun lagi!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Kalau kamu tidak pulang, aku juga akan pergi! Biar anak-anak tinggal sendiri di rumah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Terserah kamu!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Yanti melemparkan handphone di kasur. Di situ pula tubuhnya dijatuhkan. Dada Yanti masih panas seraya gemetaran. Pertengkaran terhebat, pikirnya. Ia kalaf hingga berani membentak Yanto cukup keras. Barangkali kekesalan yang bertumpuktimbun di hatinya meledak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Selama ini Yanti cukup sabar menghadapi Yanto yang tidak mau lekas pulang. Lima tahun bukan waktu yang pendek baginya ditinggal suami bekerja di Singapura. Mengasuh Nanang dan Nining sendirian bukan perkara mudah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Musti pergi! Ke mana? O ya, Jakarta. Bagaimana anak-anak? Tinggal bersama kakek-neneknya. Haruskah gertakan mengorbankan begitu banyak? Kelak kemenangan dinikmati bersama. Berapa lama? Sampai Kang Yanto pulang. Jika dia tetap tidak pulang? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Ah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Yanti memutuskan pergi. Masa tunggu sebulan telah memberi jawaban bahwa Yanto tidak mengurusi gertakannya. Sebelum pergi ia menatap rumahnya begitu dalam. Rasa benci menyeruak. Memang belakangan ini ia tidak senang kepada rumahnya sendiri. Dikiranya, rumah justru menjadi penyebab tandusnya rumah-tangganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Mulanya adalah keinginan sederhana. Yanto sangat kepingin bisa membuatkan rumah berukuran sedang untuk Yanti. Sebenarnya Yanti tidak menginginkan rumah seperti yang diimpi-impikan suaminya untuk dikasihkan kepada istri macam dirinya. Pikirnya, dengan bekerja serabutan di desa, keluarganya tetap bisa cukup makan dan sandang. Ia sudah cukup tenteram tinggal di rumah kayu sederhana yang cuma berlantai tanah. Perkara hendak membangun rumah lebih bagus bisa diupayakan dengan menabung sedikit demi sedikit. Namun Yanto memaksakan diri. Mumpung masih muda, dalihnya. Hanya butuh waktu tiga tahun untuk mewujudkan impian itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Yanto telah lima tahun meninggalkan Yanti dan kedua anaknya. Rumah yang dulu bersusun kayu sudah berganti tembok. Lantainya berkeramik merah jambu. Ada kursi sudut merah hati yang empuk. Ranjangnya juga empuk. Dapurnya bersih dengan tempat pencucian piring di meja dapur yang di atasnya terdapat kran. Kamar mandi lengkap dengan kloset. Ada kulkas juga. Tapi Yanto tak juga pulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Kang, aku pergi ke Jakarta. Anak-anak bersama kakek dan neneknya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Kamu tega sama anak-anak, Dik!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Jika Kang Yanto mau pulang, aku juga pulang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Yanti menutup telepon tanpa menunggu jawaban Yanto berikutnya. Hendak ditunjukkan bahwa ancaman yang dibuatnya bukan main-main belaka. Mega hitam beriring-iring di langit mengiringi langkah Yanti. Menjelang ujung jalan gang yang sempit ditamatinya Nanang dan Nining mengawaikan tangan. Pandangannya terbagi pada penampakan rumahnya yang bercat merah muda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Beberapa saat selepas Yanti hilang tertelan tikungan jalan, Nanang dan Nining bersiap dibawa neneknya.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Lalu rumah itu benar-benar kosong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Sudah seminggu Yanti berada di Jakarta. Sebuah rumah kerajinan kue setengah terpaksa memberinya tumpangan pekerjaan. Sepuluh tahun silam, ketika masih lajang, Yanti pernah bekerja di sana. Sebab itulah ia masih mendapatkan belaskasih. Namun Yanti diberi waktu sebulan untuk mendapatkan pekerjaan di tempat lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Tepung. Mentega. Gula. Telor. Ovalet. Bubuk Cokelat. Air Soda. Soda Kue. Vanili. Mesin aduk. Adonan. Cetakan kue. Loyang. Mesin panggang. Dandang kukus. Mesin Kelab. Mesin Cepres. Kemasan. Mesin Kemas. Label…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Nanang. Nining. Rumah. Yanto. Ayah. Ibu. Rumah. Singapura. Lima tahun. Rumah. Rumah. Rumah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Kedirian Yanti tidak sepenuhnya terpusat pada pekerjaannya. Tiba-tiba handphone berdering. Yanti buru-buru cuci tangan. Sesuatu yang diam-diam ditunggu-tunggunya datang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Apakah kamu sudah&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;berubah pikiran, Kang?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Ya!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Yanti merasa sedikit senang. Sementara Yanto tak ingin berbasa-basi sedikitpun, “Aku sudah memperpanjang paspor kerja untuk tiga tahun ke depan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Dada Yanti gemeratap. Tubuhnya surut perlahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Apa?! Kenapa kamu tega, Kang!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;“Kalau mau susul saja aku ke Singapura. Nanti lewat PT penyaluran yang sama denganku dulu. Biar anak-anak tinggal bersama kakek-neneknya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Yanti diam batu. Tenggorokannya serasa terkail kawat bergerigi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Buat apa membuat rumah kalau akhirnya kita tinggalkan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: left; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;Yanti ingin mengatakan sesuatu yang menyeruak di dalam dirinya. Tapi ia benar-benar tidak kuasa bicara apapun. Pun ia tidak menangis. Ia hanya menunggu waktu untuk bisa berteriak sekencang-kencangnya &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;hingga meledakkan tubuhnya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 8pt; text-align: right; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Cambria;"&gt;September 2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-3890362453830039126?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/3890362453830039126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=3890362453830039126' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3890362453830039126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3890362453830039126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/09/rumah.html' title='Rumah'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-QOkeTZBcQFQ/ToXUjOEFAiI/AAAAAAAAAek/msY4jLBfa1M/s72-c/Rumah.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-8661790882474669584</id><published>2011-09-30T07:29:00.000-07:00</published><updated>2011-09-30T07:30:50.778-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumahkisah'/><title type='text'>Marbut</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6pt; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;(Republika 21 Agustus 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6pt; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6pt; text-align: left;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 14pt;"&gt; Cerpen &lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Seruan itu terdengar parau. Melolong melalui dua mesin pengeras suara yang terpasang di bawah sisi kubah. Suara yang kedengarannya tertahan di diafragma, atau seperti nyangkut di tenggorokan, itu tak jemu-jemunya berdendang sumbang. Berharap suara itu menyusupi telinga orang-orang yang sedang lelap, menggitiknya, mengganggunya. Hingga mereka mencerai mimpi dan lekas bangun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Sobar meneguk segelas air putih. Di dini hari yang hening itu, ia kembali melantun puji-puji dan doa-doa untuk membangunkan orang-orang agar lekas sahur. Selang sepuluh menit sekali, pepuji dan dedoa itu diselingi peringatan akan agar orang-orang segera bersahur karena waktu sudah menunjukkan jam sekian atau sekian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Tiga tahunan sudah Sobar jadi marbut di masjid di kompleks perumahan yang ia tinggali. Sejak ia memperistri seorang gadis, teman kuliahnya, dan tinggal di kontrakan kecil yang disewanya dengan harga murah. Pengetahuan agamanya yang mumpuni membikin orang-orang percaya kalau Sobar orang yang tepat untuk memelihara masjid, melantunkan adzan begitu tiba waktu sholat, mengatur jadwal &lt;i&gt;khatib&lt;/i&gt; atau imam shalat jumat. Ketika Ramadan tugasnya bertambah sebagai bilal shalat tarawih dan tarhim. Kedisiplinannya bertarhim membantu orang-orang tak melewatkan sahur. Yah, rasanya ia lebih rajin dan rutin ketimbang alarm handphone atau beker yang disiapkan orang-orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Perasaan naif itu sejak mula samar-samar membersit di sanubarinya. Dan kini membisikinya makin jelas. Bagaimana bisa orang yang sepertinya bakal tidak sahur malah menyeru-nyeru orang-orang untuk bersahur? Begitu batinnya. Pikirannya tiba-tiba seolah bandul jam yang bergerak gontai ke kiri-kanan. Ia mulai meyakinkan diri kalau ia bakalan benar-benar tidak sahur, dinihari kemarin. Sebelas menit lagi&amp;nbsp; waktu sahur habis, tapi tak sesiapa datang membawa makanan untuknya. Di awal-awal Ramadan lalu kerap kali ia dapat kiriman makanan buka atau sahur. Itu cukup membantu kekurangannya bersama sang istri. Tapi melewati pertengahan Ramadan makin jarang orang bersedekah hidangan. Sebenarnya sesisih perasaannya tak ingin bertamak hati mengharap pemberian orang. Namun sebelah hatinya yang lain merasa membutuhkan pemberian hidangan untuk sahur itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-nJaJsQkovWs/ToXRut4LzHI/AAAAAAAAAeg/t3UCXGldYec/s1600/marbut.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/-nJaJsQkovWs/ToXRut4LzHI/AAAAAAAAAeg/t3UCXGldYec/s640/marbut.jpg" width="432" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 16px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 16px;"&gt;Kesadaran Sobar tertuju pada istrinya. Pikirannya mencoba memastikan masih adakah sesuatu di rumahnya yang bisa dimasak istrinya. Diingatnya, persediaan mie instan masih satu bungkus, sisa menu bukanya petang tadi. Sobar gamang. Selebihnya ia memprotes diri mengapa tidak mampu menjamin istrinya dengan menu yang pantas. Protes itu berujung kutuk-rutuk pada dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Tasahharuu… fainna fi al-sahuuru barakah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Sobar sungguh amat tahu arti kalimat-kalimat tarhim yang lantun dari mulutnya itu. &lt;i&gt;Sahurlah kalian… Karena sesungguhnya sahur itu berkah…&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Irhamnaa yaa arhamar-raahimiin…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Ia juga benar-benar mengerti makna kalimat yang diulang-ulangnya itu. Bukan cuma puja-puji atas Tuhan Mahapenyayang dan Yang Mahapengasih. Tetapi kalimat itu juga memesankan agar manusia saling menyayangi dan mengasihi. Ia membatin, orang-orang yang mendengar kalimat itu ketika sahur patutnya memastikan apakah para tetangga bisa sahur atau tidak. Bagi Sobar, melakukan tarhim bukan cuma melantunkan puji-pujian untuk membangunkan orang-orang bersahur, tapi juga menyerukan agar orang-orang senantiasa berkasih-sayang. Entahkah orang-orang di kompleks perumahan mafhum akan makna demikian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;“Imsak… imsak… imsak…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;“Imsak… imsak… imsak…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Sobar merasa sangat aneh pada diri sendiri ketika mendengar seruan imsak dari mulutnya. Semacam kejanggalan yang sebenarnya telah dirasakannya beberapa kali. Dan, lagi-lagi ia merasa kalah. Karena sampai batas waktu sahur habis ia betul-betul memiliki kesempatan untuk memenuhi lambungnya dengan air putih. Dan ia merasa sangat terhina oleh seruan imsak dari mulutnya sendiri. Dirasanya serua imsak itu sebagai cemoohan telak terhadap diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Qona menatap kosong pada meja yang sepi. Suara yang beberapa menit tadi menyeru imsak kini berganti menggemakan adzan. Suara yang dirasakannya makin parau dan tua. Qona merasa tahu benar apa yang terjadi pada diri suaminya dari suara yang kurang tegas dan tatak itu. Andai suaminya mendapat kiriman sahur dari seseorang, pastilah lelaki itu pulang sebentar ke rumah untuk membagi makan sahur itu kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Imsak pun tiba, seperti malam-malam lalu. Ketika terdengar suara iqamat, segera saja Qona bangkit berjalan menuju masjid. Usai jamaah subuh ia berjalan beriringan dengan Sobar. Keduanya berjalan beriringan. Lelaki itu keki dan belum sempat bicara sesuatupun pada Qona.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;“Maaf, Qon…” Kata-kata itu terasa mendadak membersit dari bibir Sobar, tapi putus begitu saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Qona sayu memandangnya. Sorot matanya seolah menyatakan segala pemakluman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;“Maaf kau tidak sahur lagi malam ini, Qon.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;“Ah, Kang… aku tidak begitu lapar.” Qona memaksa bibirnya menyungging.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Sobar tergeming. Rasanya bibirnya tak kuasa berkata apa-apa lagi. Perasaan menyesal berkecamuk di dadanya. Langkahnya terasa melemah seolah tiba-tiba terkena lepra. Pun Qona bergeming saja. Pikirannya tengah bergelut dengan perasaan sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Gelagat mata Sobar menampak wajah istrinya seperti mata sedang mencuri pandang. Kini ciut nyalinya untuk memandang istrinya secara terang-terangan. Ia membatin pelas, mengapa wanita secantik itu tabah saja hidup telantar di kehidupanku. Terbit rasa syukur di sebelah hati kecilnya memiliki istri cantik yang penerima itu. Sekali-kali Qona tidak pernah menuntutnya lebih. Meski begitu, Sobar ingin sekali memberikan sesuatu yang lebih kepadanya. Semacam pemanjaan yang sederhana dan wajar. Ia ingin sekali menjadi lelaki yang penuh kesanggupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Qona sibuk dengan perasaan sendiri. Mendadak berkecamuk pelbagai perasaan di dalam dadanya. Sebisa-bisanya Qona memeramnya. Yang dibiarkan berkembang di dalam perasaannya adalah keinginan untuk selalu merasa cukup dengan hanya memiliki Sobar. Qona meyakinkan diri saat ini Tuhan hanya sedang mengujinya lebih. Harapan terbesarnya kini adalah penyakit Sobar sembuh sempurna dari penyakit hepatitis yang sudah dua tahun dilawan suaminya itu. Kata dokter, ini masa-masa terakhir penyembuhan Sobar. Qona tentu berharap Sobar bisa kembali bekerja, meski serabutan belaka, seperti sebermula mereka menikah tiga tahun silam, sambil menjadi marbut yang meski tak tentu upahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Belakangan Sobar bimbang untuk melangkahkan kaki ke masjid. Pikiran dan hatinya selalu bersitegang. Sukar diterimanya tugasnya yang melayani orang-orang, tapi terasa mengejek diri sendiri. Malam ini ia berada di ambang ragu pada apa yang hendak dilakukannya. Hidup seolah jalan buntu, tak nampak jalan keluarnya. Terbesit bimbang di lubuknya akan doa-doanya pada Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Kurang taat apa aku kepadaMu? Kurang cobaan apalagi, sementara aku masih menanggung sakit yang Kau timpakan? Kurang sabarkah aku terhadap takdirMu? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Begitu pertanyaan-pertanyaan yang malah menyerang dirinya sendiri. Ia lantas meragukan ketaatannya sendiri. Barangkali ketaatannya belum benar, masih jauh dari kesempurnaan. Barangkali pula ia masih sangat berjarak dari kesabaran. Barangkali doa-doanya belum benar pula hingga tidak pernah sampai pada Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Ataukah Kau sedang tidak berlaku adil padaku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Sobar terpekur di tepi ranjang. Istrinya masih pulas. Ia lantas bangkit menuju dapur. Dipandangnya meja makan, cuma mangkuk bekas kolak pisang yang dibawanya pulang dari masjid petang tadi. Ia telan sendiri ludahnya. Getir. Seakan sabut kelapa menjejal di kerongkongnnya. Entah, ia mendadak ingin melupakan segalanya. Melupakan kekesalan pada dirinya yang terus menghiba. Entah berapa lama ia tidak mewaspadai diri hingga disadarinya tubuhnya sudah berjalan ke arah masjid. Ia rasakan langkahnya ringan. Kakinya terasa melayang-layang kecil. Dirasakan pula gerak-gerak kecil yang membelit perutnya. Perih dinding lambungnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Tiba-tiba ia ingat kebohongannya petang tadi. Ia mengaku pada istrinya kalau ia sudah berbuka di masjid duluan. Padahal sebenarnya jatah kiriman buka di masjid sore tadi cumalah seporsi nasi dan semangkuk kolak yang dibawa pulang untuk istrinya. Sebelum naik ke masjid, Sobar sempat membersitkan doa agar istrinya tetap tidur lelap. Terasa aneh memang, namun itu dirasanya lebih baik ketimbang istrinya bangun tapi tidak&amp;nbsp; memiliki apa-apa untuk disantap sahur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Suaranya kembali melolong dari mesin pengeras suara. Menelusupi telinga orang-orang hingga satu per satu di antara mereka bangun. Lolongan keras dan panjang. Panjang-panjang. Suaru garau yang dominan dengan getar-getar parau. Orang-orang yang mendengarnya merasakan keanehan. Mereka mengira Sobar terlalu bersemangat hingga tarhim diserukannya dengan teriak-teriak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Lama-kelamaan suaranya tersimak acak dan kacau. Seperti menceracau. Makinlah suaranya terdengar aneh penuh desah-desah napas yang menyengguk dan menyengal. Ia tak merasakan apa-apa kecuali terperangkap dalam tegangan ekstase yang seolah berada diluar kendalinya. Matanya lebih kerap memejam daripada mengawasi sekelilingnya, seraya terus diteriakkanya puja-puji dan doa-doa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Lalu kembalilah ia menatap kenyataan. Menatap dinding-dinding bercat krem cerah. Menatap kaligrafi warna tembaga yang menuliskan nama-nama Tuhannya dan ayat-ayat suciNya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Lalu kembalilah ia menatap kenyataan. Merasakan perutnya yang kian dililit perih yang sakit. Seperti ada mulut jahat yang mengisap dinding-dinding lambungnya. Tak disadarinya akan suaranya yang makin keras. Teriak-teriak seperti seruan orang sedang marah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Lalu ia mendongak, melihat langit-langit kubah yang kemilau cerah. Matanya mengabur. Tapi silau itu masih beberapa saat tertawan di bola matanya sebelum benar-benar meredup menelma lembar pekat kekuning-kuningan. Semacam kertas kosong yang senyap dan mengerikan. Tapi di sanalah ia melihat keindahan. Dilihatnyalah sorga di sebuah ketinggian yang entah. Taman penuh telaga dan bunga-bunga. Buah-buahan yang bisa dipetik sekehendak hati. Juga aneka makanan yang &amp;nbsp;bisa diminta sesuka hati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Sesaat kemudian Sobar merasa terbang menuju langit-langit kubah itu. Menuju sorga yang kosong itu. Suaranya mendadak patah dan berhenti setelah ia terjengkang dari duduknya. Di luar sana, di luar masjid itu, orang-orang belum mengerti kalau Sobar lapar sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-bottom: 6pt; text-align: right; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;Semarang, Agustus 2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-8661790882474669584?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/8661790882474669584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=8661790882474669584' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8661790882474669584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8661790882474669584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/09/marbut.html' title='Marbut'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nJaJsQkovWs/ToXRut4LzHI/AAAAAAAAAeg/t3UCXGldYec/s72-c/marbut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-3236064943911019178</id><published>2011-09-28T12:02:00.000-07:00</published><updated>2011-09-28T18:16:41.114-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Pergolakan Iman Seorang Atheis</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;(Suara Merdeka 25 September 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Judul : Matinya Seorang Atheis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: Zaim Rofiqi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: Koekoesan, Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tahun&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: Cet I, Juni 2011&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: 978-979-1442-49-7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;: xi + 151 halaman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xJ8-x9Cei_I/ToPGNLSu3YI/AAAAAAAAAeY/gjHW_AKGbyU/s1600/matinya+seorang+atheis.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-xJ8-x9Cei_I/ToPGNLSu3YI/AAAAAAAAAeY/gjHW_AKGbyU/s400/matinya+seorang+atheis.jpg" width="263" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pergulatan spiritualitas manusia rentan terseret ke medan yang sarat tegangan. Ikhtiar mengukuhi iman acap jatuh ke lorong kegelapan jiwa. Fase kegelapan itulah yang justru potensial membukakan pintu pertobatan: fase kepasrahan diri setelah rampungnya babak pemberontakan yang melelahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;i&gt;Matinya Seorang Atheis&lt;/i&gt;, kumpulan cerita karya Zaim Rofiqi, hadir mewartakan kegentingan spiritual. Tokoh-tokoh aku dalam cerpen “Matinya Seorang Atheis”, yang dipetik menjadi judul buku, mengalami tegangan iman yang mengguncang. Pengaluran dirajut dengan kompleks dan berlapis. Pelik penolakan iman dikisahkan melalui tiga tokoh aku yang dihubungkan dalam kesatuan narasi: menggugat ketidakhadiran Tuhan di dalam penderitaan yang bertubi-tubi memecundangi hidup manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Si aku pertama adalah sosok yang tak terselamatkan dari tragis perkosaan ayahnya. Setelah janinnya digugurkan paksa, sang ayah malah menjualnya kepada germo. Si aku kedua terlarat dalam kemiskinan yang berujung petaka ketika para penagih utang datang, sementara ia tak punya apa-apa untuk membayar. Para penagih utang lantas melampiaskan hasrat kebinatangannya dengan memperkosa istrinya bergiliran, dan membawa kabur anak perempuannya semata wayang. Lintasan peristiwa tragis itu menyebabkan si aku “mendendam” pada Tuhan. Ia menanggalkan sisi kemanusiaannya (cinta kasih dan emoati) hingga mengombang-ambingkan hidupnya menjadi maling, perampok, kecu dan pembunuh bayaran. Sedangkan si aku ketiga adalah sosok yang memperjuangkan gagasan teologisnya. Ia menuliskan pengalaman pencariannya akan Tuhan dengan jalan intelektual, namun nahasnya justru ia dibui lantaran dakwaan menodai keyakinan agama. Begitu, ia merasa cintanya pada Tuhan terkhianati, berbalas label “murtad” dan “kafir” dari sesama pecintaNya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kisah ini amat kentara mencurahkan protes iman yang kuyup oleh ironi dan paradoks. Di satu sisi, kehidupan ketiga tokoh itu berangkat dari ketaatan kepada Tuhan (agama), namun pada perjalanannya ketaatan itu justru tidak membuahkan nasib baik, kecuali kegetiran yang berlarat-larat. Ketegangan tokoh-tokoh tersebut menjadi lebih intensif ketika mereka menghadapi kematian. Situasi menjelang kematian memerangkap kesadaran religius mereka ke dalam kecemasan dan keterpecahan, sekaligus menjadi momen penentu keputusan akhir keimanan. Momentum menuju kematian memosisikan iman tak terlindungi dari godaan dan kegoncangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;“Aku sadar, batas itu akan segera menebasku. Aku tahu, kini waktu, menjadi giliranku. Aku sadar saat itu telah dekat. Tapi semuanya telah terlambat. Semuanya telah hancur. Diriku, harapanku, mimpi-mimpiku, semua hal yang berharga dalam hidupku, dan yang paling penting: kepercayaanku kepadamu. Bagiku, kau telah tidak ada lagi. Bagiku, kau telah mati. Sejak dulu. Ya, sejak dulu” (hlm 61). Begitu, seorang atheis mengikrarkan ketidakberimanannya di ujung hayat, bahkan dianggapnya Tuhan tak kuasa menghalangi keingkaran itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Nuansa pergulatan iman juga terpapar dalam cerpen “Pungguk”. Burung di dalam kisah tersebut adalah pernik metafora yang memaknakan perjalanan spiritual manusia. Alkisah, Pungguk adalah seekor burung yang sejak kecil dididik induknya untuk mencintai dan memuja bulan. Namun seiring pengalamannya, Pungguk merasa ajaran mendamba dan memuja bulan itu tak masuk akal. Ia tak mau mengikuti kebodohan-kebodohan burung-burung lain yang saban malam merindukan bulan hingga lelah. Penolakan itu beralih menjadi rasa benci pada bulan yang dianggapnya tak lebih sebagai candu yang mengilusi burung-burung. Kebencian itu mendorong Pungguk membuat perhitungan. Terbanglah ia setinggi-tingginya hingga mencapai bulan. Dalam semalam, bulan itu dilumat, dimakan dan dihancurkan dengan paruhnya. Cerita ditutup dengan narasi yang seolah memaknakan kesia-siaan: “Ya, kini aku paham: bulan tak bersinar. Aku pun tak bersinar” (hlm 92).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kuatnya gagasan eksistensialisme yang memboboti kedua cerpen di atas seolah hanya melemparkan manusia pada gerowong absurditas. Mosi-mosi gugatan kepada Tuhan dimandekkan pada fase pengingkaran atau penolakan iman belaka. Seolah tidak muncul proses mentransendensikan dan mengungguli pengingkaran itu. Bisa ditengok, misal, gagasan Friedrich Nietszche seperti &lt;i&gt;amor fati&lt;/i&gt; (cinta nasib) atau &lt;i&gt;ubermensch&lt;/i&gt; (manusia super) sebagai alternatif mengatasi kondisi nihilitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Di sini, krisis eksistensial gagal diolah menjadi jalan pertobatan intelektual—meminjam istilah Lonergan (Supaat I Lathief, 2008: 107)—yakni ketika bentuk pemberontakan batin yang lambat laun berubah menjadi kepasrahan diri. Kepasrahan, seperti dinyatakan filsuf eksistensialis Karl Jaspers, adalah kesiapan menerima kehidupan apapun yang terjadi. Cerita lainnya, “Kamar Bunuh Diri” dan “Bidadariku” juga mengeret pembaca ke labirin absurditas yang tak tertolong. Pembaca dilarung ke kompleksitas imaji dunia yang kontradiktif nan kacau, namun seolah tidak diberikan jalan keselamatan baginya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Meski begitu, buku kumpulan cerita ini cukup berhasil menjadi medium untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan besar eksistensialisme-absurdisme yang merentang dari pemikiran Nietzsche, Jean Paul Sartre, Albert Camus, dsb. &lt;i&gt;Matinya Seorang Atheis&lt;/i&gt; menjadi catatan kaki yang kritis atas pergulatan iman manusia modern yang sarat kecemasan-kecemasan skizofrenik, ambiguitas, kontradiksi, dan &lt;i&gt;chaos&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;--&lt;b&gt;Musyafak, &lt;/b&gt;&lt;i&gt;penggiat di Open Mind Community Semarang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-3236064943911019178?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/3236064943911019178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=3236064943911019178' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3236064943911019178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3236064943911019178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/09/pergolakan-iman-seorang-atheis.html' title='Pergolakan Iman Seorang Atheis'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-xJ8-x9Cei_I/ToPGNLSu3YI/AAAAAAAAAeY/gjHW_AKGbyU/s72-c/matinya+seorang+atheis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-6268683164974004338</id><published>2011-09-28T11:54:00.000-07:00</published><updated>2011-09-28T18:20:06.089-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Catatan Muhibah Hanum Rais</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;(GATRA 21 September 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-BEysd5__LxQ/ToNtDAGEDlI/AAAAAAAAAeQ/g7dEkAzlQRc/s1600/99+Cahaya+di+Langit+Eropa%25231.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-BEysd5__LxQ/ToNtDAGEDlI/AAAAAAAAAeQ/g7dEkAzlQRc/s400/99+Cahaya+di+Langit+Eropa%25231.jpg" width="263" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Judul : 99 Cahaya di Langit Eropa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga&amp;nbsp;Almahendra&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,&amp;nbsp;Juli 2011, 424 halaman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Penjelajahan historis dari Cordoba hingga Turki yang ditorehkan Hanum&amp;nbsp;dan suaminya memberi penyadaran sejarah tersendiri. Ditulis dengan&amp;nbsp;gaya bertutur seorang novelis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Kebesaran Islam tidak hanya&amp;nbsp;bisa dilacak di Timur Tengah.&amp;nbsp;Eropa yang mayoritas masyarakatnya&amp;nbsp;non-muslim juga&amp;nbsp;menyisakan situs-situs sejarah kejayaan&amp;nbsp;Islam. Bahkan Abad Kebangkitan atau&amp;nbsp;Pencerahan (Renaissance) di “Benua&amp;nbsp;Biru” itu tidak lepas dari perkembangan&amp;nbsp;ilmu pengetahuan di kalangan pemikir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;muslim pada Abad pertengahan, seperti&amp;nbsp;Ibn Rusyd.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Buku ini sebenarnya adalah catatan&amp;nbsp;perjalalan pengarang, Hanum Salsabila&amp;nbsp;Rais dan Rangga Almahendra. Memoar&amp;nbsp;pengembaraan di Eropa selama tiga tahun&amp;nbsp;oleh pasutri ini diceritakan apik dengan&amp;nbsp;bahasa yang mengalir bak novel. Perjalanan&amp;nbsp;di empat negara --Wina (Austria),&amp;nbsp;Paris (Prancis), Cordoba dan Granada&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;(Spanyol), serta Istanbul (Turki)-- menghadirkan&amp;nbsp;fantasi keindahan sekaligus&amp;nbsp;kekelaman sejarah Islam di Eropa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Mezquita di Cordoba, Spanyol&amp;nbsp;(Andalusia), menjadi bukti kejayaan Islam&amp;nbsp;di Eropa pada Abad pertengahan. Mulanya&amp;nbsp;Mezquita adalah bangunan masjid&amp;nbsp;besar. Pasca kekalahan imperium Islam,&amp;nbsp;bangunan ini beralih fungsi menjadi gereja.&amp;nbsp;Meski bentuk bangunannya masih&amp;nbsp;seperti sediakala, percampuran simbol-simbol&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;agama tidak bisa dihindari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Menara Mezquita yang khas arsitektur&amp;nbsp;Islam, di puncaknya diletakkan lonceng&amp;nbsp;dan salib untuk menandai bangunan&amp;nbsp;tersebut bukanlah masjid, melainkan&amp;nbsp;katedral. Terjadi pula&amp;nbsp;sedikit perusakan ukir-ukiran&amp;nbsp;kaligrafi Arab di atapnya.&amp;nbsp;“Ukir-ukiran yang indah&amp;nbsp;itu atas nama sejarah harus&amp;nbsp;dicongkel dan dihapus,” tulis&amp;nbsp;mereka (halaman 260).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Cordoba, kota pertama&amp;nbsp;di Eropa yang dibangun oleh&amp;nbsp;imperium Islam, ternyata&amp;nbsp;menyimpan&amp;nbsp;jejak pluralisme&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;umat muslim. Itu tampak&amp;nbsp;dari mihrab Mezquita yang&amp;nbsp;tidak tepat menghadap kiblat,&amp;nbsp;sebaliknya menyerong ke&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;arah selatan. Sengaja dibuat&amp;nbsp;demikian sebab di sebelah&amp;nbsp;masjid tersebut sudah ada gereja yang lebih&amp;nbsp;dulu berdiri. Andai mihrab dipaksakan&amp;nbsp;menghadap kiblat, mau tak mau gereja&amp;nbsp;harus dirobohkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sultan Al Rahman menyadari betul&amp;nbsp;hak-hak ibadah umat agama lain. Para&amp;nbsp;jamaah salat di Mezquita justru harus&amp;nbsp;mengalah: menyerongkan badan ke arah&amp;nbsp;tenggara untuk menghadap kiblat. Cordoba&amp;nbsp;saat itu menjadi model pluralisme&amp;nbsp;antar umat beragama: tempatnya umat&amp;nbsp;muslim, Katolik, dan Yahudi hidup berdampingan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;dengan damai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pemandangan berbeda tampak pada&amp;nbsp;Hagia Sophia di Istanbul yang menjadi&amp;nbsp;ikon kemenangan Dinasti Usmaniyah&amp;nbsp;atas Byzantium Romawi. Katedral agung&amp;nbsp;itu beralih fungsi menjadi masjid tanpa&amp;nbsp;adanya perusakan simbol-simbol Katolik&amp;nbsp;di dalamnya. Demi suatu alasan keadilan,&amp;nbsp;Hagia Sophia justru dijadikan museum&amp;nbsp;untuk melenyapkan ketegangan sejarah&amp;nbsp;antarumat beragama. Sehingga Hagia&amp;nbsp;Sophia sampai kini masih dapat dinikmati&amp;nbsp;oleh semua umat beragama.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Jelajah historis sang penulis dari&amp;nbsp;Cordoba ke Turki memberikan penyadaran&amp;nbsp;sejarah tersendiri, sejatinya peperangan&amp;nbsp;antaragama tidak pernah ada.&amp;nbsp;Kecuali “dosa sejarah” umat manusia&amp;nbsp;untuk kepentingan perebutan kekuasaan&amp;nbsp;semata. Agama dijadikan kambing&amp;nbsp;hitam atau korban untuk melegitimasi&amp;nbsp;hasrat berkuasa antarimperium, seperti&amp;nbsp;yang terjadi pada penaklukan muslim di&amp;nbsp;Cordoba maupun “Perang Salib” yang&amp;nbsp;ratusan tahun meneror umat beragama di&amp;nbsp;dunia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Selain menguak sisa-sisa kejayaan&amp;nbsp;Islam di Eropa, Hanum dan Rangga&amp;nbsp;juga membeberkan realitas umat muslim&amp;nbsp;Eropa. Subordinasi dan diskriminasi terhadap&amp;nbsp;kaum muslim imigran menjadi&amp;nbsp;kisah pelik tersendiri.&amp;nbsp;Di Wina, misalnya, dikisahkan&amp;nbsp;beberapa pemuda non-muslim yang&amp;nbsp;mengejek Islam dengan cara memakan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;croissant, semacam roti yang berbentuk&amp;nbsp;bulan sabit. Croissant, yang mirip lambang&amp;nbsp;bendera Turki, menjadi senjata untuk&amp;nbsp;mengolok-olok kekalahan Turki atas&amp;nbsp;Eropa. Sekaligus olok-olok bagi kaum&amp;nbsp;muslim pada umumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Perihal diskriminasi yang lebih riil&amp;nbsp;juga ditampilkan dalam fragmen cerita&amp;nbsp;tentang Wina. Fatma, misalnya, tokoh&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;dalam novel itu, tidak bisa&amp;nbsp;mendapatkan&amp;nbsp;pekerjaan yang&amp;nbsp;diinginkan&amp;nbsp;karena jilbab yang&amp;nbsp;ia pakai. Tampak akses-akses&amp;nbsp;ekonomi&amp;nbsp;cukup tertutup bagi&amp;nbsp;perempuan muslim, apalagi&amp;nbsp;kaum imigran. Meski begitu,&amp;nbsp;Fatma dan komunitas kecil&amp;nbsp;muslim yang taat di sana tetap&amp;nbsp;berusaha menunjukkan Islam&amp;nbsp;yang ramah. Bahkan, Fatma&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;berpesan agar setiap muslim&amp;nbsp;menjadi agen yang mewartakan&amp;nbsp;Islam damai dan rahmatan lil&amp;nbsp;‘alamin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;--&lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;penggiat di Open Mind Community Semarang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-6268683164974004338?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/6268683164974004338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=6268683164974004338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/6268683164974004338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/6268683164974004338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/09/catatan-muhibah-hanum-rais.html' title='Catatan Muhibah Hanum Rais'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-BEysd5__LxQ/ToNtDAGEDlI/AAAAAAAAAeQ/g7dEkAzlQRc/s72-c/99+Cahaya+di+Langit+Eropa%25231.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-1288163712104689702</id><published>2011-09-28T11:31:00.000-07:00</published><updated>2011-09-28T11:32:05.259-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Jalan Baru Politik Buku</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;(Radar Surabaya 17 September 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Saya pernah geram karena seorang kawan bilang internet itu sampah. Kualitas teks-teks dan bacaan di internet jongkok. Blog, misalnya, selain berisi hal-hal remeh-temeh cuma membikin kultur orang narsis dan &lt;i&gt;lebay&lt;/i&gt;. Ia memihaki buku secara mutlak sebagai sumber sekaligus penuntun pengetahuan dan peradaban manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Tentu pandangan itu keliru bagi saya. Barangkali, sebetulnya ia tidak benar-benar memahami internet meski sudah beberapa tahun memanfaatkan &lt;i&gt;e-mail&lt;/i&gt;. Ia bukan “anak zaman” yang lahir dengan paradigma lengkap dalam menilik teknologi informasi. Pandangan internet adalah sampah merupakan produk dari pengelolaan rasio biner dalam menyandingkan internet dan buku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Bila dibalikkan secara dekonstruktif, buku pun bisa dibilang sampah. Kultur buku terkini tidak selalu berawal dari semangat pencerahan. Semangat kapitalisasi memenjarakan buku dalam arena produksi tanpa jaminan mutu. Produksi buku juga bisa jadi sangat kontraproduktif dalam ranah persemaian gagasan-gagasan baru, sekaligus pendalaman gagasan yang telah ada. Orang harus bayar mahal demi sebuah jilidan kompilasi kutipan dari buku-buku lain. Notasi ilmiah, daftar pustaka atau &lt;i&gt;bibliography&lt;/i&gt; menjadi tameng dan label keilmiahan buku, meski buku itu lahir dari cara “memulung”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Fanatisme pada buku pun akan dimentahkan oleh kenyataan perilaku konsumsi buku masyarakat saat ini. Di tengah maraknya&amp;nbsp; buku panduan praktis (&lt;i&gt;how to&lt;/i&gt;), sebaliknya buku sastra atau filsafat berangsur-angsur “dilupakan” masyarakat. Jadilah peradaban masyarakat buku perlahan kehilangan imajinasi dalam memandang hidup. Perkara-perkara yang digulati adalah cara-cara hidup pakem dan terukur menurut buku panduan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pilihan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Memasuki internet ibarat memasuki toko buku. Di dalamnya tersedia bermacam-macam teks dan pelbagai informasi. Orang hadir di dalamnya membawa “sejarah diri” dan “horizon kepala” masing-masing: pengalaman membaca dan latar intelektualnya. Sama di toko buku, orang hadir di internet dengan pelbagai rencana pencarian, meski kadang semua kepentingannya tak terpenuhi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Pada akhirnya, sampah atau tidak, berkualitas atau tidak, buku maupun internet sangat bergantung bagaimana cara orang memilah bahan dan mendayagunakannya. Keduanya menyediakan berbagai kemungkinan apakah manusia menjadi beradab atau tidak, baik dari cara pikir maupun laku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Berkah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Sintesis buku dan internet, sebenarnya sudah berjalan sejak lama. Lahirnya buku elektronik (&lt;i&gt;e-book&lt;/i&gt;) merupakan jalan baru bagi perpolitikan buku. Internet memberi kemudahan orang untuk mengakses kebutuhannya dengan modal yang tidak begitu banyak. &lt;i&gt;Books.google.com&lt;/i&gt;, misalnya, menyediakan koleksi ribuan buku yang bisa dibaca &lt;i&gt;online&lt;/i&gt;. Situs-situs penyedia &lt;i&gt;e-book&lt;/i&gt; pun marak dan tak henti membagi berkah, taruhlah &lt;i&gt;library.nu &lt;/i&gt;yang mengoleksi sekitar 5.000-an buku yang bisa diunduh gratis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Warta tentang berkah internet dapat disimak dari Goenawan Mohammad (GM). &lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Suatu hari ia ingin mengutip sebuah sajak Toto Sudarto Bachtiar yang terbit di tahun 1955, tapi buku tersebut tak dimilikinya lagi. Lantas ia mencari di internet dan mendapatkannya di sana. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Karena itulah GM terdorong membuat situs dengan angan turut memudahkan orang untuk mendapatkan naskah atau bacaan di internet (&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.goenawanmohamad.com/"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;www.goenawanmohamad.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;). Di blog atau situs pribadi, orang bisa saling berbagi tanpa tegangan motif materalistis tertentu. Kita bisa berbagi dengan siapa saja meski tidak dikenali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Bagi saya sendiri, mengenal internet dan &lt;i&gt;e-book&lt;/i&gt; adalah berkah. Buku-buku yang tidak bisa saya beli atau stok di toko sudah habis, ternyata bisa didapatkan di internet. Saya menemukan e&lt;i&gt;-book&lt;/i&gt; kumpulan puisi Sutardji Chalzoum Bachri mulai dari &lt;i&gt;O&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Amuk&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Kapak&lt;/i&gt;. Juga puisi Amir Hamzah (&lt;i&gt;Buah Rindu, Nyanyi Sunyi&lt;/i&gt;), Chairil Anwar (&lt;i&gt;Derai-derai Cemara&lt;/i&gt;), WS Rendra (&lt;i&gt;Demi orang-orang Rangkasbitung, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak&lt;/i&gt;), Sapardi Djoko Damono (&lt;i&gt;Hujan Bulan Juni&lt;/i&gt;), &lt;i&gt;Puisi-puisi Wiji Thukul&lt;/i&gt; dan juga ratusan naskah drama, novel atau kumpulan cerpen. Buku-buku luar negeri pun saya akses dengan leluasa di &lt;i&gt;library.nu&lt;/i&gt;, seperti &lt;i&gt;Colonial and Postcolonial Literature&lt;/i&gt; (Elleke Boehmer), &lt;i&gt;Devils and Rebels: The Making of Hawthorne’s Damned Politics&lt;/i&gt; (Larry J. Reynolds), &lt;i&gt;Bridge or Barrier: Religion, Violence and Visions for Peace&lt;/i&gt; (Gerrie ter Haar and James J Busuttil, &lt;i&gt;ed&lt;/i&gt;), &lt;i&gt;The Archeology of Knowledge&lt;/i&gt; (Michel Foucault), &lt;i&gt;Islamic History and Civilization: Studies and Texts&lt;/i&gt; (Wadad Kadi and Rotraud Wielandt, &lt;i&gt;ed&lt;/i&gt;), dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Jadilah nternet bukan sekadar tempat membuang umpatan, keluhan, juga kecengengan sehari-hari. Jikapun memang fakta demikian ada, paling tidak internet memberi situasi hidup tertentu bagi orang-orang tertentu untuk menyuarakan dan mengeskpresikan diri—yang kita memang tidak bisa menihilkannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;Di ruang maya manusia bisa membangun keadabannya, di samping sokongan buku cetakan di tangannya. Tak pelak, jalan baru politik buku era terkini tidak bisa menutup mata dengan internet. Ruang itu bisa dikelola untuk kepentingan keberadaban umat manusia: berpikir produktif dan berbagi pengetahuan tentang dunia yang multikultur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;—&lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;pegiat di Open Mind Community Semarang&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-1288163712104689702?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/1288163712104689702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=1288163712104689702' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1288163712104689702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1288163712104689702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/09/jalan-baru-politik-buku.html' title='Jalan Baru Politik Buku'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-4111971523986016200</id><published>2011-08-13T23:43:00.000-07:00</published><updated>2011-08-13T23:43:42.530-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Sejarah Pancasila, Masa Depan Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(Radar Surabaya 14 Agustus 2011) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-e_p8LkU3TFY/TkdughHIZSI/AAAAAAAAAdw/qRu1Fm131Jg/s1600/sampul+Negara+Paripurna.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-e_p8LkU3TFY/TkdughHIZSI/AAAAAAAAAdw/qRu1Fm131Jg/s320/sampul+Negara+Paripurna.jpg" width="286" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-size: x-small;"&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Yudi Latif&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: I, 2011&lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: xxvii + 667 hlm&lt;br /&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: 978-979-22-6947-5&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Indonesia kini dalam keadaan darurat dan bahaya. Cita-cita berbangsa kabur di tengah perayaan ideologi dan politik yang mengarak kepentingan-kepentingan sempit golongan. Perlu kembali menilik Pancasila sebagai falsafah bangsa yang paripurna.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari itu, 30 September 1950, di sebuah sidang PBB, Soekarno tidak sekadar memperkenalkan pancasila kepada dunia, tetapi terlebih mengingatkan bangsanya sendiri. Barangkali orasinya masih bisa kita ingat, bahwa semua bangsa memerlukan suatu konsepsi dan cita-cita. Jika konsepsi dan cita-cita itu kabur dan usang, maka bangsa sedang dalam bahaya. Soekarno mengimani Pancasila sebagai weltanschauung atau dasar falsafah, konsepsi sekaligus cita-cita kebangsaan. Hanya di atas dasar Pancasila, manusia dari Sabang sampai Merauke bisa bersatupadu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku setebal 700 halaman ini merupakan ikhtiar Yudi Latif untuk membumikan kembali Pancasila. Menguak sejarah Pancasila demi merumuskan Masa Depan Indonesia. Mengingatkan kembali genius-genius nusantara yang menjadi dasar identitas kebangsaan Indonesia. Buku Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila ini dimulai dengan refleksi tentang watak dasar nusantara sebagai bangsa maritim dan agraris. Indonesia tergolong archipelago atau negara kepulauan, yakni negara lautan yang ditaburi pulau-pulau”. Laut memberikan deskripsi yang cukup luas bagaimana jati diri masyarakat nusantara terbentuk. Watak lautan adalah keluasan yang digenapi kemampuan untuk menampung segala keragaman isi di dalamnya. Lautan punya daya menyerap tanpa musti mengotori. Kepulauan Indonesia terletak di tengah persilangan antarsamudera dan antarbenua sehingga masyarakat dan penguasa di nusantara terbiasa menyerap unsur-unsur baru untuk disenyawakan dengan unsur-unsur lama. Jadilah nusantara sebagai kuali pengolahan budaya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak pelak Denys Lombard memukadimahi bukunya Nusa Jawa Silang Budaya (I, 1996: 1) bahwa nyaris tidak ada tempat di&amp;nbsp; dunia ini yang&amp;nbsp; menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar di dunia, kecuali nusantara. Nusantara, khususnya Jawa, adalah prototipe masyarakat yang berhasil mengolah diri di dalam perangkap “nebula sosial-budaya” yang secara kuat memengaruhinya, di antaranya indianisasi, jaringan Islam-Cina, serta arus pembaratan. Tetapi semua unsur itu mampu hidup berdampingan, bahkan melebur menjadi satu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kultur agraris juga mencerminkan genius nusantara. Tanahnya yang subur memudahkan segala sesuatu untuk ditanam. Identik dengan watak nusantara yang sanggup menerima dan menumbuhkan segala sesuatu (hlm 5). Kerja pertanian telah mengolah watak masyarakat Indonesia menjadi etos hidup yang religius, gotong-royong, kekeluargaan dan sensitivitas.&lt;br /&gt;Genius nusantara itu penting dijadikan refleksi multikulturalisme di Indonesia. Musti diinsyafi, cetakan dasar nusantara sebagai dasar penyerbukan silang budaya adalah persamaan dalam perbedaan (hlm 264). Begitulah prinsip kemajemukan seperti diajarkan Mpu Tantular dalam Kitab Sotasoma, “Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa”: berlainan tetapi tunggal-menyatu, tidak ada kebenaran yang mendua.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Historiografi Pancasila didedah Yudi Latif mulai proses perumusannya pada 1 Juni 1945. Agenda itu menemukan kesatuan pandang tentang philosophische grondslag (landasan filosofis) atau weltanschauung&amp;nbsp; yang menurut ikhtisar Soekarno meliputi lima prinsip dasar kebangsaan. Yaitu kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang berkebudayaan. Kelima asa itulah yang kemudian dirumuskan menjadi Pancasila yang disahkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam diskursus kebangsaan, Pancasila baik sebagai filsafat dasar maupun cita-cita bangsa merupakan konsepsi final. Berbagai fase konseptualisasi Pancasila, mulai pembuahan, perumusan dan pengesahan, melibatkan partisipasi berbagai unsur golongan. Sehingga Pancasila adalah sebuah kreasi bersama dan milik bangsa bersama-sama. Karya bersama ini menjadi dasar statis pemersatu bangsa Indonesia, sekaligus mengatasi kepentingan kelompok-kelompok yang ada. Pancasila, seperti dikatakan Soekarno adalah leistar atau bintang penuntun yang dinamis dan benderang untuk mengarahkan bangsa dalam mencapai tujuannya. Pancasila adalah sumber jati diri, kepribadian, moralitas, dan jalan keselamatan bangsa.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pancasila lahir dalam situasi kulminasi kolonialisme-imperialisme. Sebagai limpahan cita-cita kedaulatan rakyat, Pancasila memiliki jangkar kuat dalam sejarah politik Indonesia. Bersumber dari tradisi musyawarah masyarakat desa, semangat kesedarajatan, persaudaraan dan permusyawaratan Islam, serta gagasan emansipasi-demokrasi Barat, Pancasila adalah wujud penyatuan kehendak untuk membebaskan bangsa dari represi politik dan ekonomi kolonialisme-kapitalisme (hlm 468). Prinsip keadilan di dalam Pancasila merupakan nukleus moral dari ketuhanan, perikemanusiaan, persatuan, dan kedaulatan rakyat. Keadilan mencakup imperasi terhadap prinsip-prinsip tersebut, sekaligus penegas orientasi dan visi paripurna NKRI. Kemartabatan bangsa terletak pada kemampuannya untuk mendistribusikan keadilan bagi seluruh warga negaranya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pesimisme berbangsa perlu dilawan dengan penghayatan menyeluruh atas nilai-nilai Pancasila. Pancasila musti bergerak dari idealitas ke realitas. Semangat membumikan Pancasila harus melalui teladan&amp;nbsp; dari penyelenggara Negara. Nilai-nilai Pancasila harus diaktualisasikan dalam laku adil sejak dalam merumuskan kebijakan, menjunjung tinggi hukum, solidaritas politik nirkorupsi, serta obsesi keadilan dan kesejahteraan bersama. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Muysafak&lt;/b&gt;, &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;pegiat di Komunitas Sastra Soeket Teki Semarang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-4111971523986016200?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/4111971523986016200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=4111971523986016200' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4111971523986016200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4111971523986016200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/08/sejarah-pancasila-masa-depan-indonesia.html' title='Sejarah Pancasila, Masa Depan Indonesia'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-e_p8LkU3TFY/TkdughHIZSI/AAAAAAAAAdw/qRu1Fm131Jg/s72-c/sampul+Negara+Paripurna.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-3383301794243158581</id><published>2011-08-13T23:35:00.000-07:00</published><updated>2011-08-13T23:36:22.870-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terasartikel'/><title type='text'>Ramai-ramai Bancakan Proyek Negara</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(Radar Lampung 13 Agustus 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh &lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Peneliti di Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LeKAS) Semarang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;M Nazaruddin terus berada di dalam sorotan. Kaburnya keluar negeri sama “menggemaskan” dengan mulutnya yang tak henti membocorkan berbagai informasi terkait keterlibatan kader Partai Demokrat dalam kasus suap Wisma Atlet di Palembang yang memosisikan dirinya sebagai terdakwa. Terlepas dari benar atau tidaknya, bocoran Nazaruddin itu dapat dimanfaatkan sebagai informasi awal untuk membongkar jaringan koruptor di negeri ini. Bisa ditengarai kasus suap yang diduga melibatkan para punggawa partai tersebut adalah upaya gelap memburu dana Pemilu 2014 mendatang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Barangkali sudah menjadi rahasia umum, proyek negara menjadi lahan empuk bagi para politisi untuk meraup untung. Tidak mengherankan jika para politisi banyak yang mendapat embel-embel “pialang” atau “broker” karena keterlibatannya sebagai perantara di dalam proyek-proyek pemerintah. Di samping itu, politisi acap terlibat langsung di dalam pelaksanaan proyek negara. Realitas itu menjadi celah bagi impelementasi proyek sarat nuansa korupsi.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Bancakan&lt;/b&gt;Pembangunan menjadi prioritas utama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Pembangunan infrastruktur fisik seperti gedung, jalan, jembatan, atau pengadaan fasilitias di instansi-instansi pemerintahan. Juga pembangunan suprastruktur nonfisik seperti pengadaan buku, penelitian, pelatihan, seminar, bantuan, perekrutan pegawai, hingga perancangan Undang-undang.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Segala pekerjaan negara kini telah menjadi proyek. Pemerintah cukup menyediakan anggaran, maka hajat-hajatnya akan rampung dikerjakan pihak-pihak swasta maupun&amp;nbsp; lembaga-lembaga pemerintah di bawahnya. Setelah pekerjaan proyek selesai, pemerintah tinggal menunggu laporan pertanggungjawaban. Tetapi, usut punya usust, semakin hari proyek-proyek negara semakin dipenuhi kecurangan. Banyak proyek fisik dikerjakan dengan kualitas kurang memadai dan di bawah standar. Gedung dan jalan hasil proyek, misalnya, yang acapkali cepat rusak salah satunya disebabkan penyunatan anggaran bahan baku material.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ahmad Tohari menggambarkan realitas proyek yang sarat penyelewengan di dalam novelnya Orang-orang Proyek (2002). Alkisah, proyek pembangunan Jembatan Cibawor ya ng diborong Insinyur Dalkijo, seorang pemborong sekaligus kader partai yang pragmatis. Anggaran proyek jembatan itu dibocorkan untuk kepentingan partai politiknya, sebagiannya tentu untuk menggandakan keuntungannya pribadi. Agar proyek tetap rampung, maka siasat curang pun dijalankan dengan cara pembelian bahan baku bangunan di bawah standar mutu, bahkan material bekas. Sementara itu, Insinyur Kabul, ketua pelaksana proyek sekaligus mantan aktivis kampus yang idealis, menuntut proyek dijalankan sesuai aturan agar kualitas bangunan bisa dipertanggungjawabkan. Sebab Insinyur Dalkijo tidak mengindahkan permintaannya, Insinyur Kabul mengundurkan diri daripada mengikuti sistem korup yang niscaya semakin memelaratkan rakyat. Dan benar, baru berumur setahun, Jembatan Cibawor itu pada akhirnya runtuh karena bahan baku bangunan seperti pasir dan besi yang tidak memenuhi baku mutu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kendati novel itu merupakan kritik terhadap Orde Baru, namun kritik itu masih relevan dengan kekinian. Pelaksanaan proyek apapun kerap mengalami penyelewengan anggaran sehingga hasil pekerjaan proyek dipertaruhkan. Ironisnya hal itu sudah menjadi kebiasaan, sehingga korupsi di era reformasi pun semakin ramai. Makna proyek pun bergeser. Alih-alih sebagai pelaksanaan program pembangunan demi kemajuan masyarakat, proyek justru menjadi lahan “bancakan” uang negara.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak hanya pembangunan fisik yang mengalami kecurangan. Pembangunan nonfisik pun tidak lepas dari perilaku curang semacamnya. Taruhlah proyek penelitian yang dilaksanakan oleh para akademisi, tidak semuanya bersih. Banyak di antara mereka mengerjakan penelitian dengan tidak serius. Peneliti, misalnya, tidak sungguh-sungguh terjun ke lapangan dan memaksimalkan observasi sehingga hasil penelitiannya pun menjadi taruhan.&lt;br /&gt;Kultur Ketidakjujuran&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setiap pelaksanaan proyek menjadi taruhan moral yang penuh risiko. Ikhtiarnya, memang, proyek ditujukan sebagai upaya pelayanan pemerintah kepada warganya. Namun karena praktiknya dipenuhi kecurangan, proyek pembangunan justru berbalik menjadi perusakan moral bangsa. Proyek menyuburkan dan mentradisikan watak ketidakjujuran.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tragis jika pada akhirnya proyek-proyek pemerintah hanya menjadi ajang penghambur-hamburan anggaran negara. Para pemborong dengan sadar memanfaatkan celah itu dengan cara menurunkan kualitas proyek yang dikerjakannya. Begitu juga para politisi yang menjadi makelar proyek, selalu memanfaatkan jabatan politisnya untuk meraup keuntungan untuk didistribusikan kepada kelompoknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika kultur pelaksanaan proyek yang tidak jujur terus dilestarikan, maka negara ini akan bangkrut dan lelah melayani agenda pembangunan. Pemerintah perlu memperketat jalannya proyek sejak pelelangan sampai pelaksanaan dan pelaporannya. Kebocoran anggaran harus diantisipasi dengan teliti dan terperinci. Jika tidak, bisa-bisa negara ini pun akan diproyekkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-3383301794243158581?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/3383301794243158581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=3383301794243158581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3383301794243158581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3383301794243158581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/08/ramai-ramai-bancakan-proyek-negara.html' title='Ramai-ramai Bancakan Proyek Negara'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-3846366113199512060</id><published>2011-08-09T06:36:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T06:36:42.664-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Misi Pembebasan Puasa</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Musyafak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7_2ZDyQMKsE/TkE3yA0dy_I/AAAAAAAAAds/gPn8RAGmguY/s1600/Arjuna_Bertapa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="228" src="http://3.bp.blogspot.com/-7_2ZDyQMKsE/TkE3yA0dy_I/AAAAAAAAAds/gPn8RAGmguY/s320/Arjuna_Bertapa.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;RAMADAN kembali hadir, menjanjikan limpahan berkah, sekaligus menegaskan kembali harapan-harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa datang. Ramadan pun memicu ekspektasi bangkitnya kesadaran kolektif. Bulan puasa menumbuhkan harapan-harapan akan pencerahan di tengah kondisi sosial yang dihantui pelbagai ancaman: ketidakjujuran, kerakusan, dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedianya Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan segala gejala dalam diri maupun gejala di luar diri (realitas sosial). Sejumlah keganjalan atau kekeliruan dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa mesti diurai bersama, dan dari situ bertolak kesadaran bersama untuk melakukan perbaikan-perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi yang merupakan persekongkolan antara kerakusan dan ketidakjujuran, misalnya, mesti diinsyafi bukan semata-mata musuh negara atau pemerintah. Tetapi, secara asasi hal itu mesti disadari sebagai musuh diri dari masing-masing pribadi manusia. Tidak ada tempat di dalam diri manusia untuk membenarkan perilaku khianat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembebasan Diri&lt;br /&gt;Nurcholis Madjid, dalam Dialog Ramadlan Bersama Cak Nur (2000) mengatakan, puasa adalah laku menunda kesenangan. Sesuai kata dasarnya, shiyam atau shawm, puasa berarti menahan. Yakni menahan diri dari desakan diri yang selalu ingin melayani kebutuhan biologis yang menjelma sebagai dorongan hawa nafsu. Penundaan atas kesenangan itu niscaya menjadi gerak produktif di dalam diri manusia. Karena di balik ikhtiar menahan diri itu orang yang berpuasa tengah melakoni pelatihan (riyadlah) dan pengembaraan spiritualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembaraan rohani itu akan sampai pada fase pembebasan diri. Yakni, pembebasan dari segala kebutuhan ragawi yang secara berlebihan senantiasa mencengkeram dan menawan diri, seperti: kebutuhan makan, minum, dan seks. Pembebasan itu tentu laku sukarela melepaskan diri dari tuntutan-tuntutan tubuh yang bersifat wadag dan sementara. Adapun puncak puasa, yang menjadi ritus personal antara manusia dengan Tuhan, adalah keinsyafan mendalam akan hadirnya Tuhan dalam setiap gerak-laku manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika kehadiran Tuhan dalam hidup adalah sumber moralitas yang tinggi atau budi pekerti luhur (al-akhlaq al-karimah). Kesadaran tersebut mendorong seseorang menghindari perilaku yang sekiranya tidak diberi izin (ridla) oleh-Nya. Kesadaran pribadi ini sangat mungkin menjelma kesadaran kolektif di lingkungan orang-orang yang menjalankan puasa, sehingga menjadi kesadaran sosial. Di sini terjadi transformasi religius yang produktif, yaitu bergeraknya akhlak pribadi menjadi social ethic atau akhlak sosial (Madjid, 2000: 37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirah Pembebasan&lt;br /&gt;Selain pembebasan diri, puasa memiliki jangkauan dan potensi lebih luas sebagai instrumen pembebasan sosial. Selain “mengingkari" makan, minum, atau seks, puasa memerlukan prasyarat lain seperti: berlaku jujur, beramal baik, dan bersedekah. Itu menunjukkan bahwa ritus puasa tidak semata diukur dari seberapa tahan seseorang dari aktivitas mengasingkan diri terhadap kebutuhan biologisnya. Tetapi, puasa lebih dilihat dari seberapa mampu seseorang berbagi kebaikan dengan sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah puasa meniscayakan menguatnya kepekaan individu terhadap orang-orang di sekelilingnya. Sebuah langkah awal bagi tumbuhnya solidaritas sosial untuk membebaskan masyarakat yang belum merdeka, baik ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi pembebasan puasa dapat dirunut dari sirah (perjalanan) Nabi Muhammad SAW yang merupakan sejarah pelurusan ketimpangan sosial yang didera manusia. Asghar Ali Engineer (1990) memetakan tiga macam pembebasan yang diperjuangkan Sang Nabi. Pertama, pembebasan sosiokultural. Nabi Muhammad diutus di tengah kondisi masyarakat Arab yang amat kental dengan feodalisme, paternalistik, dan selalu melahirkan penindasan--sehingga disebut jahiliyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pembebasan ekonomi. Saat itu masyarakat Arab terbagi dua kelas yang saling bertentangan, yaitu kelas terhormat yang menindas (syarif/the oppressor) dan budak serta orang miskin yang tertindas (mustadh'afin/the oppressed). Al Quran sendiri menekankan upaya pemerataan kesejahteraan dan keadilan umat manusia, selain menentang penimbunan atau monopoli kekayaan (QS 59: 7), sehingga Al Quran memerintahkan orang-orang berpunya (aghniya) menyedekahkan sebagian hartanya kepada fakir miskin (QS 2: 219).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, membumikan sikap keadilan terhadap agama lain. Islam memandang, elemen kebebasan paling pokok adalah keterbukaan, toleransi, dan menghormati pemeluk agama lain. Itulah mengapa Al Quran menegaskan: tidak ada pemaksaan dalam beragama (QS 2: 256/109: 6). Tuhan memerintahkan penghormatan kepada semua Nabi yang diturunkan-Nya (QS 4: 150-51). Sebab, Nabi mana pun dengan misi profetiknya telah memberi kontribusi besar dalam pembebasan manusia (humanum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan&lt;br /&gt;Menjadikan puasa sebagai gerakan pembebasan manusia tentu tidak mudah, serta menghadapi pelbagai tantangan. Tantangan utama adalah nalar muslim yang masih sangat kental dengan nuansa teosentrisme dalam menjalankan ibadah. Pemikir muslim kontemporer Mohammad Arkoun menyebutnya sebagai nalar teologis. Yaitu pemusatan segala aktivitas peribadatan pada Tuhan tanpa menghiraukan problem kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa merupakan ibadah multidimensi yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dimensi teosentris ibadah puasa menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Ini merangkum kesalehan individu (hablun min al-Lah). Sedangkan dimensi antroposentris puasa menyangkut kesalehan sosial sebagai peletak dasar hubungan manusia dengan sesama dan alam sekitar atau (hablun min al-nas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mesti ada keseimbangan antara dimensi teosentris dan antroposentris. Sebab, misi profetik semua agama adalah untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Maka, selain prinsip ketuhanan, penting kiranya memaknai ibadah pada aspek antroposentris seperti ditekankan oleh Farid Essack (1997). Antroposentrisme akan membawa implikasi bagi kehidupan agama maupun sosial. Yakni, pembacaan makna agama yang selaras dengan misi dan kepentingan umat manusia secara universal. n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti di Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LeKAS), Semarang&amp;nbsp;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-3846366113199512060?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/3846366113199512060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=3846366113199512060' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3846366113199512060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3846366113199512060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/08/misi-pembebasan-puasa.html' title='Misi Pembebasan Puasa'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7_2ZDyQMKsE/TkE3yA0dy_I/AAAAAAAAAds/gPn8RAGmguY/s72-c/Arjuna_Bertapa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-1743987039511682496</id><published>2011-08-09T06:27:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T06:27:06.496-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Wong Jawa Kena Goda</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh Musyafak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-MH9QBQNTX1o/TkE1dsWJ1aI/AAAAAAAAAdo/jutT2JQSTT8/s1600/sepi+ing+pamrih+rame+ing+gawe.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-MH9QBQNTX1o/TkE1dsWJ1aI/AAAAAAAAAdo/jutT2JQSTT8/s400/sepi+ing+pamrih+rame+ing+gawe.jpg" width="272" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wong Jawa tak pernah berhenti memerangi hawa nafsu. Obsesinya terhadap mistik dan spiritualitas membuat wong Jawa menyisihkan hawa nafsu. Wong Jawa berikhtiar keras meninggalkan perkara “daging” dan wadag itu. Memagari diri secara ketat agar tidak terjerat di dalam nikmat semu yang melenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para leluhur mewanti-wanti wong Jawa untuk memenangkan diri atas hawa nafsunya, kehendak yang sarat hasrat dan syahwat itu. Wong Jawa musti menginsyafi sangkan-paraning urip, kesejatian hidup yang memuat pandangan bagaimana mestinya menempatkan diri di tengah alam dan di dalam masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suluk Linglung Sunan Kalijaga yang ditulis Imam Anom pada tahun 1884, Pupuh Dhandhanggula “Brhamara Ngisep Sari” (1993: 3), meriwayatkan perjalanan awal Sunan Kalijaga dalam menapaki &lt;i&gt;sangkan-paran&lt;/i&gt;, ilmu hakikat. “&lt;i&gt;Ling lang ling lung sinambi angabdi, saking datan anawi sabala, kabeka dene nepsune, marmannya datan kerup, dennya amrih wekasing urip, dadya nepsu ingobat, kabanjur kalantur, eca dhahar lawan nendra, saking tyas awon perang lan nepsu neki, sumendhe kersaning Hyang&lt;/i&gt;” (Ling lang ling lung (hati bimbang pikir bingung) masih tetap mengabdi, walaupun tanpa ada yang membantu, selalu tergoda oleh nafsunya, karena tidak mampu mengatasinya, berbagai usaha ditempuh agar akhir hidupnya nanti, mampu mengatasi atau mengobati nafsunya, jangan sampai telanjur telantur, puas makan dan tidur, sebab hatinya kalah dengan nafsunya, hanya Allah tempat berserah diri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Harmonitas Kosmologis&lt;/b&gt;Hawa nafsu merupakan arena penuh godaan, menyediakan risiko bahaya yang tak ringan. Kekalahan diri dari hawa nafsu bisa mendamparkan seseorang pada keruntuhan martabatnya. Keburukan yang bersengkarutan dari dan oleh hawa nafsu, oleh wong Jawa tidak dimafhumi sebagai solah-tingkah yang kelak mendapatkan denda akhirat. Terminologi “kehidupan masa depan” masuk dalam kesadaran religius wong Jawa setelah persentuhannya dengan Islam atau Kristen. Karenanya, istilah “dosa” tidak menempati peranan penting dalam mengolah watak wong Jawa. Keinsyafan religius wong Jawa memandang keburukan, kejahatan, dan kekejian yang merupakan buah hawa nafsu, semata-mata pada bingkai kehidupan masa kininya. Secara kosmologis, kontestasi hawa nafsu berikut keburukan-keburukannya dipandang wong Jawa sebagai laku yang dapat mengoyak harmonitas jagad cilik dan jagad gede. Bukan sekadar ancaman disharmonisasi hubungan manusia dengan penguasa semesta, relasi sosial antarmanusia di suatu komunitas berada di bawah bayang-bayang kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara pengendalian hawa nafsu diinsyafi sebagai kunci bagaimana wong Jawa memartabatkan diri, sekaligus mengarak kemuliaannya di ruang bersama. Sadar hawa nafsu mencakup pandangan dunia tentang norma dan kebajikan yang memihaki keselarasan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Franz Magnis Suseno (2003: 139) menengarai, hawa nafsu merupakan suatu hal yang mengancam hidup Wong Jawa, menggagalkan seseorang untuk menempatkan sikap batin dan laku yang tepat. Hawa nafsu disebut sebagai perasaan-perasaan kasar sebab mengurungkan kontrol diri manusia dan membelenggunya untuk menghamba buta pada dunia lahir. Godaan atas kenikmatan lahir itu memperlemah manusia karena memboroskan kekuatan-kekuatan batin nirfaedah. Perayaan hawa nafsu merupakan bahaya besar karena manusia tidak lagi menuruti akal budinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godaan Pamrih&lt;br /&gt;Wong Jawa menyebutnya &lt;i&gt;goda&lt;/i&gt;. Godaan hidup yang menggilai dunia lahir, merayakan kenikmatan duniawi, dan jauh dari perjalanan batin yang sunyi dan meditatif. Pujangga Ranggawarsita telah memaklumatkan zaman edan (gila harta, tahta, dan wanita) yang merupakan buah kegagalan manusia dalam mengolah hawa nafsunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan-kegilaan tersebut kini semakin kasat di mata, nyata, dan menjadi bagian sehari-hari wong Jawa. Banyak orang bekerja karena kepentingannya untuk sekadar menjadi kaya. Orang-orang mati-matian mengejar pangkat karena pamrihnya berkuasa atas orang lain dan harta. Aji mumpung mendapatkan pembenaran dalam caranya memandang peluang kenikmatan duniawi. Akibatnya, korupsi atau nyeleweng dari amanat yang seolah hantu berparas cantik itu membuat selalu tergoda. Sejak kecil anak-anak diajari bersekolah agar bisa meraih pekerjaan-pekerjaan tertentu yang dapat mengatrol prestisnya. Jadinya, sekolah menjadi fragmen karir. Gairah bersekolah terpusat pada pamrihnya atas pangkat dan pekerjaan. Bukan gairah untuk melepaskan diri dari belenggu kedunguan dan sempitnya cakrawala memandang dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godaan-godaan hidup kini meruah karena pamrih manusia pada keduniaan berlebihan. Matinya kontrol diri dan sikap batin yang salah menambah runyam keadaan sebab setiap individu menonjolkan dan memerjuangkan pamrihnya sendiri. Niels Mulder (1983: 39) menerjemahkan pamrih sebagai “kepentingan diri”, mencakup ambisi-ambisi pribadi. Pamrih merupakan pagar penghalang tercapainya kemurnian hidup dan kebaikan dunia. Sikap hidup demikian bertolakbelakang dengan nilai luhur Jawa: “&lt;i&gt;sepi ing pamrih, rame ing gawe&lt;/i&gt;”. &lt;i&gt;Sepi ing pamrih &lt;/i&gt;menjadi kunci spiritual untuk terus berkesadaran melawan hawa nafsu demi mencapai ketenangan hati dan kebijaksanaan. Sementara &lt;i&gt;rame ing gawe&lt;/i&gt; mendorong manusia untuk berderma kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamrih merupakan penubuhan egoisme dan menyisihkan kepentingan bersama. Padahal, di dalam kepentingan bersama itulah terdapat prinsip “kemanunggalan” yang menjadi lema kunci pencarian hidup wong Jawa. Wong Jawa mesti insyaf akan diri dan nilai-nilainya. Godaan, hasrat, dan syahwat, selalu di depan mata, seolah bidadari telanjang menari di pelupuk mata. Kita perlu selalu eling lan waspada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Musyafak, &lt;i&gt;essais, aktif di Komunitas Sastra Soeket Teki Semarang&lt;/i&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-1743987039511682496?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/1743987039511682496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=1743987039511682496' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1743987039511682496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1743987039511682496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/08/wong-jawa-kena-goda.html' title='Wong Jawa Kena Goda'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-MH9QBQNTX1o/TkE1dsWJ1aI/AAAAAAAAAdo/jutT2JQSTT8/s72-c/sepi+ing+pamrih+rame+ing+gawe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-8594272403408884399</id><published>2011-08-09T06:03:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T06:13:00.291-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Perlawanan itu Bernama Sepak Bola</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-By178-GpYuw/TkEyQkSHnBI/AAAAAAAAAdg/ZB1MWOZPJpk/s1600/sampul+Sebelas+Patriot.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-By178-GpYuw/TkEyQkSHnBI/AAAAAAAAAdg/ZB1MWOZPJpk/s320/sampul+Sebelas+Patriot.JPG" width="210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Jawa Pos 31 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Sebelas Patriot&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Andrea Hirata&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Bentang, Yogyakarta&lt;br /&gt;Tahun&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Cetakan I, Juni 2011&lt;br /&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 978-602-8811-52-1&lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : xii + 112 hlm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat sepak bola di negeri ini bertautan dengan sikap patriotik masyarakatnya. Sayangnya, sang penulis mengalami kemampatan imaji di tengah banjir fakta sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasi sepak bola di Indonesia bukan sekadar olah raga di rumput hijau di mana 22 orang saling berebut si kulit bundar. Sepak bola bukan hanya tontonan dua tim kesebelasan yang berkompetisi demi gelar juara. Lebih dari itu, sepak bola adalah ekspresi dan gerak laku perlawanan masyarakat pribumi atas penindasan kolonial Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas Patriot, novel terbaru Andrea Hirata, menguak betapa riwayat sepak bola di negeri ini berpautan dengan sikap patriotik masyarakat pribumi. Olah raga yang paling digandrungi manusia sejagat itu mewadahi imajinasi persatuan dan rasa senasib sepenanggungan bangsa Indonesia. “Karena sepak bola adalah kegembiraan mereka satu-satunya. Karena mereka tahu bahwa sepak bola berarti bagi rakyat jelata yang mendukung kemerdekaannya. Lapangan bola adalah medan pertempuran untuk melawan penjajah,” tulis Hirata (hlm 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, Belitong, sebuah pulau yang menyimpan timah berlimpah, membuat kolonial Belanda bersyahwat untuk mengeruk kekayaan alamnya sebanyak-banyaknya. Kongsi dagang Hindia-Belanda, Vereenidge Oost-Indische Compagnie (VOC), membentuk meskapai timah untuk mengurusi unit-unit parit tambang, misal dok kapal, bengkel, dan logistik. Van Holden, kepala distrik kolonial Belanda untuk Belitong saat itu, juga mendirikan tangsi, semacam penjara untuk menyiksa orang-orang pribumi yang dilabeli “ekstrimis” sebab tidak loyal kepada kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi nafsu eksploitatif itu, anak-anak lelaki Melayu di bawah umur dipaksa kerja rodi menggali timah di parit-parit tambang. Di tengah anak-anak yang tidak mujur itu terdapat tiga bersaudara yang amat mahir bermain sepak bola. Bersama tim kesebelasan kuli parit tambang, tiga bersaudara itu berkolaborasi sebagai gelandang, sayap kanan dan sayap kiri. Tim kesebelasan para kuli yang mulanya dipandang sebelah mata itu serta merta diperhitungkan. Di sebuah pertandingan, tiga bersaudara itu mengobrak-abrik pertahanan tim kesebelasan Belanda. Satu gol yang dilesakkan si saudara tengah ke gawang Belanda mampu memerosotkan martabat sang kolonial. Usai pertandingan, tiga bersaudara beserta pelatihnya diangkut ke tangsi, mereka dihajar hingga babak belur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragis tiga bersaudara itu terus berjalan. Politik pembuangan Belanda memisahkan tiga bersaudara itu di tempat berlainan. Hingga suatu ketika si bungsu diminta bergabung dalam tim kesebelasan Belanda demi memenangkan kompetisi dalam rangka memperingati hari lahir Ratu Belanda. Penolakan si bungsu, sebagai bentuk pembelaan terhadap dua abangnya, membuat Belanda murka. Akibatnya ia dibawa ke tangsi, disiksa dan dipecah tempurung kakinya. Karir sepak bola si bungsu yang cemerlang itu tamat di usia yang masih sangat muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini kuyup dengan kenangan getir penjajahan di Indonesia. Kebusukan kolonial Belanda dibocorkan dengan lugas nan tandas. Selain menindas dan mengeksploitasi Belitong, sang imperialis itu mati-matian menjaga martabatnya. Di berbagai kompetisi, orang pribumi tidak boleh mengalahkan orang Belanda. Justru itulah sepak bola dijadikan kesempatan orang pribumi untuk memartabatkan diri dan bangsanya. Sepak bola menjadi ekspresi kemerdekaan selama 2 x 45 menit. Nama Indonesia bisa sangat berjaya di lapangan hijau ketika suatu gol tercipta dari tendangan kaki anak pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur narasi novel ini runut dan mudah dipahami. Di samping itu, style bahasa berkembang secara lembut dan tenang, tidak tergesa-gesa dalam mengalurkan cerita. Masa lalu, zaman getir penjajahan, didialogkan dengan masa kini si “aku-narator”. Ikal, tokoh utama novel ini, hadir sebagai anak zaman yang&amp;nbsp; berikhtiar menyambung cita-cita ayahnya, pesepakbola dari tim kuli tambang yang tempurung kakinya dipecahkan oleh Belanda, untuk membela tim nasional (PSSI). Ikal juga menjadi prototipe pecinta tim PSSI. Tumpukan kekalahan dan prestasi suram PSSI tak membuat cintanya pudar. Begitulah cinta sepak bola, sebenarnya adalah cinta yang sepi dari pamrih apapun, kecuali mendukung tim favorit di tiap kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas Patriot merupakan petanda yang memaknakan bahwa pesepakbola di negeri ini adalah para pahlawan. Di lapangan hijau, sebelas patroit itu menanggung martabat bangsa yang tak terperikan. Apapun yang terjadi, kalah atau menang, sepatutnyalah masyarakat memberi dukungan dan apresiasi kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang luput di novel ini, seperti di tetralogi Laskar Pelangi, imaji yang tidak berkembang. Novel ini mengalami kemampatan imaji di tengah bocornya fakta-fakta sejarah yang tak terbendung. Imaji tak tergarap di tengah faktualitas yang membebani teks dalam ritme pencapaian estetika. Barangkali, begitulah kelemahan novel-novel bercorak autobiografis yang bertolak dari historisitas dan faktualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Musyafak, pengkaji sastra dan budaya di Open Mind Community Semarang, redaktur majalah sastra Soeket Teki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-8594272403408884399?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/8594272403408884399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=8594272403408884399' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8594272403408884399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8594272403408884399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/08/perlawanan-itu-bernama-sepak-bola.html' title='Perlawanan itu Bernama Sepak Bola'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-By178-GpYuw/TkEyQkSHnBI/AAAAAAAAAdg/ZB1MWOZPJpk/s72-c/sampul+Sebelas+Patriot.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-6308078501364413279</id><published>2011-08-09T05:55:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T06:15:59.819-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Memulihkan Kebangkrutan Etika Politik</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-THFqJTtjSYk/TkEy-nHuGNI/AAAAAAAAAdk/no7uNZ8hIMw/s1600/sampul+Empat+Esai+Etika+Politik.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-THFqJTtjSYk/TkEy-nHuGNI/AAAAAAAAAdk/no7uNZ8hIMw/s320/sampul+Empat+Esai+Etika+Politik.jpg" width="220" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Suara Merdeka 24 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Empat Esai Etika Politik&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : F. Budi Hardiman, Robertus Robert, A Setyo Wibowo, Thomas Hidya Tjaya&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : www.srimulyani.net&lt;br /&gt;Tahun&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : I, Februari 2011&lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : xxiv + 120 halaman&lt;br /&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 978-6029861402&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkrutan etika politik mengimbas pada kemerosotan demokrasi yang kian gagap menerjemahkan kehendak publik. Minusnya etika politik menyebabkan publik mengalami keyatiman politik, sehingga suaranya semakin sumbang, samar, dan asing. Alih-alih mengelola polis (baca: negara) dan warganya, rasanya politik di negeri ini justru sibuk main sekongkol dan mengarak muslihat untuk meluluskan kepentingan-kepentingan kelompok. Etika politik, yang berarti tanggung jawab individu atau golongan terhadap keseluruhan elemen negara telah absen dari percaturan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan esai F Budi Hardiman, Robertus Robert, A Setyo Wibowo, dan Thomas Hidya Tjaya yang tergabung dalam buku Empat Esai Etika Politik ini dihadirkan dalam rangka mengatasi kebangkrutan etika politik. Menilik ulang etika politik secara filosofis guna merumuskan arah politik kebangsaan menuju keadaban yang semestinya. Ikhtiar mengintensifkan kesadaran politik dengan menjunjung tinggi nilai-nilai etis yang didedahkan oleh para filsuf besar Juergen Habermas, Jacques Rancière, Albert Camus, dan Emmanuel Levinas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik Demokrasi&lt;br /&gt;Rancière, filsuf asal Perancis, seperti diulas Robert, menilai politik sebagai praktik penubuhan kehendak yang membelah-belah subyek hingga tercipta partisi-partisi hierarkis di dalam ruang bersama. Suatu praktik kekuasaan yang membariskan individu-individu atau kelompok-kelompok untuk dikondisikan menempati peran sebagai “yang memerintah” dan “yang diperintah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi keterbelahan antarsubyek itu, diperlukan kekuatan “yang politis”. Yakni suatu upaya menginterupsi sensibilitas antarindividu atau kelompok dengan mengukuhkan kembali kehadiran mereka yang terusir dari pusat komunitas politis. Ikhtiar menyediakan cara bagi “yang tidak terhitung” agar muncul dan masuk sebagai bagian komunitas. Sekaligus memekarkan kapasitas-kapasitas baru atas dasar kesetaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Habermas, filsuf sekaligus sosiolog Jerman, disasar dalam konteks lebih praktis oleh Hardiman. Habermas tidak semata mengimani formalisme demokrasi atau demokrasi instrumental yang kini mati-matian dipihaki oleh negara-negara berkembang. Demokrasi tidak musti dimaknai secara minimalis sekadar partisipasi warga negara di dalam pemilu, tetapi juga sebagai garansi hak-hak komunikasi publik secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak-hak komunikasi itu membutuhkan adanya public sphere (ruang publik) yang memiliki kekuatan politis. Warga negara musti diberi ruang untuk mengungkapkan pendapat-pendapatnya terkait segala persoalan yang relevan di masyarakat. Sedianya suara-suara yang sensitif publik itu lantas dikelola oleh sistem politik yang ada. Ruang publik ini menjadi tempat untuk mempersepsi sekaligus mengklasifikasikan masalah-masalah sosial-politis. Selain itu berfungsi sebagai mediator yang sanggup mengelola pelbagai variabel kepentingan yang ada. Jika ruang publik dapat berfungsi secara maksimal, maka posisinya sebagai “struktur intermedier” yang menghubungkan publik dengan pemerintah semakin memiliki kekuatan politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik keterlibatan&lt;br /&gt;Levinas (1906-1995) hadir dengan kredonya respondeo ergo sum; saya bertanggung jawab maka saya ada. Pandangan ini meruntuhkan totalitas subyek yang selama berabad-abad menjadi obsesi filsafat Barat modern. Kehendak bertanggung jawab pada orang lain merupakan laku “ketidakutuhan” individu sebagai subyek tunggal. Melainkan sisi kesadaran yang mengafirmasi kehadiran orang lain bukan serta-merta sebagai obyek yang seutuhnya “liyan”, tetapi bagian dari “aku” si subyek itu sendiri. Gagasan Levinas tersebut dielaborasi oleh Tjaya, bahwasanya kedirian manusia dengan segala penubuhan kehendaknya justru menyediakan kemungkinan pengungkapan tanggung jawab sebagai sebuah kebaikan bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wibowo mengetengahkan pemikiran Camus (1913-1960), seorang filsuf berhaluan absurdisme yang tenar dengan karyanya Le Mythe de Sisyphe (Mite Sisifus) atau La Peste (Sampar). Camus senantiasa mengoarkan kondisi absurditas manusia, bukan semata-mata ekspresi pesimis-nihilisnya dalam memahami kondisi-kondisi antara idealitas dan realitas yang semakin berbenturan. Justru pemikirannya hadir secara intensif dengan misi mengatasi sekaligus melawan absurditas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absurditas ala Camus adalah penggambaran situasi chaos (kacau) yang melahirkan berbagai kontradiksi, negasi, serta ketidakmenentuan, sehingga memunculkan persepsi bahwa segala sesuatu bergerak menuju kesia-siaan.&amp;nbsp; Harapan-harapan rakyat terpaksa bungkam di tengah derasnya kenyataan pahit yang menimpanya. Taruhlah kebijakan pemerintah yang tidak selaras harapan rakyat, juga wakil rakyat yang tidak lagi menjadi penyambung lidah rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absurditas politik berbangsa itu bisa diringankan dengan moral keterlibatan. Moral keterlibatan, seperti didengungkan Camus, bermakna upaya membendung terjadinya fatalisme politik. Moral keterlibatan berabstraksi dalam kehendak berperang melawan kebatilan agar tidak jatuh korban politik yang lebih banyak. Moral ini memosisikan kekuatannya secara politis di sisi para korban, sebagai bentuk pembelaan terhadap yang lemah, yang “tak bersuara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika politik yang didedah keempat filsuf tersebut dapat diretas sebagai penyelamatan politik dengan perimbangan kehendak “yang politis”. Dan, “yang politis” itu menuntut politik untuk menyediakan ruang bersama dalam rangka bertukar pendapat sekaligus saling terlibat dan bertanggung jawab satu sama lainnya dalam perkara bermasayarakat-berbangsa. Sehingga politik bukan lagi penubuhan kehendak yang berbuah tragis untuk memecah, membelah, dan menceraikan antarindividu maupun kelompok. (&lt;b&gt;Musyafak&lt;/b&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-6308078501364413279?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/6308078501364413279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=6308078501364413279' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/6308078501364413279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/6308078501364413279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/08/memulihkan-kebangkrutan-etika-politik.html' title='Memulihkan Kebangkrutan Etika Politik'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-THFqJTtjSYk/TkEy-nHuGNI/AAAAAAAAAdk/no7uNZ8hIMw/s72-c/sampul+Empat+Esai+Etika+Politik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-178694712905021428</id><published>2011-06-01T03:27:00.000-07:00</published><updated>2011-06-01T03:27:49.536-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Lakon KY di Ambang Iman</title><content type='html'>&lt;div class="clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div&gt;#  Notulensi “Celebration of Reading: Telaah Kualitatif Puisi Kurniawan  Yunianto” oleh Open Mind Community di TBRS Semarang, 17 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1#&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perayaan  makna itu kembali menemukan panggungnya. Lagi, Open Mind Community  mengarak puisi ke ruang ramai. Melolosi kata dari ruang sunyi bernama  teks. Memperkarakan dan mengelukannya sebagai bagian hidup yang  berlimpahan makna. Kata dipihaki sebagai penubuhan pesan yang  menyediakan berbagai kemungkinan makna. Kelahiran dan pembacaan kata  menjadi fragmen penting dalam menarasikan hidup, sekalian menarasikan  diri. Dan, diri itulah yang senantiasa melakonkan perjalanan  eksistensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon itu tidak lain dan tidak bukan adalah  manusia. Manusia yang tergetar menatap dirinya sendiri. Bahkan terasing  dari kebisingan yang dikarsakannya sendiri. Dan, barangkali puisi lahir  di suatu ruang antara. Keheningan (yang konon bening) yang bersilangan  dengan kebisingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di panggung perayaan kali ini kita bertatapan dengan satu puisi berjudul &lt;em&gt;Di Batas Pendengaran&lt;/em&gt;.  Sekalian berhadapan langsung dengan Kurniawan Yunianto (KY),  penyairnya. Di sana, Purwono Nugroho Adhi berdiri lengkap dengan  seperangkat alat bedahnya. Kerja telaah teks ala &lt;em&gt;deep level&lt;/em&gt;-nya hendak disasarkan pada perkembangan kepercayaan KY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Logico semantic&lt;/em&gt; diusut dalam ranah psikologis yang berpijakan dengan kajian &lt;em&gt;a stage development of faith&lt;/em&gt;  (perkembangan kepercayaan eksistensial) ala James W Fowler.  Perkembangan kepercayaan di sini melibati aspek koherensi dunia, fungsi  simbol, &lt;em&gt;tacit system&lt;/em&gt; (kerinduan atau obsesi diri), dan kesadaran sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya  menelisiknya secara diakronis. Telaah puisi ini mempertimbangkan proses  kreatif penyairnya. Ini hanya salah satu pilihan pembacaan dengan  menautkan puisi dan pengarang dalam jalinan sebuah ruang historisitas,”  kata Ipung, sapaan akrab Purwono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;DI BATAS PENDENGARAN&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;pesan dari zaman ke zaman&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;yang kutemukan terlunta melata&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menyusuri bangkai peradaban&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;serupa gembel tua dengan sorot mata&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;yang mulai redup meniti garis hidup&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;telah kutanam di tiap liang tubuh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;lalu tumbuh dalam bahasa padi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;yang rimbun dan teduh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kutulis ulang dalam nyala api&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;di perutmu yang lapang dengan rapi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;lalu paling tidak sekali dalam seminggu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kubacakan satu demi satu kepadamu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;hingga kemudian saling menghidupi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;hingga tak perlu lagi mencuri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;atau mengharamkan suatu tindakan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;yang membuat tuhan tersinggung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;lalu enggan hadir di tiap kata&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;yang kau aku tulisbacakan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;langit yang kau bilang di atas itu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;benarkah memang letak dari ketinggian&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;atau palung ternyata tak lagi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menunjukkan sebuah kedalaman&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;pagi itu saat aku membangunkanmu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;yang kau dengar tak sekedar syair&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sajak ataupun kebenaran&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ketika satu ayat telah dimukimkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dan bertahun menemu betah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kau tak harus mengamininya bukan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;26.04.2011&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui  puisi tersebut, Ipung menengarai belief-kognitif KY menapakkan sifatnya  yang filosofis-empiris. Watak kognitif yang tidak simpel ini tertampak  dalam caranya mengolah kata dan menghubungkannya dengan persitiwa hidup.  Di puisi itu, Ipung juga mendapati ekspresi-ekspresi &lt;em&gt;religious doubt&lt;/em&gt;  (keraguan nilai religius). Sebuah ambang. Keraguan inilah yang  memungkinkan terjadinya pembongkaran reflektif terhadap cara pandang  religius yang lazim atau konvensional. Agama memang menjadi salah satu  institusi yang menyediakan suatu otoritas nilai baginya. Namun “&lt;em&gt;kau tak harus mengamininya bukan”, &lt;/em&gt;KY? &lt;em&gt;Religious doubt&lt;/em&gt;  &amp;nbsp;meniscayakan pula terjadinya demitologisasi atau pembongkaran  simbol-simbol agama. Dan, keraguan itu membawanya melesati ranah &lt;em&gt;individuative-reflective&lt;/em&gt; yang mengantarnya pada &lt;em&gt;conjunctive faith&lt;/em&gt;. Itulah cara pandang religius yang lari dari kungkungan. Lari dari batas. Sehingga menemukan sesuatu&amp;nbsp; yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2#&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ganjar  Sudibyo, kita menyebutnya Ganz, juga hadir di sana. Ia mengajukan suatu  telaah psikologis lain. Menurutnya saban karya memiliki tingkatan:  niveau anorganis, niveau vegetatif, niveau animal, niveau human, niveau  religius. Ia membandingkan, ketika menelaah gurindam Hasan Aspahani ia  menemukan kelima &lt;em&gt;niveau&lt;/em&gt; itu. Sedangkan di sajak KY ia tidak menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun, kelebihannya, karya KY memuat &lt;em&gt;niveau&lt;/em&gt;  religius lebih mendalam daripada gurinda Hasan Aspahani. Ini bisa  dilihat dari bait ke-3. Di situ ada tingkatan religius yang didalami  KY,” papar Ganz. Setiap fase psikologis, kata Ganz, seseorang selalu  mengalami krisis. Krisis itu menimbulkan represi-represi tertentu.  Barangkali, dalam fase krisis ini, hasrat skizofrenik KY diobjekkan  dalam bentuk puisi. Karenanya, Ganz—merujuk Erikson—menengarai krisis  semacam itu biasa dialami manusia dalam usia-usia tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas  muncul pelbagai tanggapan terhadap puisi KY. Janoary M Wibowo  mengatakan, meski tidak ditelaah secara psikologis, pembaca dengan  sendirinya dapat menerima bahwa inilah kitab suci KY. “Nah, kajian  kualitatif ini mau sedalam mana? Bagaimana jika definisi Fowler tidak  mencukupi tidak memadai untuk mendefiniskan perkembangan religius KY?”  tantangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Jano, entahkah ia hendak menerabas  batas yang lain lagi. Yang jelas, katanya, ada satu keterbukaan dalam  puisi KY. Semacam memberikan sebuah informasi bagaimana seseorang untuk  mencapai sebuah “batas”. Di sana dinyatakan dua jalan, silahkan kamu  pilih jalan ini, atau jalan itu. Begitulah manusia menurut KY yang punya  kitab suci sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guri Ridola pun mengendus  watak religius KY yang kritis yang dikawal dengan nalar skeptis. Watak  itulah yang mendorong sebuah transisi keyakinan. Namun, setelah  seseorang mengalamui semua pembongkaran nilai, sebaliknya ia akan yakin  sepenuhnya. Guri mengaku, puisi KY menangkapkan situasi tenang, dewasa,  dan kuat. “Ketika melihat KY, saya seperti melihat puisi ini,” akunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian  diakronis juga muncul dari Agung Hima, meski penuh “curiga”. Tahun lalu  Agung pernah mengulas puisi KY dengan tajuk “KY Mengenalkan Tuhannya”.  Puisi &lt;em&gt;Di Batas Pendengaran&lt;/em&gt; kali ini memang terasa berbeda  baginya. Menurutnya, tahapan-tahapan KY sudah melewati perkara Tuhan.  “Saya curiga KY telah mengakhiri perjalanannya, dan mulai dengan yang  baru. Entah akan lebih ruwet atau bagaimana,” kata Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung  diakronis ini tentu memberi kesempata bagi KY untuk membeberkan  pengakuannya. Katanya, akal pikir manusia memang membantu untuk  memolakan dunia dan mencapai beberapa hal. Tapi akal pikir bukanlah  satu-satunya. Di seberang lain ada hati, jiwa. Pada hal-hal yang konkret  saja manusia tidak tahu dari mana datangnya. Karenanya indera bisa  dibilang sangat terbatas tanpa yang hati, jiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin dengan tidak bertuhan, saya bisa tahu bagaimana caranya bertuhan,” kata KY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik  tekan KY adalah bahwasanya manusia bisa menemukan kepercayaannya  sendiri. Menemukan kitab sucinya sendiri. Dan KY menutupnya dengan  datar, tetapi di situlah ia memperlihatkan sebuah dasar. Dasar bagi yang  hidup.&lt;br /&gt;Meskipun dunia ini pada satu &lt;em&gt;unity&lt;/em&gt;, atau jika menurut Jawa ada &lt;em&gt;sangkan paraning dumadi&lt;/em&gt;, kita berawal dan berakhir di titik yang sama, tetapi kita harus mengakui ada kelahiran dan kematian. Begitu kata KY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A Musyafak&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;sedulur Open Mind Community&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-178694712905021428?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/178694712905021428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=178694712905021428' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/178694712905021428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/178694712905021428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/06/lakon-ky-di-ambang-iman.html' title='Lakon KY di Ambang Iman'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-8781493944730189135</id><published>2011-06-01T03:18:00.000-07:00</published><updated>2011-06-01T03:18:36.466-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Kebijakan Rokok Muka Dua</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(Suara Merdeka, 29 Mei 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Judul&lt;span style="mso-tab-count: 2;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;: Hukum dan Ancaman Keberlangsungan Industri Rokok&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Penyunting&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;: Zamhuri&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; margin-left: 108pt; text-align: justify; text-indent: -86.7pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Penerbit&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;: Prodi Magister Ilmu Hukum UMK dan LS2B Sumur Tolak Kudus&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Cetakan&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;: I, Februari 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;ISBN&lt;span style="mso-tab-count: 2;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;: 978-602-98091-0-7&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tebal&lt;span style="mso-tab-count: 2;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;: xi + 145 hlm&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-CCmmPbtwM-0/TeYRLjpiZHI/AAAAAAAAAdU/xiepNdVK0Tw/s1600/sampul+Hukum+dan+Ancaman+Keberlangsungan+Industri+Rokok.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-CCmmPbtwM-0/TeYRLjpiZHI/AAAAAAAAAdU/xiepNdVK0Tw/s320/sampul+Hukum+dan+Ancaman+Keberlangsungan+Industri+Rokok.jpg" width="222" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Rokok di Nusantara mengalami perkembangan sekaligus evolusi panjang. Menyentuh batas-batas sosial, ekonomi, tradisi, budaya, bahkan agama. Jika ditelisik secara struktural, semua ranah kemasyarakatan tersebut membangun suatu pola kombinasi kepentingan yang saling bergantungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Namun hukum di republik ini masih memperkarakan rokok dengan tidak mencakup segala ranah itu, masih parsial. Buku ini mewakili sebagian ketegangan perbincangan terkait rokok. Telisik wacana politik-hukum rokok yang dianggap mengancam keberlangsungan industri rokok. Gagasan diskursif buku ini muncul dari berbagai narasumber yang mewakili beberapa elemen. Soewarno M Serad (Direktur Public Affairs PT Djarum), &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Tulus Abadi (Anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), Nusron Wahid (Anggota Komisi XI DPR RI), Rommy Fibri (Jurnalis Senior), N Wisnu Brata (Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Jateng), dan Hasyim Asy’ari (Pakar Hukum Undip Semarang).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ambivalen&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kalangan antirokok maupun yang mengklaim peduli terhadap kesehatan masyarakat senantiasa memproduksi informasi tentang bahaya rokok bagi kesehatan, juga mengesankan laku merokok secara patologis sebagai penyakit sosial kaum miskin yang mesti dihentikan. Sementara para pelaku industri rokok, atau kalangan yang mengklaim membela kepentingan buruh dan petani tembakau menandinginya dengan dalil perekonomian rakyat. Taruhlah pada tahun 2010 rokok menyumbang cukai sebesar Rp.57 triliun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Di tengah tarik-menarik kepentingan ini, pemerintah ditengarai belum mengambil kebijakan (&lt;i&gt;policy&lt;/i&gt;) yang bisa menciptakan kebajikan (&lt;i&gt;wisdom&lt;/i&gt;) bagi semua pihak. Karena regulasi yang ada belum mampu mengintegrasikan kepentingan negara dan antarkelompok masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Melalui Undang-undang Kesehatan, pemerintah tampak sangat membatasi pergerakan industri rokok. Pasal 113 UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Kesehatan memasukkan rokok sebagai zat adiktif, dan Pasal 115 menetapkan pembatasan area merokok dan iklan rokok. Di sisi lain, industri rokok dimasukkan sebagai salah satu kategori dari 10 industri prioritas negara, plus target penerimaan cukai rokok setiap tahunnya terus dinaikkan. Karenanya produk hukum terkait rokok disebut sebagai kebijakan bermuka dua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Perspektif Pengendalian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Perspektif &lt;i&gt;tobacco control&lt;/i&gt; (pengendalian tembakau) juga menjadi perdebatan panas dalam upayanya melacak motif-motif politis di baliknya. Tulus Abadi memberikan tinjauan kritis atas gelagat sesat pikir sebagian kalangan tentang pengendalian tembakau. Pengendalian tembakau bukanlah berpamrih untuk mematikan industri atau petani rokok. Tetapi politik pengendalian tembakau bertujuan melindungi masyarakat dari kerusakan akibat konsumsi dan paparan asap tembakau. Karenanya peredaran rokok perlu dibatasi dan dikontrol secara ketat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dalam hal ini terjadi ambivalensi fungsi cukai. Pada dasarnya cukai adalah &lt;i&gt;sin tax&lt;/i&gt; (pajak dosa) yang dikenakan terhadap produk-produk yang bisa menimbulkan dampak ekstralitas atau candu. Tetapi, faktanya cukai justru dimanfaatkan negara sebagai pintu pendapatan yang menggairahkan. Cukai bukan lagi berfungsi mengendalikan peredaran produk-produk yang memang pemakaiannya musti dibatasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Framework Convention of Tobacco Control&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; (FCTC) dan RPP Tembakau juga menjadi polemik. Pada dasarnya semua pihak menginginkan regulasi rokok yang komprehensif yang mengakomodasi segala kepentingan masyarakat. Pemerintah mesti tegas dalam menentukan regulasi tembakau. Jika memang industri tembakau akan digulung, harus dipikirkan industri turunan atau alternatif tembakau agar masyarakat buruh tetap memiliki harapan. Juga memikirkan tanaman alternatif pengganti tembakau untuk daerah-daerah potensial tembakau agar masyarakat petani tetap bisa melangsungkan kehidupannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-CCmmPbtwM-0/TeYRLjpiZHI/AAAAAAAAAdU/xiepNdVK0Tw/s1600/sampul+Hukum+dan+Ancaman+Keberlangsungan+Industri+Rokok.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Mestinya kebijakan pemerintah juga memberikan proteksi kepada perusahaan rokok dalam negeri jika memang industri tembakau masih diharapkan kontribusi ekonomisnya. Karena belakangan ini Indonesia telah “diserang” oleh rokok putih (&lt;i&gt;mild&lt;/i&gt;) dari luar negeri. Kemunculan wacana rokok dengan &lt;i&gt;low tar and necotine&lt;/i&gt; (tar dan ni kotin rendah) bisa jadi memiliki agenda khusus untuk menyingkirkan rokok kretek yang notebene produk dalam negeri. (&lt;b&gt;Musyafak Timur Banua)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-8781493944730189135?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/8781493944730189135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=8781493944730189135' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8781493944730189135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8781493944730189135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/06/kebijakan-rokok-muka-dua.html' title='Kebijakan Rokok Muka Dua'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-CCmmPbtwM-0/TeYRLjpiZHI/AAAAAAAAAdU/xiepNdVK0Tw/s72-c/sampul+Hukum+dan+Ancaman+Keberlangsungan+Industri+Rokok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-5012686412588147144</id><published>2011-05-22T02:03:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T02:03:05.156-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Kampus Minus Sastra</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh &lt;b&gt;Musyafak Timur Banua&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(Radar Surabaya 22 Mei 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;—Pramoedya Ananta Toer, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bumi Manusia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kampus masih dipercaya sebagai ruang pergulatan intelektual yang cukup dinamis. Pelbagai isu dan wacana tak habis-habisnya didedahkan sebagai bahan kajian. Ironisnya, persoalan sastra seolah luput dari perhatian masyarakat kampus. Rerasan mengenai sastra sangat minim dan jarang terdengar publik. Gaungnya samar-samar dibandingkan perbincangan mengenai tema-tema sosial, politik, ekonomi, pendidikan, maupun khazanah pergerakan yang acap larut menjadi diskusi romantik para mahasiswa. Sastra mengalami ekslusifikasi, seolah hanya milik kampung bernama fakultas ilmu budaya atau fakultas sastra.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perkara ini cukup membuat sederet kecurigaan. Barangkali masyarakat kampus telah asing dengan sastra. Minimnya mahasiswa yang menilik gelaran-gelaran sastra mengisbatkan sastra sebagai “liyan” di kehidupan kampus. Padahal sastra bukan sekadar urusan berindah-indah dengan “permainan” kata atau bahasa. Sastra adalah medium yang cukup lengkap dalam menyatakan kehidupan tiap-tiap zaman. Sastra menjadi biografi kultural maupun sosial yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Meski sastra lahir di ruang fiksi, tetapi kehadirannya merupakan pemetaan dari model sosial yang nyata. Sastra melimpahkan kekayaan imaji tentang realitas sosial, sebagai referensi alternatif dalam merekonstruksi dinamika masyarakat. Sastra memperkaya dan menafsirkan realitas, sekaligus mengintensifkan kesadaran manusia tentang banyak hal yang dipersoalkan di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sastra mencakup aspek kehidupan multikompleks: sosial, ekonomi, politik, budaya, filsafat, dsb. Sastra mampu menggumuli kehidupan secara lebih intim. Di samping, sastra untuk melengkapi hajat spiritual manusia. Karenanya, perbincangan sastra patut menjadi medan dialektika intelektual mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak dimungkiri, sastra masih hidup bersemayam di kampus-kampus. Beberapa komunitas yang bernaung di bawah institusi perguruan menggelar acara-acara kesusastraan. Meski gaungnya seolah tertelan di antara riuh-rendah kehidupan kampus. Di ruang-ruang itulah sebagaian kecil mahasiswa mengaktualisasikan minat sastra: berkarya, menghadirkan kritik, juga membincangkan sastra dalam relasi-relasi kehidupan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peran Fakultas Sastra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jamak orang masih meyakini kampus, khususnya Fakultas Sastra atau Ilmu Budaya, sebagai&amp;nbsp; rahim kesusastraan. Fakultas Sastra dianggap sebagai kantung-kantung persemaian bagi kembangbiaknya gairah bersastra yang telah melahirkan banyak sastrawan. Penegasan macam itu telah lumrah dinyatakan. Bahkan Fakultas Sastra pernah diklaim sebagai salah satu tolok ukur legitimatif atas kesusatraan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ini patut direnungkan sekaligus dipertanyakan. Sejauh mana produktivitas Fakultas Sastra menciptakan karya sastra, di samping mengajukan kritik sastra. Sementara banyak pengarang atau sastrawan tidak lahir dan dibesarkan oleh Fakultas Sastra, kecuali tirakat otodidak semata. Mahasiswa juga menggawangi komunitas-komunitas di luar kampus karena merasa arus birokrasi kampus lebih banyak menghabiskan energi ketimbang untuk berkarya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fakultas Sastra yang mustinya menjadi garda depan dalam memproduksi wacana dan isu sastra justru tidak terlalu nampak perannya. Boleh jadi minimnya rerasan sastra di forum-forum kampus (di luar bangku kuliah) adalah buntut tenggelamnya institusi di dalam kerutinan akademik. Di Fakultas Sastra, misalnya, sastra diutamakan menjadi bahan perkuliahan. Terasa tragis ketika saya mendengar keluhan mahasiswa yang mencipta karya sastra sebatas untuk memenuhi tugas kuliah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tugas kritik sastra yang diemban Fakultas Sastra pun diadang paradoks sistem akademik. Skripsi mahasiswa sastra tampaknya belum berperan sebagai kritik sastra yang sebenarnya. Puluhan ribu skripsi yang memuat kritik-kritik sastra tidak berkomunikasi dengan khalayak. Nasibnya menyedihkan, lapuk di rak-rak perpustakaan kampus yang jarang disentuh masyarakat umum, bahkan mangkrak di gudang—demikian memang nasib skripsi pada umumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mustinya, Fakultas Sastra menawarkan opsi lain. Syarat kelulusan tidak hanya bisa diraih melalui skripsi, tetapi juga jalur karya, seperti yang diberlakukan di beberapa fakultas kesenian atau tehnik. Tak semua mahasiswa ingin menjadi kritikus atau akademisi sastra. Banyak mahasiswa yang ingin menjadi pengarang atau sastrawan. Jika opsi karya dimunculkan, tidak mustahil memacu mahasiswa bergairah dalam mencipta karya sastra.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di tengah membludaknya karya sastra, apalagi perkembangan sastra media maya seperti facebook, blog, friendster, dll tanpa perimbangan kritik sastra, peran para akademisi sastra yang lahir dan besar di Fakultas Sastra sangat ditunggu. Kemunculan karya-karya yang tidak terbendung musti didekati dengan kritik sastra secara memadai agar kualitas sastra tidak merosot di tengah “euforia” bahasa-sastra.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;—&lt;b&gt;Musyafak Timur Banua&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;dewan redaksi majalah sastra Soeket Teki Semarang   &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-5012686412588147144?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/5012686412588147144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=5012686412588147144' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/5012686412588147144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/5012686412588147144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/05/kampus-minus-sastra.html' title='Kampus Minus Sastra'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-4409094810253113159</id><published>2011-05-16T06:10:00.000-07:00</published><updated>2011-05-16T06:10:20.919-07:00</updated><title type='text'>Cinta Tuhan Akar Cinta Kasih Sesama</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Oleh Musyafak Timur Banua   &lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;em&gt;(Jurnal Nasional, 16 Mei 2011)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;It is said in the Bible that the  love of money is the root all of evil. It might be truer to say that the  love of God is the root all of evil. &lt;/em&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;   --AN Wilson  (1992: 1)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SEKILAS, tesis Wilson, seorang novelis  berkebangsaan Inggris, dalam mukaddimah bukunya &lt;em&gt;Against Religion,  Why We Should Try to Live Without It&lt;/em&gt; tersebut berbau penghujatan  telak terhadap agama. Cinta kepada Tuhan dideklarasikan sebagai akar  segala kejahatan. Watak agama yang selalu mengajak pada yang paling  luhur, paling murni, dan paling tinggi di dalam jiwa manusia, adalah  akar tragedi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua agama turut  bertanggungjawab atas berbagai peperangan, tirani, dan penindasan  terhadap kebenaran. Bukan candu yang membuat orang tertidur seperti  dikatakan Karl Marx, tetapi agama membangunkan dan menggerakkan orang  untuk menganiaya sesamanya. Agama mendorong orang mengagungkan perasaan  dan pendapat pribadi untuk mengklaim kebenaran ada di genggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski penuh rasa curiga, kini kita nyaris tidak bisa mengelak  dari pernyataan Wilson. Kontestasi fundamentalisme-radikalisme di  tengah kehidupan beragama diam-diam memberikan keabsahan terhadap sikap  pesimistik sekaligus pemberontakan Wilson terhadap agama. Keonaran  berlabel agama telah memperumit kondisi sosial dan kebangsaan terkini,  dan karenanya cara pandang biner--saling bernegasi dan  berkontradiksi--terus berkembang dalam pandangan dunia insan beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilema ini mendapat perhatian Nurcholis Madjid (&lt;em&gt;Ulumul  Qur‘an&lt;/em&gt; No 1 Vol IV, 1993: 7). Menurutnya, memang makin baik jika  manusia makin yakin kepada agamanya. Tetapi, celakanya “orang baik" itu  justru akan makin kuat membenarkan dirinya untuk tidak toleran pada  orang lain. “Orang baik" model ini justru menjadi sumber keonaran karena  mengabsahkan keyakinannya untuk mengejar-ngejar orang yang tidak  sepaham dengannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pandangan Wilson tersebut  merupakan pengingatan kepada umat manusia untuk merenungkan cara mereka  beragama, cara mencintai Tuhannya, dan cara memanifestasikan loyalitas  kepada agamanya. Tetapi, argumen Wilson juga sah untuk dibalikkan atau  didekonstruksi. Dekonstruksi yang diproklamasikan oleh Jacques Derrida,  filsuf Prancis, adalah metode membaca dan menggumuli teks. Suatu kerja  interpretasi yang hendak menafikan kebenaran makna absolut, serta  menelanjangi agenda-agenda terselubung yang memuat banyak kepincangan di  balik teks (Christopher Norris, 2008: 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  konteks diskursus ini, ikhtiarnya adalah untuk membangun ulang kerangka  pikir atau logika agama yang lebih optimistik dalam meramalkan realitas  kemanusiaan di masa datang. Konsepsi “Cinta kepada Tuhan" sangat mungkin  dijadikan landasan “Cinta kepada Sesama" di kalangan umat beragama.  Cinta kepada Tuhan bisa diabstraksikan secara luas pada praktik-praktik  sosial keagamaan yang inklusif, toleran, cinta damai, serta cinta kasih  antarsesama manusia. Patutnya cinta kepada Tuhan bukan sekadar obsesi  untuk “menyucikan" atau “menyanjung" Tuhan, melainkan juga berorientasi  pada ranah antroposentris: memartabatkan manusia berdasarkan konsep  cinta yang &lt;em&gt;rahmatan lil ‘alamin&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Imago  Dei&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;   &lt;br /&gt;Kajian &lt;em&gt;Imago Dei&lt;/em&gt; (Citra  Tuhan) sudah berkembang sejak tradisi Yudaisme, Kristiani, hingga Islam.  Dalam Kitab Perjanjian Lama (Genesis I) dinyatakan bahwa Tuhan  menciptakan Adam dalam citraNya. Tradisi Kristiani menafsirkan citra  Tuhan itu diaktualisasikan melalui Yesus Kristus. Islam pun mengenal  persepsi &lt;em&gt;Imago Dei&lt;/em&gt; tersebut lewat hadits: “Tuhan menciptakan  Adam dalam citraNya". &lt;em&gt;Imago Dei&lt;/em&gt; yang membentuk ranah teologi  antroposentris ini juga ditemukan dalam Al Quran seperti istilah “Tangan  Tuhan" atau “Wajah Tuhan". (Masataka Takeshita, 2005: 12-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep citra Tuhan berkembang dalam teologi emanasi yang dikawal  ketat oleh aliran neoplatonisme. Teori emanasi memandang manusia, juga  alam semesta, adalah abstraksi atau pancaran Dzat-Nya. Dunia dan alam  semesta seolah “Topeng Tuhan". Begitu juga manusia seolah bentuk “Topeng  Tuhan". Jika topeng dilepas, ia tidak berarti apa-apa lagi kecuali Dzat  (eksistensi dan esensi) Tuhan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka  sejatinya manusia bisa menemukan Tuhan di dalam penubuhan ciptaanNya.  Memandang orang lain dengan kesadaran profetik akan memunculkan  keinsyafan religius, bahwasanya orang lain atau &lt;em&gt;liyan (the other)&lt;/em&gt;  merupakan bagian dari kemanunggalan diri kita sendiri, juga  kemanunggalan Tuhan dengan ciptaan-Nya. Perspektif emanasi dalam  memandang orang lain semacam ini menjaga seseorang tidak terjerumus  dalam logika biner yang menganggap orang lain adalah negasi dari diri  kita: aku subyek dia obyek, aku benar dia salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cinta,  Wajah dan Keterlibatan&lt;/strong&gt;   &lt;br /&gt;Paradigma  kemanunggalan ini akan makin genap dan lengkap dengan bangunan cinta.  Sifat-sifat &lt;em&gt;nasut&lt;/em&gt; (kemanusiaa) Tuhan yang berciri humanistik  seperti &lt;em&gt;al-Rahman&lt;/em&gt; (Yang Pengasih) dan &lt;em&gt;al-Rahim&lt;/em&gt; (Yang  Penyayang) harus diinsyafi sebagai prototipe watak manusia rasional yang  menganut silsilah Adam sebagai proklamator monoteisme yang di  belakangnya ada Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad. Cinta mendorong  manusia untuk berbuat indah, baik, dan benar. Cinta akan membentengi  manusia dari perilaku pencederaan dan tirani, melainkan perilaku saling  memelihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang orang lain penuh cinta kasih  adalah landasan bagi rasa tanggungjawab dan keterlibatan individu  terhadap orang lain di tengah pluralitas. Emanuel Levinas (1906-1995),  filsuf Rusia, berpandangan bahwa ketika kita bertemu orang lain, maka  sebetulnya kita tidak sekadar berhadapan dengan obyek atau pengada lain,  melainkan berhadapan dengan “wajah". Wajah, bagi Levinas, merupakan  medium di mana “yang lain" &lt;em&gt;(the other)&lt;/em&gt; memperlihatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah melampaui gagasan tentang yang lain dalam diri  aku-subyek. Seseorang bisa melihat wajahnya sendiri melalui sebuah  cermin, dan wajah orang lain ibarat cermin: ketika seseorang  menghadapinya, ia akan menampaki wajahnya sendiri. “Wajah menatap saya  dan memanggil saya. Ia menuntut saya. Apa yang ia minta? Jangan  tinggalkan ia sendirian" (Thomas Hidya Tjaya, 2010: 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui wajah orang lain, kita dapat mengidentifikasi diri sendiri,  bertanggungjawab, dan terlibat dengan orang lain. &lt;em&gt;Liyan&lt;/em&gt; adalah  konsep yang sebenarnya bagian dari dalam diri kita sendiri yang harus  digumuli tanpa harus dinegasikan. Wajah orang lain menghadirkan dunia  yang kompleks menyangkut diri kita juga yang mesti diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insan beragama perlu memandang dan memahami wajah orang lain,  serta mengakuinya ada, meski secara fisik tampak berbeda. Wajah orang  lain mesti diaffirmasi, bahkan lebih dari itu dicintai, seperti kita  mencintai wajah sendiri. Barangkali, cinta kasih terhadap orang lain dan  sesama manusia sepadan makna dengan cinta kepada Tuhan. Keliru jika  cinta kepada Tuhan malah menimbulkan kebencian terhadap sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Musyafak Timur Banua&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;peneliti di Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LeKAS) Semarang &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-4409094810253113159?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/4409094810253113159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=4409094810253113159' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4409094810253113159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4409094810253113159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/05/cinta-tuhan-akar-cinta-kasih-sesama.html' title='Cinta Tuhan Akar Cinta Kasih Sesama'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-8297133427314259858</id><published>2011-05-14T07:58:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T07:58:22.423-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terasartikel'/><title type='text'>Memulihkan Kebangkrutan Negara</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Oleh Musyafak Timur Banua &lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;(Analisa, 14 Mei 2011) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Negara  kini telah berada pada situasi bangkrut. Rakyat tidak  hanya teraniaya  oleh kemelaratan ekonomi, tetapi juga kebangkrutan moral politik  dan  hukum yang semakin mengaburkan cita-cita berbangsa: memerdekakan manusia   dari ketertindasan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt; Celakanya, kebangkrutan demi kebangkrutan justru  bermula  dari ulah para pemangku kekuasaan yang semestinya bertindak  sebagai pelaksana  amanat rakyat. Korupsi jelas-jelas merongrong negara  dari dalam secara  membabibuta.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Betapa tidak,  baik politik maupun hukum kini hanya menjadi  medan pergulatan  kepentingan para elite politik. Saban hari masyarakat menonton  drama  hukum yang tragis. Alih-alih menegakkannya, hukum justru diperosotkan   hingga kehilangan martabatnya. Upaya penuntasan kasus demi kasus  pelanggaran  hukum sekadar menjadi kerutinan cerita yang klise dan  membosankan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sebenarnya rakyat tidak pernah  berhenti berharap, negara yang  berdiri di bumi nusantara ini bangkit  dari kebangkrutannya. Berharap rakyat bisa  mentas dari kemiskinan,  hak-hak hidup bersama dijamin oleh hukum, juga  distribusi keadilan yang  merata. Nyatanya pelbagai harapan itu hanya membuat  kekecewaan yang  berlarut-larut, bahkan berlarat-larat. Akibatnya kepercayaan  rakyat  kepada negara makin merosot. Bukan tidak mungkin jika negara ini bakal   "kehilangan" rakyat. Kekecewaan yang tak terobati niscaya membuat rakyat   berpaling dari negaranya dan menempuh jalan antinegara: abai politik  dan  hukum.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;strong&gt;Absurditas Berbangsa&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kontradiksi  antara harapan dan kenyataan melemparkan rakyat  pada situasi absurd  yang tidak tertanggungkan lagi. Pertentangan antara  idealitas dan  realitas mengisbatkan situasi kehidupan berbangsa-bernegara yang  penuh  absurditas. Perangkat-perangkat negara yang mustinya bertujuan menjamin   hak-hak masyarakat justru berbalik menjadi alat-alat yang dilegalkan  untuk  merampas dan menindas masyarakat. Demokrasi, hukum, dan politik  tidak dijalankan  sepenurut aturannya yang memuat nilai-nilai moral dan  humanitas telah menerakan  sejarah tentang kecelakaan bangsa yang sulit  diselesaikan. Absurditas itu  seolah-olah menggelar keadaan tanpa  harapan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Albert Camus dalam buku Mite Sisifus:  Pergulatan dengan  Absurditas (2001), memandang absurditas sebagai  situasi tanpa makna. Dinamika  kehidupan menunjukkan tiadanya gerakan  dunia yang konon berasaskan pada  harmonitas. Sebaliknya, hukum  absurditas lebih dominan sehingga menubakan  pelbagai kekacauan yang  menyengsarakan kehidupan manusia. Di satu sisi manusia  tidak  henti-henti memolakan dan merumuskan dunia dengan hukum-hukum sosial  yang  ingin merangkul mesra semua individu maupun golongan. Tetapi, di  sisi lain  manusia sendiri yang selalu mencari celah untuk  mengkhianatinya untuk  kepentingan pribadi maupun golongan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Absurditas  juga terejawantah sebagai kematian makna nilai-nilai  kebenaran yang  sekian lama dirumuskan sebagai patokan hidup yang sarat keadaban.  Apa  boleh buat, kebenaran yang menjunjung tinggi budi luhur manusia justru   dihinadinakan. Kebenaran yang dibangun atas nama kebajikan dan kejujuran  telah  kehilangan kepercayaan dari manusia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Tetapi  kita perlu melakukan penyangkalan terhadap Camus. Sebab  pada dasarnya  kita masih selalu merindukan kebahagiaan dan kebajikan. Situasi   berbangsa-bernegara tentu masih bermakna selagi masyarakat masih  merindukan  keadilan. Setidaknya, harapan-harapan itu masih menempatkan  kehidupan ini  memiliki makna yang hendak ditatap di masa depan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;strong&gt;Pemulihan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Tidak  bisa ditawar, jika ingin negara ini tetap hadir dan  mengada di hadapan  rakyat, maka berbagai kebangkrutan negara mesti dipulihkan.  Politik  seharusnya menjadi medium untuk mendialogkan kepentingan-kepentingan   seluruh elemen masyarakat. Kepentingan yang beragam dan berbeda musti   dikompromikan agar berjalan bersamaan tanpa mengurangi hak-hak satu sama  lain,  apalagi mencederai. Begitu pula hukum, sudah sepatutnya  dikembalikan kepada  khittahnya sebagai rambu-rambu yang mengatur dan  menyusun harmonitas  antarindividu. Kerja hukum musti dikembalikan  sebagai kerja untuk  mendistribusikan keadilan demi mencapai kebahagiaan  bersama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Harapan pemulihan itu patut dipandang  sebagai misi menggerakkan  kehidupan berdasarkan prinsip  sinkronitas—meminjam istilah Charles Gustav Jung.  Dalam konteks  kehidupan berbangsa-bernegara, sinkronitas adalah gerak bersama  menuju  harmonitas hubungan antarindividu maupun antargolongan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sinkronitas  memandang setiap perilaku memiliki keterkaitan  dengan perilaku  lainnya. Walhasil tiap-tiap peristiwa merupakan jalinan  kausalitas  (sebab-akibat) atas peristiwa-peristiwa lainnya. Karenanya orang  mesti  sadar bahwa perbuatannya akan menimpakan sebuah keadaan tertentu kepada   orang lain. Jika seseorang berbuat keburukan, maka dapat dipastikan  orang lain  akan tertimpat kejujuran sebagai efek akibat yang tidak bisa  dihindarkan. Begitu  juga sebaliknya, jika orang lain berbuat  kebajikan, maka sangat mungkin  seseorang akan tertimpa kebajikan  daripadanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Karenanya setiap instrumen negara  harus dijalankan menurut asas  sinkronitas. Hukum, misalnya, mustahil  berjalan dengan baik dan semestinya jika  politik dijalankan dengan  penuh kecurangan dan penyelewengan. Begitu juga budaya  masyarakat akan  semakin beradab jika pendidikan berjalan dengan benar dan sesuai  tujuan  kemanusiaannya. Lain kata, kerusakan di salah satu instrumen negara  akan  berakibat pada kerusakan instrumen-instrumen lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div align="justify" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sinkronitas  penting sebagai landasan perspesktif dalam  memandang dunia dan  merumuskan pandangan dunia (world view). Agar manusia tidak  semena-mena  mengaplikasikan kebebasan bertindak secara individual. Bahwasanya   setiap tindakan individu harus disertai kepenuhan tanggungjawab kepada  orang  lain. Prinsip-prinsip sinkronitas juga penting untuk melawan  realitas hidup yang  penuh absurditas, termasuk untuk mengatasi  kebangkrutan negara agar tidak  semakin berlarat-larat. &lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-8297133427314259858?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/8297133427314259858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=8297133427314259858' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8297133427314259858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8297133427314259858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/05/memulihkan-kebangkrutan-negara.html' title='Memulihkan Kebangkrutan Negara'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-675451576700183046</id><published>2011-04-27T07:06:00.000-07:00</published><updated>2011-04-27T07:06:45.414-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruanghalimun'/><title type='text'>masih tentang laut</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div&gt;: &lt;em&gt;iin ainatuzzahiroh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau  mau hitung berapa laut. kita singgahi tepi sampai palungnya. angin  syahwat air hingga gemuruh mencumbunya. berisik dan merayu ombak itu,  katamu. bikin kita ingin. karena pekik bocah kita menahan. lalu hasrat  tunduk pada pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau seperti tak ingin berhenti  menanam cerita-cerita di pasir. padahal sebentar sebentar dilibas air.  aku musti beberapa kali mengimankanmu tentang kenangan masa depan:  angan-angan yang selalu kita kenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah ini kita  mulai lagi. di tepian lain. di muara itu juga. masih di palung yang  sama. di sanalah cerita-cerita menatah karang. di asin yang kelak jadi  wangi hujan. dan kita tak perlu hijrah ke lain mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;25.04.2011&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gdfYfC0lq3M/TbgiZolVS2I/AAAAAAAAAdM/Osy17o5oTX4/s1600/c01.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="297" src="http://1.bp.blogspot.com/-gdfYfC0lq3M/TbgiZolVS2I/AAAAAAAAAdM/Osy17o5oTX4/s400/c01.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;gambar diambil dari http://diimaazazza.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-675451576700183046?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/675451576700183046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=675451576700183046' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/675451576700183046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/675451576700183046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/masih-tentang-laut.html' title='masih tentang laut'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gdfYfC0lq3M/TbgiZolVS2I/AAAAAAAAAdM/Osy17o5oTX4/s72-c/c01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-4923334475137597974</id><published>2011-04-25T11:22:00.000-07:00</published><updated>2011-04-25T11:22:07.677-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruanghalimun'/><title type='text'>kereta ke utara</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3HW2yCx49u4/TbW7VbSgsQI/AAAAAAAAAdI/eyVS_b3xT0c/s1600/lukisan-kematian-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-3HW2yCx49u4/TbW7VbSgsQI/AAAAAAAAAdI/eyVS_b3xT0c/s1600/lukisan-kematian-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;gambar diambil dari www.kompasiana.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;perjalanan kadang tak  mementingkan tujuan. seperti kita di dalam gerbong yang kian kosong di  tiap pemberhentian. berapa puluh stasiun dan peron kita enyahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terus  saja curiga pada mural-mural yang tumbuh di tembok-tembok belakang:  entah rumah entah tokoan ataukah hanya bebangkai hunian. ada yang  mengingatkan kita tentang pertemuan. tentang beberapa kekasih yang  pernah kehilangan. juga tentang kematian yang kelak mengantar kita ke  reinkarnasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kereta terus menjauh. sejauh entah  yang tak kita pedulikan. karena kita sendiri lupa mula mana  keberangkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita sempat berdebat soal arah kereta  akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke barat, katamu. ke arah paling lurus seperti  pernah diceritakan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, tidak, kawan. kurasa perjalanan  ini mengayuh jauh ke utara. ke lorong bumi paling curam dan jeram.  sebentar singgah untuk satu istirah. sebelum kita datang dan pergi ke  tubuh berikutnya. merasai hidup dan mati&amp;nbsp; yang tak pernah usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;16.02.2011&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-4923334475137597974?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/4923334475137597974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=4923334475137597974' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4923334475137597974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/4923334475137597974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/kereta-ke-utara.html' title='kereta ke utara'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-3HW2yCx49u4/TbW7VbSgsQI/AAAAAAAAAdI/eyVS_b3xT0c/s72-c/lukisan-kematian-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-7351032413616421908</id><published>2011-04-23T21:18:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T21:21:18.206-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruanghalimun'/><title type='text'>jika kau ingat laut</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;jika kau melangut sedemikian hanyut. apa kau lupa laut? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;garam dan pasir yang mengasuhmu. berserikat dengan daki di kulitmu. menjadi dewasa dan kau mulai rasai rindu yang janggal—bukan pada ibu. cuma perempuan yang sebentar tersesat di pantai, itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;jika kau ingat laut. takkan lama perih mengeram dan geram. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;jika kau ingat laut. garam pergi menguap ke kebun bintang. kembali jadi hujan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;24.04.2011 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-7351032413616421908?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/7351032413616421908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=7351032413616421908' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/7351032413616421908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/7351032413616421908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/jika-kau-ingat-laut.html' title='jika kau ingat laut'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-3847983056522714491</id><published>2011-04-19T21:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-19T21:52:49.419-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruanghalimun'/><title type='text'>karena tiba-tiba rindu menjadi teramat genit</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div&gt;sampai di sini saja malam menyesatkanku dalam kembara. aku ingin jalan mengantar pulang. ke pelukan paling lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.04.2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-3847983056522714491?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/3847983056522714491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=3847983056522714491' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3847983056522714491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3847983056522714491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/karena-tiba-tiba-rindu-menjadi-teramat.html' title='karena tiba-tiba rindu menjadi teramat genit'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-1952192543704563663</id><published>2011-04-19T21:41:00.000-07:00</published><updated>2011-04-19T21:41:59.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumahkisah'/><title type='text'>Perempuan dari Masa Lalumu</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div&gt;Cerpen &lt;b&gt;Musyafak Timur Banua&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(Tabloid NOVA 18-24 April 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  tak percaya kau tewas dalam kecelakan kereta itu! Seorang lelaki  mengaku polisi mengabarkan bahwa kau duduk di gerbong 8 Senja Merah  jurusan Jakarta-Semarang yang barusan ditabrak Anggrek Hitam jurusan  Jakarta-Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda jangan macam-macam! Suamiku tidak naik kereta ke Semarang. Malam tadi ia berangkat ke Yogyakarta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumaki  lelaki itu. Aku mengingatkannya agar tidak melakukan iseng kelewat  batas. Acapkali aku mendapat telepon dari orang usil. Tapi tak pernah  seketerlaluan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, saya serius! Jenazah suami anda akan segera kami berangkatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih  saja aku mengelak untuk percaya. Sesaat kemudian aku menjadi begitu  gugup ketika teleponmu tak bisa kuhubungi. Belaka bunyi operator yang  kudengar berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinihari menyusut, sebentar lagi akan larut  dalam subuh yang berkabut. Namun waktu terasa telah kehilangan  heningnya. Kecemasan pecah dan berhamburan di dadaku. Ketakutan ini  rasanya datang terlalu pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunyalakan televisi, kupindah-pindah &lt;em&gt;channel&lt;/em&gt; dengan tergesa. Beberapa stasiun televisi masih senyap. Dadaku segera gemeratap ketika sebuah &lt;em&gt;breaking news&lt;/em&gt;  memberitakan Anggrek Hitam menabrak Senja Merah dari belakang. &amp;nbsp;Gerbong  Senja Merah paling bontot, gerbong 9, ringsek parah sebab terdesak  keras dan mendadak oleh lokomotif Anggrek Hitam. Sedangkan gerbong 8  terguling. Puluhan korban tewas sudah dievakuasi. Sebagiannya masih  tertimbun bangkai gerbong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali benar kata lelaki tadi, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi  kau tidak berada di kereta itu kan? Bukankah petang tadi kau berangkat  ke Yogyakarta, bukan ke Semarang? Aku tahu pasti rencanamu pergi ke  Yogyakarta menemui rekanan bisnis yang akan menangani proyek hotel baru  di sana. Mungkinkah tiba-tiba kau mengalihkan tujuan hingga benar-benar  naik kereta yang gerbongnya remuk itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu membuktikan  kebenarannya. Ketika matahari terlalu galau untuk beranjak siang, sebuah  mobil jenazah berhenti di muka rumah. Sirinenya meraung-raung seolah  melemparkan ribuan kutuk ke sudut-sudut rumah kita. Aku linglung ketika  tetangga—yang sejak pagi tengah menunggu kedatanganmu—memapah tubuhmu  yang sudah beku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Belum kutemu jawaban mengapa kau naik  kereta ke arah Semarang. Kuharap ada sesuatu yang dapat mengantarkan  jawaban sebelum kau kukuburkan. Demi aku tak turut mati digantung rasa  penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayat makin banyak berdatangan. Ayah, Ibu, famili dan  kerabat menumpahkan duka. Sebagian dari mereka menangis dengan airmata  yang tak henti memburai. Aku yang sedari dulu benci menangis di hadapan  orang ramai pada akhirnya melelehkan airmata pula. Hanya Haura, putrimu  yang delapan tahun itu, tidak tampak kesedihan di mukanya. Rautnya  biasa-biasa saja ketika melihatku dan kakek-neneknya mengisak. Ia belum  bisa memahami arti kehilangan, barangkali. Ataukah ia sebenarnya tengah  memeram gejolak yang menggoncang dadanya, dan tak tahu bagaimana  menumpahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang kecelakaan kereta makin berkembang.  Kudengar seorang pelayat bilang—mengutip siaran televisi—mulanya Senja  Merah telat berangkat hampir satu jam. Setiba di Stasiun Petarukan,  Pemalang, Jawa Tengah, kereta itu berhenti di jalur 3 untuk menunggu  persilangan Anggrek Hitam dari arah Jakarta yang masih berada di  belakang. Dua belas menit berikutnya Anggrek Hitam tiba di Petarukan.  Mustinya, kereta itu berhenti di jalur 1. Tapi masinis yang melihat  sinyal merah di jalur 1 malah menerobos. Jadilah lokomotif itu menyodok  gerbong kereta yang berhenti di depannya. Tiga puluh enam nyawa  melayang, dan puluhan lainnya luka-luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan dan  penyangkalanku lantas beralih pada sekuensi waktu yang telah melaju.  Andai kereta berangkat tepat waktu, kau niscaya terhindar dari perangkap  tragis itu. Satu jam keterlambatan kereta itu kupikir sebagai jebakan  waktu yang tak menyediakan jalan keluar. Keterlambatan itu sama halnya  masa tunggu untuk memapaskan Anggrek Hitam berlintasan di jalur yang  sama dan dalam waktu bersamaan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lebih tepat jika  kesalahan musti ditanggung masinis yang ceroboh itu! Jelas-jelas sinyal  merah di hadapannya, mengapa ia tak menghentikan keretanya. Malah,  beberapa saat sebelum sampai Petarukan, masinis Anggrek Hitam sempat  tertidur. Mengendalikan kereta tanpa keterjagaan penuh sama halnya  mengantarkan diri dan orang lain kepada celaka maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa amat  kejam jika hanya menyalahkan masinisnya. Barangkali telah banyak masinis  berlaku sigap serta hati-hati? Toh, kecelakaan kereta di negeri ini tak  pernah henti. Terus bersusulan kecelakaan memakan korban nyawa yang  lantas tersulap menjadi barisan angka yang hanya membujur kaku di  lembar-lembar kertas. Sebabnya beragam macam rel anjlok, kelebihan  muatan atau penumpang, lokomotif maupun gerbong yang sudah masanya  digudangkan, atau perawatan kereta yang kurang maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka,  kupikir, sebenarnya kecelakaan kereta yang berkali-kali itu disebabkan  orang massal yang bekerja di perkeretaapian. Kecelakaan berulang itu  memperlihatkan manajeman dan etos kerja perkeretaapian yang  corengmoreng. Salah pula orang-orang yang masih percaya kereta untuk  mengantarkan mereka ke tujuan, di tengah perulangan kecelakaan yang  sebenarnya manjadi peringatan baginya. Andai orang-orang tidak lagi  percaya, tentu kereta menjadi tidak laku dan bangkrut. Takkan ada lagi  kecelakaan kereta, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku terus menelusur mundur. Lalu  kusadari, sebenarnya kecelakaan yang menimpamu adalah buah ulahku.  Mestinya, sesuai rencana awalmu, kau berangkat ke Yogyakarta kemarin  lusa. Aku memintamu menunda kepergian karena egoku yang ingin tetap  bersamamu. Kau baru dua hari di rumah setelah dua bulan menggarap proyek  di Bali itu. Kuminta waktumu sehari semalam lagi untuk menuntaskan  rindu. Aku, yang barangkali terlalu manja, memintamu mengantar ke salon  dan berkeliling mal untuk memborong aneka baju sejak pagi. Sore harinya  kita masih sempat mencurahkan percintaan. Andai kau pergi kemarin lusa,  niscaya kau bisa melewati perangkap waktu yang sudah bersiap menjatuhkan  kecelakaan pada dinihari tadi. Ah, bodohnya aku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa ciut  dan kerdil. Andai bisa kutarik waktu untuk kembali, bakal kutata ulang  lajunya hingga kau terbebas dari perangkap tragis itu. Rasa bersalah ini  sudah terlambat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengapa kau pergi ke Semarang? Jadilah kecelakaan yang menimpamu itu salahmu sendiri, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak perlu kau salahkan siapa-siapa,” kata Ayah, “Begitulah nasib bekerja, tak butuh banyak alasan maupun penjelasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba  kuingat pesanmu. Dulu sekali, di masa muda kita, ketika kau tengah  berupaya mencuri perasaanku. “Waktu tak berpintu,” katamu, “Waktu  hanyalah ruang kedap yang kita tak bisa lolos ke manapun. Manusia hanya  memerlukan sebuah gerakan untuk menciptakan momentum. Lantas terjadilah  ragam peristiwa di antara beberapa jeda.” Sesaat kemudian kau nyatakan  cinta padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini peluangku. Barangkali esok takkan ada  kesempatan untukku. Bahkan jika malam ini aku terlambat sedikit saja.  Tapi, jikalah kau memang takdirku, maka waktu pasti akan terus  menungguku,” katamu, seraya tiba-tiba tanganmu yang hangat meremas  tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Keretamu diberangkatkan. Aku mengiringkanmu  dengan kidung sendu. Kulapangkan dadaku seolah altar yang siap menampung  apa saja. Hingga dukacita ini bisa kuterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bukan salah  siapa-siapa. Waktu telah memilihmu. Dan kau tak kuasa menghindarinya.  Waktu begitu rapat hingga acapkali ramalan maupun perkiraan terpental  ketika hendak menembusnya. Dan kita manusia biasa, tak selalu  mempersiapkan perisai untuk menepis ramalan buruk seperti seorang nujum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit  mendung sore ini. Sepertinya Tuhan sengaja memberi latar kelam agar  upacara kematianmu bersuasana lebih muram. Setelah mencuat tanah basah  itu, kutaburkan kembang dan kunaikkan doa-doa ke langit untuk  kebahagiaanmu di alam yang kelak pun aku akan menyusulnya. Semoga kelak  kita bisa bersua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengang menikamku perlahan. Pelayat mulai  menceraikan diri dari area pemakaman. Aku masih ingin bersimpuh di  sebelah nisanmu. Membaca kembali ingatan-ingatan usang yang barangkali  bisa kian meneduhkan. Ingin kubangkitkan rasa bahagia dengan mengenang  jejak kebersamaan kita di masa silam. Ada tawa, canda, sedih, kesal,  gairah, rindu, dan cinta yang berlesatan di pikiranku. Namun aku lebih  memilih untuk mengingat saat-saat bahagia kita. Aku ingin tetap hidup  dengan kenangan itu, sebagai kekuatan untuk menjalani masa depan yang  barangkali begitu sepi dan ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan, kukira  usianya sepadan denganku, tiba-tiba menghampiri kuburmu. Ia berdiri dan  agak lama menamati nisanmu. Ia beralih menatapku. Makin lama  pandangannya seperti makin surut. Hatiku bertanya-tanya siapakah ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku turut berduka cita atas kematian Mas Juna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  menjabat tanganku. Tangannya terasa dingin. Kuanggukkan kepala dan  kuhaturkan terima kasih. Aku heran ketika tiba-tiba meleleh buliran  bening dari sudut matanya hingga mengiris pipinya yang putih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harusnya  aku tak meminta Mas Juna untuk menemuiku,” katanya seraya isaknya yang  tak bisa disembunyikan, “Mustinya kuinsyafi, masa lalu hanyalah milik  masa lalu. Mustinya kubiarkan masa lalu membiak bersama keheningannya  sendiri hingga tak menuntut apa-apa di masa kini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedirianku  meluruh. Aku mulai mengira bahwa ia pernah manjadi bagian penting dari  masa lalumu. Perempuan yang barangkali pernah membukukan kenangan  bersamamu. Ah, mengapa kau tak pernah berbagi cerita denganku tentang  perempuan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya perempuan itu memperkenalkan siapa  dirinya. Seandainya ia menceritakan masa lalu macam apa hingga  mengantarnya berhadapan denganku di saat perkabungan masih hitam. Tapi  ia buru-buru undur diri. Ia pergi menyisakan sejumlah pertanyaan di  benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Semarang, Oktober 2010&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-1952192543704563663?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/1952192543704563663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=1952192543704563663' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1952192543704563663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1952192543704563663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/perempuan-dari-masa-lalumu.html' title='Perempuan dari Masa Lalumu'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-6640496058554056787</id><published>2011-04-13T18:17:00.000-07:00</published><updated>2011-04-13T18:17:11.601-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Ambient Puitika Kurniawan Yunianto</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-5jhhBiIL1Fo/TaZKrdQVBQI/AAAAAAAAAdE/YZpvlvG1wfc/s1600/openmind%2527s+family.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-5jhhBiIL1Fo/TaZKrdQVBQI/AAAAAAAAAdE/YZpvlvG1wfc/s320/openmind%2527s+family.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;Segala bunyi menubuhkan suaranya…&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Suatu  sore, barangkali langit pucat. Ritmis suara gerimis. Suara angin pula.  Daun-daun bergesekan. Dan di antara kami terus berbincang. Menghadirati  sebuah puisi. Kurniawan Yunianto, Purwono Nugroho Adhi, Agung Hima, dan  saya di sana. Di seberang &lt;em&gt;hand phone&lt;/em&gt; mendering: suara &lt;em&gt;ring tone&lt;/em&gt;  naik turun secara acak. Dan sesekali desisan mulut mengisap rokok.  Denting sendok-gelas mengaduk kopi hangat. Juga di meja sebelah  orang-orang ramai berseloroh. Atau, barangkali di antara kami mendengar  suara gemericik air di jauh seberang, lamat, dan tenggelam. O, adakah  derik serangga?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;Tahukah alam ini musikal?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Demikian alam, yang terjalin atas segala suara yang membentuk &lt;em&gt;soundscape&lt;/em&gt;-nya.  Suara-suara itu merupakan latar alamiah yang membangun, atau barangkali  menghadirkan, ruang secara utuh. Pernah, barangkali suara–suara terasa  bertabrakan, berdifraksi, berpaduan acak sehingga derau. Segala suara  masuk dalam kanal komunikasi (bunyi, bahasa) yang multikompleks yang  menuntut diinderai lebih seksama. Dan, kepekaan indera punya sumbangan  untuk meresepsi segala keriuh-rendahannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Suasana yang &lt;em&gt;ambient&lt;/em&gt;,  itu. Segala suara yang mengelilingi perbincangan kami. Dan semua suara  itu berpaduan sebagai latar ruang yang tak tertampik. Karenanya, obrolan  kami kadang terdengar parau. Suara-suara itu seolah &lt;em&gt;multiple effect&lt;/em&gt; yang memungkinkan terjadinya ragam distorsi. Dan segala suara itu seperti di ambang batas. Mengapung-apung, tak ke mana.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Riuh  di situ sepi. Perbedaan subjek suara dengan objek suara lainnya runtuh.  Menuju tanpa distingsi. Batas-batasnya menjadi kurang jelas. Tak ada  suara yang hendak membungkam suara lainnya. Meski ada jeda, yang lantas  menghadirkan aksentuasi suara-suara tertentu. Barangkali menambah  sugesti kelam. Alun. Lembut. Menyisakan suasana residual yang meditatif.  Membikin sepi yang intens. Menepikan, tapi di relung alam. Menyediakan  “yang mistik” di sana.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;**&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;TAPI MENYULUT NYALA&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;yang kau akui sebagai perasaan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;belum sepenuhnya mengendap&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;meski bertahun mukim dalam diri&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;berharihari singgah di kepala&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;lalu terutara melalui katakata&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;yang kau tulis lalu ucapkan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;bersama sekian macam harapan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;termasuk mantra ataupun doa&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;adalah muslihat paling mutakhir&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;seperti halnya ketika bernafas&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;sebab mempertahankan hidup&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;atau hidup akibat mencuri udara&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;barangkali saja memang begitu&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;ada nafas ada gerak ada lapar&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;ada makan ada haus ada minum&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;jika banyak yang menganggapnya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;sebagai hubungan kausalitas&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;mungkin hanya dari sudut mana&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;mata mengarahkan pandang&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;jelas terlepas lalu tuntas&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;tak terpisahkan tak tergantikan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;sebagai bukti dan wujud nyata&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;sebuah kejujuran tanpa ada&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;yang memaksa atas keyakinan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;hingga mustahil mampu menipu&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;apalagi tertipu oleh siapapun&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;kerna telah sampai kepada jiwa&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;yang tiap sentinya adalah mata&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;tiap jengkalnya adalah telinga&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;duhai betapa kemudian kau&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;terlalu luas bagi segenap indera&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;tanpa membuatku ternganga&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;em&gt;(Sajak Kurniawan Yunianto)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Purwono memperkarakan sajak &lt;em&gt;Tapi Menyulut Nyala&lt;/em&gt; dari segi “&lt;em&gt;ambient&lt;/em&gt; puitika”. A&lt;em&gt;mbient&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;relating to the immediate surrounding&lt;/em&gt;, adalah kaitpautan dengan sesuatu yang mengelilingi, memengaruhi, membentuk suatu persenyawaan yang lembut. &lt;em&gt;Ambient&lt;/em&gt; memungkinkan adanya &lt;em&gt;creating a relaxing atmosphere&lt;/em&gt;, membangkitkan atmosfer suasana secara intensif.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kata dia, sajak Kurniawan itu menggunakan &lt;em&gt;shoegaze&lt;/em&gt;. Cirinya, mengharmonisasi dua makna, metafora dan sinisme atau lebih. Ia memanfaatkan modulasi seperti &lt;em&gt;delay&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;reverb&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;chorus&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;phaser&lt;/em&gt;, dan efek distorsi yang bersifat &lt;em&gt;harsh&lt;/em&gt;. Identifikasi itu nyaris lumrah ditemukan di dalam sajak-sajak Kurniawan, yang lazimnya dimukadimahi dengan sentuhan &lt;em&gt;ambient&lt;/em&gt;. Ada &lt;em&gt;disolatif&lt;/em&gt; ada &lt;em&gt;introvert &lt;/em&gt;ada&lt;em&gt; galau&lt;/em&gt;, dengan mendayagunakan &amp;nbsp;&lt;em&gt;repetisi-repetisi&lt;/em&gt; yang memberikan sugesti keruangan dan memuncak dengan distorsi. Tetapi kadang sajak-sajaknya bernuansa &lt;em&gt;chill-out&lt;/em&gt;. Ringan sarat jeda, namun berkarakter dengan figuratifnya yang sumbang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Saya membilangnya kelam. Itu saja. Bukan belaka pada sajak &lt;em&gt;Tapi Menyulut Nyala. &lt;/em&gt;Kurniawan telah mengolah watak segala suasana jadi begitu. Sajaknya pekat. &lt;em&gt;Ngelangut&lt;/em&gt;. Tapi bukan hitam.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Ia  menyediakan kedalaman yang meditatif. Memberi ruang bagi “yang mistik”.  Sajak-sajaknya seperti tubuh yang bergerak lambat. Seperti lelah.  Selelah tubuh kita yang berjalan di zaman yang dinamai modern ini. Di  mana ruang makin penuh raung. Namun kita merasa sunyi di ramai itu. Dan,  waktu makin intens membelah tubuh kita dengan banyaknya pekerjaan yang  untuknya disediakan tempo tertentu. Teknologi justru semakin  memperbanyak pekerjaan. Tubuh yang tersalib. Sementara kita masih terus  hendak menubuhkan eksistensi diri di antara orang lain. Karenanya kita  tak mau diam. Terus bergerak. Hingga suatu saat kita rasa jalan yang  kita geraki ini menuju “entah”.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Yang kelam dan lambat di  puisi-puisi Kurniawan itu, menyediakan gerak reflektif atas zaman  modern. Ia tak memuja artifisial yang datar. Dan masih meyakini adanya  kebenaran yang hendak dikukuhkannya sebagai “kesejatian” di balik segala  keriuh-rendahan hidup yang hanya kita tangkapi dengan mata—sementara  indera-indera lainnya kita bunuh pelan-pelan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Tapi Agung merasa &lt;em&gt;Tapi Menyulut Nyala&lt;/em&gt;  ini kehilangan daya kelamnya yang meditatif dan dalam, seperti di  sajak-sajak Kurniawan sebelumnya. Ini seperti bukan Kurniawan, kata dia.  Sebab kata berjalan ringan, begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kurniawan  sendiri mengakui, suasana langut, atau kelam, jika sudah terbiasa maka  ia akan tak berasa lagi. Dan semuanya akan menjadi ringan. Tak ada yang  perlu dibuat berlarat-larat. Sebab, jika segalanya telah menyatu dengan  diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Ya, Kurniawan pun sebenarnya berangkat menuju  langkahnya. Barangkali kini ia menempati posisi yang sedikit berselisih  dengan sebelumnya. Juga titik pandangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;strong&gt;Musyafak Timur Banua&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;catatan ini berangkat dari Diskusi Sastra Podjok Pendopo (DSPP) #21 pada 10 April 2011 di TBRS Semarang.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-6640496058554056787?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/6640496058554056787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=6640496058554056787' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/6640496058554056787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/6640496058554056787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/ambient-puitika-kurniawan-yunianto.html' title='Ambient Puitika Kurniawan Yunianto'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5jhhBiIL1Fo/TaZKrdQVBQI/AAAAAAAAAdE/YZpvlvG1wfc/s72-c/openmind%2527s+family.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-8023945443502618388</id><published>2011-04-12T03:04:00.000-07:00</published><updated>2011-04-12T03:04:17.061-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Riwayat Juang Tentara Santri</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-QO2M3JkqLbI/TaQjbC2KqvI/AAAAAAAAAdA/MCyjjXVuz3s/s1600/sampul+Resolusi+Jihad+Paling+Syar%2527i%25231.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="294" src="http://4.bp.blogspot.com/-QO2M3JkqLbI/TaQjbC2KqvI/AAAAAAAAAdA/MCyjjXVuz3s/s320/sampul+Resolusi+Jihad+Paling+Syar%2527i%25231.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Resolusi Jihad Paling Syar’i&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Gugun El-Guyanie&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Pustaka Pesantren, Yogyakarta &lt;br /&gt;Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: I, Oktober 2010&lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: xiv+128 hlm&lt;br /&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: 979-8452-71-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegaknya kedaulatan Republik Indonesia sejak 17 Agustus 1945 tidak lepas dari kontribusi berbagai elemen bangsa. Di antaranya Hizbullah dan Sabilillah, barisan tentara kaum kiai-santri yang bernaung di bawah Partai Masyumi. Tetapi nasib “Laskar Kiai-Santri” itu kurang beruntung sebab perannya seolah diluputkan dalam catatan sejarah keindonesiaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Deliar Nor (1987) mencatat jumlah tentara Hizbullah berkisar 50.000 orang ketika Jepang takluk, dan meningkat lagi pasca proklamasi kemerdekaan. Hizbullah ditengarai sebagai satu-satunya organisasi bersenjata dari kalangan pemuda Islam dengan persenjataan yang kian lengkap. Sedangkan kalangan tua mendirikan laskar Sabilillah yang juga bernaung di bawah Masyumi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bela Negara&lt;br /&gt;Buku Resolusi Jihad Paling Syar’i karya Gugun El-Guyanie ini menguak ketersembunyian sejarah laskar kaum santri tersebut. Hizbullah dan Sabilillah merupakan representasi semangat bela negara dari kalangan kaum muslimin. Keduanya hidup dalam situasi kebangsaan yang masih goyah oleh ancaman kolonialisme. Salah satunya ada momentum kedatangan kembali Belanda yang membonceng NICA (Sekutu Amerika-Inggris). Momentum itu menimbulkan keprihatinan di kalangan ulama-santri sebab mencium kembali gelagat kolonialisme. Ulama se-Jawa-Madura yang digawangi para pendiri NU seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah, pada 21 Oktober 1945 menyelenggarakan musyawarah di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jl Bubutan IV/2 Surabaya, dan memutuskan seruan “jihad fi sabilillah” yang kemudian dikenal sebagai “Resolusi Jihad” pada Pada 23 Oktober 1945 (hlm 72).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Resolusi Jihad berisi seruan bela negara. Pertama, mempertahankan kemerdekaan RI yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Kedua, mengakui RI sebagai satu-satunya pemerintahan sah yang harus dibela dengan harta dan jiwa. Ketiga, mengingatkan kedatangan Belanda yang membonceng NICA (sekutu Amerika-Inggris) sebagai upaya menjajah kembali bangsa Indonesia. Keempat, menyeru umat muslim, khususnya warga NU, untuk mengangkat senjata melawan Belanda atau Sekutu yang mencoba merongrong kedaulatan RI (hlm 74-75).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Resolusi Jihad seolah pembuktian terbalik bagi tuduhan kaum nasionalis yang cenderung melihat ulama atau santri sebagai kaum tradisionalis yang hanya mementingkan persoalan ubudiyyah (peribadatan kepada Tuhan). Sebaliknya, kaum ulama atau santri memiliki kepedulian besar terhadap isu-isu kebangsaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum Resolusi Jihad itu, para ulama telah mentransformasikan nilai-nilai keagamaan untuk kepentingan kebangsaan (wathaniyah). Nahdlat al-Wathan (Kebangkitan Tanah Air, Tashwir al-Afkar (Potret Pemikiran), dan Nahdlat al-Tujjar (Kebangkitan Pedagang) adalah tiga embrio NU yang responsif terhadap situasi politik kebangsaan. Hingga lahirnya Hizbullah&amp;nbsp; atau Laskar Santri pada 4 Desember 1944 yang diinisiasi KH Wahid Hasyim (putra KH Hasyim Asy’ari) merupakan representasi respon kaum santri terhadap situasi berbangsa dan bertanah air.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Transformasi&lt;br /&gt;Resolusi jihad merupakan bentuk transformasi nilai-nilai agama menjadi spirit perjuangan membela negara. Penggunaan agama sebagai simbol perlawanan tampak efektif untuk memobilisasi massa hingga mengatasi problem etnisitas maupun primordialitas (hlm 45). Tidak salah jika KH Wahab Hasbullah menciptakan adagium “hubb al-wathan min al-iman” (cinta tanah air sebagian dari iman).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Resolusi Jihad memiliki efek besar terhadap semangat juang kaum muslim. Misalnya, Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 yang dikomando Bung Tomo tidak lepas dari dukungan ribuan kaum muslim yang bersedia mengorbankan dirinya menjadi martir (hlm 88-91), hingga tragedi itu diperingati sebagai Hari Pahlawan. Mengingat Surabaya sebagai basis kaum santri yang menjadi pusat kekuatan struktural maupun kultural NU, maka patriotisme arek-arek Surabaya merupakan sebagian representasi patriotisme kaum santri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di tengah merebaknya penggunaan kata jihad atas nama agama yang justru mengancam pluralisme, demokrasi, serta keutuhan NKRI, seperti digunakan gerakan terorisme, spirit Resolusi Jihad masih relevan digali untuk merumuskan makna jihad yang selaras realitas kekinian. (Musyafak Timur Banua)   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-8023945443502618388?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/8023945443502618388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=8023945443502618388' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8023945443502618388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8023945443502618388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/riwayat-juang-tentara-santri.html' title='Riwayat Juang Tentara Santri'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-QO2M3JkqLbI/TaQjbC2KqvI/AAAAAAAAAdA/MCyjjXVuz3s/s72-c/sampul+Resolusi+Jihad+Paling+Syar%2527i%25231.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-8993196403468662141</id><published>2011-04-12T02:59:00.000-07:00</published><updated>2011-04-12T02:59:03.165-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Menziarahi Pemikiran Politik Gus Dur</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-kXN8lyhIScA/TaQiONsA7DI/AAAAAAAAAc8/paa2QZT9_xI/s1600/sampul+Ijtihad+Politik+Gus+Dur%25231.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-kXN8lyhIScA/TaQiONsA7DI/AAAAAAAAAc8/paa2QZT9_xI/s320/sampul+Ijtihad+Politik+Gus+Dur%25231.jpg" width="304" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Ijtihad Politik Gus Dur: Analisis Wacana Kritis&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Dr. Munawar Ahmad&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: LKiS, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: I, November 2010&lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: xvii + 464 hlm&lt;br /&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: 979-25-5323-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang sosok Gus Dur tidak sekadar menanamkannya dalam ingatan. Lebih dari itu, mengenangnya adalah sekaligus laku ziarah intelektual, yakni ikhtiar melacak dan menggali pemikiran sang guru bangsa yang acapkali mengejutkan, kontroversial, sekaligus membeber sejuta inspirasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ijtihad Politik Gus Dur: Analisis Wacana Kritis merupakan salah satu bentuk peziarahan intelektual terhadap pemikiran politik Gus Dur. Bangunan pemikiran politik agamawan-negarawan besar itu dibongkar secara kritis. Kajiannya didasarkan atas tulisan-tulisan Gus Dur yang berupa artikel-artikel di media massa maupun buku yang pernah ditulis Gus Dur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai telaah kritis, buku ini memiliki nuansa berbeda ketimbang buku-buku lain yang ditulis sebagai dedikasi atau penghormatan kepada Gus Dur yang lebih mengedepankan asumsi-asumsi impresif belaka. Metode Critical Discourse Analysis (CDA) ala Van Dijk diperkerjakan meliputi tiga tahap kerja (mikro, mezzo, dan makro) untuk memetakan metamorfosis atau perkembangan evolutif pemikiran Gus Dur berdasarkan kurun waktu dan konstelasi politik yang terus berubah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur adalah living text (teks hidup) yang pemikirannya memiliki landasan epistemologi kuat. Karenanya telaah atas tulisan-tulisan Gus Dur tidak lepas dari medan teks atau kebahasaan. Merujuk Harold Lasswell dan Abraham Kaplon (1950), bahasa bukan sekadar peristiwa linguistik, tetapi menyimpan artefak pergumulan interest dan politik, maka teks (bahasa) yang diproduksi oleh Gus Dur sangat mungkin memuat, sekaligus menyembunyikan, pergumulan politik dan kekuasaan, baik pada level individu maupun struktur berbangsa-bernegara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hibridasi Intelektual&lt;br /&gt;Peta pemikiran politik Gus Dur bisa dilacak melalui pemikiran KH Hasyim Asy’ari (kakeknya yang sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama), sampai KH Wahid Hasyim (ayahnya yang juga agamawan-negarawan). Robert E Lane (1969) menyatakan, konstruksi hubungan ayah dan anak telah menjadi bagian dari proses dari kesadaran politik dari ayah terhadap anak. Karenanya, secara antropologis pemikiran-Gus Dur berangkat dari sang ayah dan kakeknya. Tradisi intelektual di dalam keluarga memiliki pengaruh psikologis yang cukup besar dalam diri Gus Dur. Hibridasi kesadaran politik itu berabstraksi dalam diri Gus Dur, selanjutnya berhadap-hadapan dengan realitas kebangsaan yang berbeda. Posisi Gus Dur sebagai “pewaris NU” sangat berpengaruh bagi mobilisasi wacana politiknya serta penjaringan konstituen dari gerakan politik yang dibangunnya (hlm 108).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Munawar Ahmad, penulis buku ini, mengemukakan bahwa ketiga sosok satu garis keturunan tapi berbeda generasi itu dipandang sebagai ulama “liberal”. Identifikasi terminologi “liberal” ini didasarkan pandangan Charles Kurzman yang menunjuk pada prototipe pola pikir yang mengedepankan rasionalitas ketimbang tekstualitas (hlm 59) itu tentu kurang selaras dengan realitas yang ada. Faktanya, Gus Dur maupun kedua pendahulunya tersebut, lebih mencerminkan sebagai intelektual moderat. Mereka menempatkan teks (wahyu), tradisi (turats), dan akal (ra’yu) secara proporsional. Teks dan konteks didialogkan dengan harmonis tanpa berupaya mencederai satu sama lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konstruksi Ijtihad&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perlu dipahami, pemikiran politik Gus Dur memiliki perbedaan mendasar dengan pemikiran keagamaannya. Seperti dikemukakan Berki (1992), pemikiran keagamaan terfokus pada proses interpretasi simbol-simbol keagamaan atau ajaran agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Sedangkan pemikiran politik merupakan pemikiran keagamaan tingkat lanjut yang dikorelasikan dengan political event. Ajaran-ajaran agama menjadi landasan virtue atau moral excellence (kesalihan atau keunggulan moral) dalam pemikiran politik yang berbasis pada nilai-nilai agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konstruksi pemikiran politik Gus Dur merupakan hasil dialog dengan pelbagai situasi dan persoalan yang terjadi di masyarakat. Sehingga pemikiran politik Gus Dur berfungsi sebagai (1) masukan dalam pengambilan keputusan, (2) tawaran perspektif dalam mencermati suatu persoalan, dan (3) eksplorasi atas suatu persoalan untuk menemukan alternatif solusi terbaik (hlm 145).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran politik Gus Dur berpengaruh besar terhadap siatuasi politik, kultur dan keagamaan di Indonesia. Di wilayah politik, pemikirannya tidak henti mengondisikan iklim demokrasi yang dinamis. Di wilayah kultur dan keagamaan, pandangan-pandangan politiknya mampu mengatasi pelbagai problem SARA dan menciptakan semangat pluralisme masyarakat. (Musyafak Timur Banua)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-8993196403468662141?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/8993196403468662141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=8993196403468662141' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8993196403468662141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/8993196403468662141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/menziarahi-pemikiran-politik-gus-dur.html' title='Menziarahi Pemikiran Politik Gus Dur'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-kXN8lyhIScA/TaQiONsA7DI/AAAAAAAAAc8/paa2QZT9_xI/s72-c/sampul+Ijtihad+Politik+Gus+Dur%25231.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-1457764656759941218</id><published>2011-04-12T02:45:00.001-07:00</published><updated>2011-04-12T02:48:37.364-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendeladunia'/><title type='text'>Titik Balik Kebahagiaan</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(Suara Merdeka, 10 April 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-93IAUPwOSH4/TaQfqTSi7TI/AAAAAAAAAc4/67RMiWZ1gUU/s1600/sampul+9789792796995.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-93IAUPwOSH4/TaQfqTSi7TI/AAAAAAAAAc4/67RMiWZ1gUU/s320/sampul+9789792796995.jpg" width="209" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Judul: Pedoman Menuju Tidak Bahagia&lt;br /&gt;Penulis: Jaya Suprana&lt;br /&gt;Penerbit: Elex Media Komputindo&lt;br /&gt;Cetakan: I, Maret 2011&lt;br /&gt;Tebal: xvii + 173 hlm&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-27-9699-5&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan merupakan obsesi manusia sejak zaman bahuela. Tidak mengherankan jika agama, filsafat, ilmu pengetahuan, dan politik, terus berlomba-lomba memakemkan kebahagiaan sebagai tujuan hidup yang utama. &lt;br /&gt;Manusia terkini pun tidak surut gairahnya dalam memulungi kebahagiaan, senantiasa mendayagunakan segenap akal budi, tenaga, bahkan jiwa untuk menggapainya. Sehingga pikiran dan perilakunya terlalu banyak disita oleh satu tujuan: meniti rasa bahagia dan menghindari rasa tidak bahagia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Laku manusia yang "menggilai" kebahagiaan itu justru disebut Jaya Suprana sebagai perjalanan menuju ketidakbahagiaan. Memberi gambaran sekaligus respon terhadap ikhtiar manusia yang mati-matian mengejar kebahagiaan, tetapi sebenarnya ia berada di jalan yang sama untuk menuju ketidakbahagiaan. Di mana kebahagiaan lumrahnya disandarkan pada perangkat-perangkat bendawi (kebendaan) yang mampu menyediakan alasan bagi timbulnya rasa bahagia. Ketika alasan yang mengondisikan rasa bahagia itu hilang, maka kebahagiaan itu juga luntur dengan sendirinya. Seperti seorang lelaki yang jatuh cinta pada perempuan karena kerupawanannya, ketika kecantikan itu sudah tampak ajeg dan membosankan, maka tak ada alasan lagi bagi lelaki tersebut untuk jatuh cinta.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Hidup ini panggung sandiwara. Tragedi atau komedi tergantung pada tafsir kita masing-masing terhadap adegan yang terjadi di panggung sandiwara itu," tulis Jaya Suprana (hlm 48). Objek atau suasana yang sama tidak mutlak membuat dua insan yang berbeda merasa bahagia. Taruhlah, berlari menempuh jarak 200 meter dalam waktu 10 menit bagi seseorang yang berkelebihan berat badan (obesitas) merupakan sebuah kesenangan atau kebanggaan. Tetapi bagi para atlit lari, hal itu merupakan sesuatu yang memalukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, bahagia atau tidak bahagia sejatinya merupakan hasil tafsir pikiran seseorang terhadap situasi yang dihadapinya. Happines is a state of mind: kebahagiaan adalah suatu pernyataan dari pikiran (hlm 60). Kebahagiaan tidak terlepas dari cara pandang seseorang dalam memaknai kebahagiaan sebelum memahami suatu keadaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pandangan itu mengisbatkan bahwa hanya manusia yang berani mendefiniskan kaidah kebahagiaan bagi diri sendirilah yang bisa mengolah rasa bahagia. Rasa bahagia niscaya muncul lebih awal sehingga baik-buruknya situasi dapat diolah menjadi kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rasanya buku ini hadir dengan misi khusus, dalam rangka membongkar cara pandang manusia terhadap kebahagiaan. Judulnya, “Pedoman Menuju Tidak Bahagia”, secara satir dan setengah berolok-olok, sebenarnya berupaya mendekonstruksi mind set kebahagiaan yang selama ini telah dipakemkan di dalam pikiran jamak orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Disarankan, orang-orang yang ingin menuju perasaan tidak bahagia harus menghindari sikap-sikap positif yang berbasis kasih sayang. Misalnya syukur, ikhlas, puas, realistis, aman, mafhum, humor, tertawa, percaya, damai, dan pengertian. Sebaliknya, seseorang harus mengembangbiakkan sikap-sikap destruktif bagi dirinya sendiri untuk tidak bahagia. Di antaranya dengki, tamak, pamrih, dendam, amarah, perfeksionis, persimis, curiga, dan serius. Jika ditilik dengan pembalikan perspektif, jadinya jika ingin merasa bahagia maka kita harus menempuh sikap-sikap positif yang berbasis pada cinta kasih dan menghindari perilaku-perilaku negatif yang merusak diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Secara filosofis, hasrat kebahagiaan merupakan suatu belenggu tersendiri yang membuat manusia tidak merdeka. Hasrat itu tidak akan pernah mencapai titik klimaks. Melainkan sekadar rangkaian miniklimaks yang justru membuat hasrat terus berlipat. Pada konteks ini, nilai-nilai Buddhhisme yang diajarkan Sidharta Gautama patut dijadikan refleksi. Kebahagiaan sejati bisa dicapai ketika manusia mampu membebaskan diri dari segala keinginannya. Suatu titik balik kebahagiaan, yang jika manusia dapat melewatinya, ia akan terbebas dari “keterjajahan” dari dirinya sendiri. (Musyafak Timur Banua)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-1457764656759941218?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/1457764656759941218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=1457764656759941218' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1457764656759941218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1457764656759941218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/titik-balik-kebahagiaan.html' title='Titik Balik Kebahagiaan'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-93IAUPwOSH4/TaQfqTSi7TI/AAAAAAAAAc4/67RMiWZ1gUU/s72-c/sampul+9789792796995.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-1734462734873879218</id><published>2011-04-06T01:17:00.000-07:00</published><updated>2011-04-06T01:23:29.740-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruanghalimun'/><title type='text'>pelajaran setelah rindu yang mahal itu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-_3E5sg7rQ_0/TZwhaNvqVYI/AAAAAAAAAco/4MKWT6uX8D8/s1600/pertemuan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-_3E5sg7rQ_0/TZwhaNvqVYI/AAAAAAAAAco/4MKWT6uX8D8/s320/pertemuan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;lalu kita kembali pada laut. pada angin  dan air yang berkejaran. saling tangkap dengan gelora dan berahi.  menjadi gelombang yang terus menyembir hingga tubir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;usai  rindu yang panjang dan mahal ini, aku ingin semuanya lisut dalam satu  ciuman. biarlah kalah segala resah dan gelisah. pada desah napas yang  menggegana.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;tapi kau biarkan semuanya jadi laut. kau  biarkan beberapa keinginan menggulungku. tak pula kau tutup nganga  palung-palung itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;saat kita kembali lagi ke daratan. pada  jalan yang mengarak jarak dan menyelisihkan letak. aku tau kau sedang  mengajariku satu hal:&amp;nbsp; rindu yang panjang dan sebuah pertemuan tak musti  dihabisi dengan ciuman.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;i&gt;21.02.2011&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-1734462734873879218?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/1734462734873879218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=1734462734873879218' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1734462734873879218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/1734462734873879218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/pelajaran-setelah-rindu-yang-mahal-itu.html' title='pelajaran setelah rindu yang mahal itu'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-_3E5sg7rQ_0/TZwhaNvqVYI/AAAAAAAAAco/4MKWT6uX8D8/s72-c/pertemuan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-2983989470151834351</id><published>2011-04-06T01:10:00.000-07:00</published><updated>2011-04-06T01:10:44.192-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruanghalimun'/><title type='text'>risalat malam, isyarat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-qY-hkx1GntI/TZwft-d-jhI/AAAAAAAAAck/XiEWoTA9LFU/s1600/malam.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-qY-hkx1GntI/TZwft-d-jhI/AAAAAAAAAck/XiEWoTA9LFU/s400/malam.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;: untuk Ody&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;barangkali kau  belum mengerti&lt;br /&gt;angin diam dinihari&lt;br /&gt;lebih dingin, ketimbang  rentam hujan&lt;br /&gt;yang menusuk tulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mustinya kau  belajar merasai&lt;br /&gt;terjaga yang menjadi sangat mimpi&lt;br /&gt;daripada  alambayang yang kau lelapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab kau memang tak kepingin&lt;br /&gt;biarkan  aku sendiri memeluk gelap&lt;br /&gt;mendekap sunyi yang lebih pengap&lt;br /&gt;dari  malam-malam sebelumnya&lt;br /&gt;malam yang membuatku lupa cara terlelap&lt;br /&gt;dan  bangun kelewat pagi dengan tergesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Desember 2010&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-2983989470151834351?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/2983989470151834351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=2983989470151834351' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/2983989470151834351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/2983989470151834351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/risalat-malam-isyarat.html' title='risalat malam, isyarat'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-qY-hkx1GntI/TZwft-d-jhI/AAAAAAAAAck/XiEWoTA9LFU/s72-c/malam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-2024974153901461039</id><published>2011-04-06T01:03:00.000-07:00</published><updated>2011-04-06T01:03:17.665-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruanghalimun'/><title type='text'>menanti derai</title><content type='html'>&lt;div class="clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-eLw1JJhJMis/TZweAYEl1BI/AAAAAAAAAcg/NzIB2hbbEwA/s1600/1_376309791l.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-eLw1JJhJMis/TZweAYEl1BI/AAAAAAAAAcg/NzIB2hbbEwA/s320/1_376309791l.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lama tak menjumputi kembang&lt;br /&gt;di  bibirmu&lt;br /&gt;menerawang bening mata&lt;br /&gt;yang menghimpun lanskap hidup&lt;br /&gt;terang  dan gulitanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku rindu, ceritamu&lt;br /&gt;tentang dunia  yang katamu ambigu&lt;br /&gt;tentang jalan dan rumah&lt;br /&gt;yang seolah tiada  mau&lt;br /&gt;saling mengingatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pun aku, kepingin sekali&lt;br /&gt;bercerita&lt;br /&gt;tentang  inginku&lt;br /&gt;merebah di rumah yang jembar dan benderang&lt;br /&gt;:  dadamu, itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;ujung desember 2010&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-2024974153901461039?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/2024974153901461039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=2024974153901461039' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/2024974153901461039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/2024974153901461039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/menanti-derai.html' title='menanti derai'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-eLw1JJhJMis/TZweAYEl1BI/AAAAAAAAAcg/NzIB2hbbEwA/s72-c/1_376309791l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-6797268223490836554</id><published>2011-04-06T00:50:00.000-07:00</published><updated>2011-04-06T00:50:59.294-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Eksperimen Gerimis, Itu (?)</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clearfix" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Diskusi Sastra Podjok Pendopo (DSPP) #19  yang digelar Open Mind Community (9/01/2011) mengangkat empat sajak  Janoary M Wibowo (Jano). &lt;em&gt;Aku Ke Gerimis Itu Sekarang, Kutulis  Gerimis Berkali Lagi, Ada yang Tetap Menetes Ketika Gerimis Berhenti, &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt;  Mengumpulkan Gerimis&lt;/em&gt;. Keempat sajak itu menggelar ‘gerimis’—tentu  gerimis yang bukan belaka denotatif, tetapi juga mencapai metafora.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Yang  membayangkannya sebagai serial (atau bahkan sekuel) sajak, tentu akan  menjadi ‘penonton yang kecewa’. Sebab keempat sajak tersebut adalah  satuan yang mengusung gagasan sendiri-sendiri, hanya saja seolah ada  satu tema (kata) yang menyatukannya: ‘gerimis’.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Andaipun  itu sebuah serial, kiranya ada banyak ‘penonton’ yang memaki karena  penyajiannya bertele-tele. Apa boleh buat, lumrah orang yang hadir dalam  diskusi itu sepertinya sepakat menganggap puisi Jano tidak bisa  mengatasi kelonggarannya. Karena seperti jamak diimani, kerja kata dalam  puisi adalah kerja pemadatan gagasan-rasa ke dalam kode-kode/  simbol-simbol bahasa yang sangkil-mangkus. Ya, tak boros atau  meruah-ruahkan kata—begitulah kerja kata dalam prosa. Meminjam istilah  Agung Hima, puisi tak semestinya basa-basi, apalagi &lt;em&gt;lebay&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;“Seandainya  saya Agus R Sarjono,” kata Galih Pandu Adi seraya terkekeh, “Maka ada  banyak kata, bahkan baris dan bait yang saya hilangkan dari puisi ini.”  Sebentar menilik ujaran Pandu, maka kerja teks puisi pastilah penuh  kehati-hatian.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kehati-hatian dalam konteks ini tentu punya  pengaruh bagi perjalanan kata-kata dan puisi itu sendiri, seperti  kata-kata, sekaligus logika bahasa, yang bertabrakan (kontradiksi).  Seperti diungkap Vivi Andriani, merujuk puisi &lt;em&gt;Mengumpulkan Gerimis&lt;/em&gt;  sebenarnya penyair masih ‘memperjalankan’ kata secara bertabrakan.  Bahkan Vivi menemukan kesalahan koherensi itu di dalam pembuka bait  pertama dan pembuka bait terakhirnya: &lt;em&gt;Karena aku dibesarkan oleh  janji-janji tak tertepati&lt;/em&gt; (bait pertama) dan &lt;em&gt;Jika aku  dibesarkan oleh janji-janji tak tertepati&lt;/em&gt;. Sebuah kerancuan yang,  menurut Vivi, musti diatasi penyair.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sementara, Kurniawan  Yunianto menampaki keempat puisi itu penuh dengan pemaksaan kata. Ada  bentukan metafora-metafora yang sangat dipaksakan. Seperti “&lt;em&gt;Sebab  pecahan langit masih berdetak&lt;/em&gt;” atau “&lt;em&gt;di tunas paling puncak&lt;/em&gt;”,  kata penyair yang akrab disapa KY ini, cukup sulit untuk dipahami.  Juga, ada pemaksaan rima seperti terjadi dalam baris &lt;em&gt;“ke daun yang  mulai mengering/ ke ujung paling genting/ lalu mengalir/ menjadi  bulir-bulir di pipimu yang ukir”&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Bagaimanakah pipi  yang ukir itu, Jano? Mungkinkah lesung pipit yang bak pauh dilayang di  pipi (calon/ mantan) kekasihmu itu berbentuk seperti ukiran? Tentunya,  subjektivitas Jano yang lebih memiliki kuasa untuk menjawabnya. Maka  pembentukan baris metaforis itu sepertinya nondialektis (mungkin  referensi pemahamannya kurang dekat dengan pembaca), kecuali mengejar  rima belaka.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Dalam beberapa baris &lt;em&gt;Mengumpulkan Gerimis&lt;/em&gt;,  Guri Ridola menemukan metafora yang bombastis. Pada “&lt;em&gt;Hampir habis  kulumat langit/ kukunyah bintang/ dan kugigit bulan&lt;/em&gt;”. Juga  kontradiksi yang tumbuh akibat ‘permainan’ bahasa yang dapat diambil  tamsil dari “&lt;em&gt;Menata gerimis yang kukumpulkan/ menjadi kapal  mengantar pulang/ menjadi kapal mengantar pelukan&lt;/em&gt;”.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;strong&gt;‘Ketergodaan’  Kata&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Agung menilai totalitas Jano tidak tampak dalam  keempat sajak ‘gerimis’ itu. Menurutnya, Jano masih memainkan pikirannya  tanpa perimbangan perasaan yang sudah &lt;em&gt;menep&lt;/em&gt; (mengendap). Lain  kata, penyair seperti sekadar berdialog dengan pikirannya sendiri:  asumsi, persepsi, dan pengetahuan dalam tararan idealisme. Penyair tak  mengalami itu sebagai peristiwa/ kenyataan utuh, kecuali sebuah pendulum  yang berayun di dalam pikiran.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;“Sebisa mungkin  berpuisilah dengan perasaan. Luapkan semua apa yang dirasakan, karena  itu bisa menjadi roh dalam setiap kata-katanya sehingga bisa lebih  dahsyat!” kata Agung.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Tentunya, pikiran dan perasaan tidak  perlu dikekas sebagai dikotomi yang bertolakbelakang. Keduanya  menentukan kesetimbangan kerja kreatif puisi. Sebagaimana dinyatakan  Musyafak, yang lebih penting adalah penyair mampu menguasai pikirannya  sendiri. Sadar kata, adalah juga sadar makna. Karenanya, di tengah  kata-kata yang meruah di dalam pikiran, tak semuanya harus diletakkan.  Musti ada penyaringan agar senarai kata-kata mampu mengejar makna yang  sejak awal menjadi ‘obsesi’ penyair.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Karenanya, Musyafak  menilai, Jano mengalami ketergodaan yang tak tuntas. Ketika ia menulis,  ia cenderung tergoda untuk menyertakan kata apa saja yang muncul dan  terasa enak tanpa kesadaran makna yang tertuju. Ketergodaan yang tak  tuntas itu juga berbentuk inspirasi kata atau ide yang didapat dari  membaca buku: ia mengusik, merayu, dan menjerat. Ya, kata dalam beberapa  hal telah menjadi seduksi membuat kita tak berkutik untuk tidak  mengenyahkannya. Inspirasi dari (dan bertolak) dari&amp;nbsp; manapun tentu sah,  tetapi sebelum dituliskan musti melewati proses perenungan panjang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Melihat  ketiga sajak ‘gerimis’ yang dituliskan Jano dalam rentang pendek (di  bulan Desember) itu sepertinya Jano tidak mengalami klimaks. Sehingga  ketika satu sajak pertama dianggap selesai, penyair masih merasa ada  sesuatu ganjalan di dalam pikirannya. Ganjalan itu lantas diterjemah dan  dituliskan dalam momentum reproduksi kata-kata yang mumpuni hingga  menjadi sajak anyar lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Jauh-jauh hari KY selalu  mengingatkan, dalam menulis puisi seorang penyair acapkali tergoda untuk  menjelaskan. Kata, menurut KY, musti disiasati untuk meningkatkan rasa  di dalam puisi. Yach, kata memang harus mengalami seleksi ketat agar  tidak terjerumus pada euforia-nya sendiri. Kata mesti dibendung,  begitukah?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pun demikian Agung. “Jika isi puisi sudah kuat, jangan  terlalu dipaksakan untuk menambah isi. Isi puisi harus padat, sehingga  tak banyak basa basi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;strong&gt;Kerja Eksperimen?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Proses  penciptaan puisi tidak sekadar kerja eksperimen, tetapi kerja  permenungan. Vivi meyakini hal itu. Memaut sajak-sajak Jano, Vivi  menilai penyair masih berpelik-pelik dalam kerja eksperimen. Kiranya,  penyingkapan vivi mengenai kerja permenungan itu memiliki pamrih tidak  sepele. Bahwasanya kerja permenungan tidak lain untuk memboboti puisi  dengan kepenuhan isi (gagasan dan rasa) puisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Pendapat  Vivi pun tidak bisa diamini begitu saja. Menurut Pandu, sajak-sajak  ‘gerimis’ itu sedikit banyak telah melewati kerja kontemplasi. Seperti  ditemukan Pandu bersama Guri dalam baris “&lt;em&gt;Apakah seperti ini cara  takdir bermain?/ Berpilin dari peristiwa satu ke yang lain?&lt;/em&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Eksperimen  itu, di mata Guri, lebih bertolak pada ikhtiar penyair untuk mencari  bentuk dari puisinya sendiri. Guri tak bisa mengelak, Jano masih  bertindak seolah ‘pemulung kata’. Puisi menjadi semacam kumpulan gagasan  yang didapatkan dari pemetikan kata-kata dari sesuatu (puisi, aforisma,  gagasan, teori, dan kata-kata umum) yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Namun,  eksperimen itu tentunya tidak bisa dibilang sebagai kerja ‘main-main’  saja. Barangkali, lebih tepat jika eksperimen itu menjadi sebuah sarana  identifikasi terhadap liyan-liyan untuk merumuskan identitas atau  kekhasan dirinya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Lantas, apa sebenarnya ‘gerimis’ yang  hendak digelar Janoary M Wibowo? Mestinya tak sekadar pengakuan penyair  yang ternyata cukup sederhana. “Ketika gerimis, saya tak memiliki  kesibukan, karenanya saya menulis puisi dan lahir seperti itu,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Begitu  sederhanakah? Kiranya tak! Jauh sebelum puisi-puisi gerimis itu kita  telah sedikit banyak menangkap puisi-puisi Jano yang sudah  memperlihatkan karakteristiknya: kenakalan cara pandang yang mungkin  terbalut filsafat dan kritik &lt;em&gt;popular culture&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Akhirnya,  “&lt;em&gt;Weng!!!&lt;/em&gt;” kata Pandu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;—&lt;b&gt;Musyafak Timur Banua&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;tulisan ini hasil notulensi diskusi  sastra podjok pendhopo #18 yang digelar Open Mind Community Semarang  pada 9 January 2011 di TBRS Semarang&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;﻿&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;NB: sajak-sajak  Janoary M Wibowo bisa dilihat di &lt;a href="http://www.facebook.com/event.php?eid=170809782954122" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.facebook.com/event.php?eid=170809782954122&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-6797268223490836554?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/6797268223490836554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=6797268223490836554' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/6797268223490836554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/6797268223490836554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/04/eksperimen-gerimis-itu.html' title='Eksperimen Gerimis, Itu (?)'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-938290197343203227</id><published>2011-03-31T20:57:00.000-07:00</published><updated>2011-03-31T20:57:01.596-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Kebangkrutan Masyarakat Penjara</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Oleh &lt;b&gt;Musyafak Timur Banua&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;(KoranOpini.com 28 Maret 2011)&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-3kJHzIomSV8/TZVL8sNEX-I/AAAAAAAAAcc/DgJAQlbu_Ck/s1600/penjara.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-3kJHzIomSV8/TZVL8sNEX-I/AAAAAAAAAcc/DgJAQlbu_Ck/s1600/penjara.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Isyarat kebangkrutan masyarakat penjara kembali terbeber dan menohok mata publik. Terendusnya sindikat narkotika internasional di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan menguakkan kembali ingatan publik tentang kebobrokan penjara di Indonesia. Ya, penjara seolah tidak henti memanggungkan ironi. Tempat yang mustinya menjadi ruang pembersihan diri bagi orang-orang terhukum justru menjadi lahan subur persemaian praktik-praktik korupsi dan amoral yang mengancam keadaban bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik-praktik penyimpangan moral dan hukum di LP tentu bukan hal baru. Ahmad Taufik dalam buku Penjara: The Untold Stories (2010) membeberkan citra penjara yang sejatinya penuh bercak dan borok. Buku kesaksian itu mendedahkan fakta-fakta penjara yang sarat dengan laku kriminal semisal transaksi narkoba, juga perilaku-perilaku asusila seperti transaksi seksual dan sodomi sesama jenis. Riwayat hitam penjara lainnya adalah cerita-cerita tentang kekejaman dan kekerasan, sering terbetik kabar narapidana dianiaya oleh sipir maupun sesama narapidana lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik juga menggambarkan bahwa masyarakat penjara tidak kalis korupsi. Sebagian narapidana rutin membagi-bagi amplop kepada para sipir untuk menebus keinginannya, termasuk keluar-masuk penjara tanpa diperkarakan oleh sanksi. Misalnya kasus pelarian Edi Tansil dari LP Cipinang (1996) yang melibatkan oknum pegawai penjara, “penyulapan” sel menjadi kamar mewah layaknya hotel di Rutan Pondok Bambu oleh Artalyta Suryani (2010)—beberapa waktu lalu Gayus HP Tambunan juga bebas keluar dari Mako Brimob Kelapa Dua untuk plesiran ke Bali hingga ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kebangkrutan Manusia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penjara memiliki pertalian erat dengan manusia, sebagai fragmen kehidupan yang darinya bisa dilacak pergolakan kemanusiaan di tiap-tiap zamannya. Penjara bukan sekadar deretan sel-sel kokoh sebagai tempat pembalasan kesalahan manusia-manusia di dalam negara-bangsa bertata hukum. Penjara juga tidak sekadar dimaknakan sebagai instrumen yang menjerakan manusia yang telah melanggar tata hukum. Tetapi penjara sekaligus menjadi “ruang belakang” bagi penegakan hukum dan keadilan setelah lembaga-lembaga hukum dan peradilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya penjara adalah tempat bagi orang-orang hukuman bangkit kembali untuk merumuskan diri dan kemanusiaannya. Mereka pernah mengalami kejatuhan kemanusiaan: melepas diri dari tanggungjawab sosial untuk menghargai keberadaan dan hak-hak liyan yang justru dirampasnya. Kejatuhan itu bernama laku pencederaan yang sarat faal-faal penganiayaan, juga mengacak-macak dan mengkhianati kontrak sosial yang telah dirumuskan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi realitas penjara kini seolah tidak berbeda dengan drama tentang pergulatan hidup manusia yang paradoks. Penuh ironi dan absurd! Ikhtiarnya mengembalikan manusia pada cita nurani yang lebih berkualitas sehingga patut disebut beradab, memulihkan pandangan hidup bermasyarakat yang telah diperosotkan, dan memahamkan kembali kontrak-kontrak sosial yang musti dijalani setelah keluar dari sistem pemasyarakatan itu, tetapi faktanya orang-orang penjara justru semakin mengalami keruntuhan. Mereka terkurung dalam dunia yang mendorongnya berbuat lebih jahat ketimbang kejahatan yang pernah dilakukannya di luar penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruknya sistem dan lemahnya kontrol terhadap LP mengondisikan para terhukum dan penghukum untuk bersekongkol mencerderai hukum. Sekongkol itu terwujud dalam praktik penyuapan dan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjara mustinya menjadi ruang putih untuk mencapai katarsis dan kebeningan bagi orang-orang hukuman. Bukannya justru menjadi medan di mana pelanggaran hukum dan susila terus berkembang dan membiak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borok-borok penjara mengisbatkan kebangkrutan manusia di dalamnya. Tidak hanya para aparat penegak hukum yang terus-menerus kalah dari ketergodaan bernama suap atau korupsi. Tetapi juga para penghuni penjara yang tidak bisa memaknai pengasingannya dari dunia ramai yang lebih luas. Penjara tidak menjadi ruang refleksi untuk menginsyafi pelbagai “dosa sosial” yang telah dilakukannya. Penjara justru membebani masyarakatnya dengan dosa-dosa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kemurahan dan Pemulihan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di balik itu penjara juga mengenal kemurahan hati. Sesuatu yang diberikan sukarela maupun bersyarat. Setiap tahun negara memberikan remisi kepada ribuan narapidana yang dianggap telah berubah dan bisa bermasyarakat dengan baik di dalam lembaga pemasyarakatan. Juga remisi yang berarti penghargaan kepada narapidana yang memiliki nilai khusus: jasa yang berguna bagi orang-orang lain di dalam penjara bahkan, jasa bagi negara. Lacurnya, kemurahan itu kadang terkotori pelbagai motif yang merusak asa-asas kesukarelaan dan penghargaan. Remisi berbalik menjadi pamrih ketika aparat hukum “main mata” dengan narapidana. Hal-hal lain turut berbicara: kekuasaan, jabatan, atau uang. Kemurahan hati dari penjara mesti mampu menjamin narapidana sudah benar-benar bersih diri. Ellis Boid Redding yang diperankan oleh Morgan Freeman dalam film The Shawshank Redemption (1994) menjawab kepada aparat penjara, “Aku sudah belajar. Aku bisa dengan jujur mengatakan aku sudah berubah. Aku tidak berbahaya untuk masyarakat. Benar-benar sudah direhabilitasi.” Redding terpidana 30 tahun penjara karena pembunuhan itu berlaku baik-baik selama berada di pemenjaraan. Meski pada akhirnya usulan pembebasan bersyarat untuknya ditolak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kebangkrutan penjara beriring dengan kebangkrutan manusianya musti dipulihkan. Penjara harus benar-benar menjalankan fungsi humanisnya untuk membentuk manusia berjiwa utuh, baik penghuni maupun penjaganya. Demi itu penjara harus bebas dari segala praktik korupsi yang sejatinya menjatuhkan diri sendiri dan liyan. Jika memang kebangkrutan ini sengaja dipelihara, sepertinya tidak perlu ada lembaga hukum maupun peradilan di negeri ini. Begitukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Musyafak Timur Banua,&lt;/b&gt; &lt;i&gt;aktivis di Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LeKAS) Semarang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-938290197343203227?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/938290197343203227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=938290197343203227' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/938290197343203227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/938290197343203227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/03/kebangkrutan-masyarakat-penjara.html' title='Kebangkrutan Masyarakat Penjara'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-3kJHzIomSV8/TZVL8sNEX-I/AAAAAAAAAcc/DgJAQlbu_Ck/s72-c/penjara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-3625952306044086611</id><published>2011-03-20T00:00:00.000-07:00</published><updated>2011-03-31T21:11:28.958-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamaresai'/><title type='text'>Ketersisihan Sawah dan Identitas Jawa</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Oleh MUSYAFAK TIMUR BANUA&lt;br /&gt;(Suara Merdeka 20 Maret 2011) &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Sawah memiliki peranan penting dalam mengolah watak manusia Jawa. Sawah tidak sekadar areal pertanian atau pencaharian, tetapi sekaligus menjadi medan pembentukan identitas manusianya. Sawah seolah panggung yang mementaskan pelbagai kebudayaan sekaligus kearifan Jawa. Dari sawah dapat dilacak pandangan hidup, rasa dan laku, serta spiritualitas dan mistik manusia Jawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Sawah merupakan seting sosial kedua setelah kampung bermukim masyarakat Jawa. Masyarakat sawah adalah corak masyarakat produktif yang sarat kerja. Pekerjaan sawah tergolong berat sehingga tidak cukup menjadi tanggungan pribadi pemiliknya, meski sang pemilik punya otoritas atas lahannya. Sebaliknya, pekerjaan sawah melibatkan tenaga banyak orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Kerja pertanian tidak terbatas pada ikhtiar alamiah untuk memproduksi pangan, tetapi juga meniscayakan terjadinya kontak fisik dan psikis para penggarapnya. Sawah dengan sendirinya memolakan sebuah relasi “masyarakat kecil” para pemilik dan pekerja (buruh tani). Relasi orang-orang di dalamnya mengisbatkan struktur paguyuban yang khas dan turut memperkuat hubungan mereka di seting sosial pertama, yakni tempat bermukim yang lebih luas dan kompleks.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Jakob Sumardjo, Arkeologi Budaya Indonesia (2002), memandang sawah sebagai organisasi kerja berskala besar. Organisasi kerja ini mementingkan laku produktif dalam bingkai komunalitas, kolektif, dan saling bergantungan satu sama lain. Organisasi kerja di sawah merupakan prototipe masyarakat berkesadaran lokalitas dan solidaritas yang kuat. Solidaritas itu mencakup berbagai etika kerajinan, profesi, dan kerja sama yang menjadi landasan moral dalam memaknai hierarki ruang serta hubungan sosialnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Laku hidup masyarakat petani berbeda dengan masyarakat peramu, pemburu, atau nelayan yang cenderung berwatak konsumtif karena memandang kerja sebagai ajang “mengunduh” anugerah alam. Tetapi corak masyarakatnya egaliter karena masing-masing individu tidak diikat oleh relasi kuasa atas-bawah seperti halnya relasi pemilik dan buruh di sawah. Pedalaman diri  (psikologi) masyarakat sawah cenderung serius karena tuntutan target produksi. Sementara masyarakat peramu atau pemburu condong humoristik karena keterbatasan diri dalam mengunduh hasil alam yang terberi, melahirkan sifat cenderung manja.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Begitu, sawah menjadi genesis infrasutruktur penghidupan yang menentukan pandangan primordial masyarakat petani dalam memaknai ruang sosialnya. Tentunya, pandangan primordial di nusantara begitu plural bergantung pada genius lokal masing-masing di suatu masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Harmonitas&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Sawah juga membentuk world view (pandangan dunia) manusia Jawa. Aktivitas cocok tanam melahirkan persepsi yang melimpah tentang alam. Menuntun masyarakat petani pada kesadaran ekologis yang memandang dunia digerakkan oleh prinsip-prinsip harmonitas. Kesadaran ekologis tersebut lantas mengarung pada kesadaran kosmologis. Memahamkan diri pada tata kosmos sehingga mampu memosisikan peran secara tepat di dalam relasi-relasi kosmos.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Paul Stange (1998) menengarai prinsip harmonitas menjadi penekanan dalam pandangan hidup masyarakat petani di Jawa pada umumnya. Keselarasan, kedamaian, keseimbangan, dan konsensus telah menggairahkan kesadaran manusia Jawa secara terus-menerus. Justus van der Kroef menyebutnya statis-seeking mechanism (mekanisme pencari statis) yang merupakan obsesi manusia terhadap keseimbangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Kesadaran kosmologis mengantarkan manusia Jawa pada kesadaran religius. Tata kosmos yang harmonis ini diciptakan dan diatur oleh kekuasaan adikodrati, Sang Pencipta, sebagai causa prima. Keyakinan ini melahirkan berbagai ritual mistik. Misalnya, sedekah bumi, resik deso (bersih desa), nyiwer (mengelilingi sawah seraya bermantra), slametan (upacara doa bersama) dan sebagainya. Perayaan mistik itu bertujuan demi mempertahankan harmonitas relasi antara manusia, alam, dan Pencipta.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Mistik masyarakat sawah dapat pula ditemukan dalam mitologi Dewi Sri atau Dewi Padi. Figur Sri dihayati sebagai penguasa kesuburan yang perannya sentral dalam kerja cocok tanam masyarakat Jawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Tetapi Sri tidak sekadar sosok figuratif yang mengendalikan kesuburan. Sri dianggap figur yang menyatukan alam dan budaya yang melindungi padi dan rumah (Revianto Budi Santosa, 2000). Sawah dan rumah merupakan dua instalasi kebudayaan yang tidak dapat diceraikan. Disharmonitas alam sawah akan menggoyahkan harmonitas rumah tangga yang berhajat pada pangan, begitu juga sebaliknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Keterpinggiran&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Negara kini luput membincangkan sawah dalam acuan arkeologis-filologis yang menyasar pada identitas kebangsaan. Negara lebih memusatkan perbincangan pada wacana swasembada pangan yang sebenarnya hanyalah “template politik” pemerintah dalam mengatur pangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Bangkrutnya perbincangan tentang sawah berbanding lurus dengan menyempitnya ekstensi sawah di tengah perayaan pembangunan. Industrialisasi begitu gegap-gempita melibatkan kapital berskala global. Kini sawah seolah terpinggirkan dan tidak diijinkan berkembang, tergusur oleh perkembangbiakan gedung-gedung yang menjadi proyek instalasi industri. Gelagat ini dapat ditilik pula dalam ancangan kebijakan negara yang lebih memacu pertumbuhan ekonomi industri riil ketimbang memihak pertanian. Padahal bangsa-negeri ini tumbuh berkembang di dalam jalinan genetika agraria.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Ketersisihan sawah menjadi penanda keterpinggiran identitas Jawa. Identitas Jawa tersisih dari cerapan kebudayaan yang digerakkan oleh modal secara besar-besaran. Kapital asing menyusupi sendi-sendi negeri ini bukan hanya dalam bentuk investasi ekonomi, tetapi juga investasi kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Geliat modal asing yang ditandai Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 1967 turut membukakan pintu selebar-lebarnya bagi masuknya budaya Barat yang tampaknya kini lebih mendominasi keadaban masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Proyek industrialisasi semakin sukses menggusur sawah, seolah persis penggusuran identitas manusia Jawa sepetak demi sepetak. Dan, tragis itu tinggal menunggu waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Musyafak Timur Banua, pegiat Komunitas Sastra Soeket Teki dan Openmind Community Semarang&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9028174710815892612-3625952306044086611?l=kalam-putih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalam-putih.blogspot.com/feeds/3625952306044086611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9028174710815892612&amp;postID=3625952306044086611' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3625952306044086611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9028174710815892612/posts/default/3625952306044086611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalam-putih.blogspot.com/2011/03/ketersisihan-sawah-dan-identitas-jawa.html' title='Ketersisihan Sawah dan Identitas Jawa'/><author><name>Musyafak Timur Banua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00555504285394809930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_s-cp0eSUXQI/TQjdvwzx0YI/AAAAAAAAAXU/1Ve95VYrnzw/S220/profil%2Bblog.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9028174710815892612.post-5518710032560891755</id><published>2011-03-09T21:32:00.000-08:00</published><updated>2011-03-09T21:32:29.934-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terasartikel'/><title type='text'>Tobat Korupsi, Tobat Melarat</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Oleh Musyafak Timur Banua&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;( Sinar Harapan 23 Februari 2011)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kemiskinan yang menjerat rakyat Indonesia terasa  semakin berlarat-larat. Barangkali rakyat kecil sudah terlalu bosan pada  kemelaratan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Sekian lama menerima ke­nyataan hidup dalam tekanan ekonomi  
